Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan hasil pemeriksaan laboratorium terkait kasus keracunan massal dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Semarang dan Papua.
Hasil uji laboratorium menemukan bakteri Escherichia coli (E.coli) pada sejumlah sampel makanan.
Budi mengatakan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) langsung menerjunkan tim setelah menerima laporan kasus keracunan. Hasil pemeriksaan laboratorium kini telah rampung dan menjadi bahan evaluasi bersama Badan Gizi Nasional (BGN).
“Begitu ada keracunan, Kementerian Kesehatan sudah turun. Laporannya sudah ada, hasil lab-nya juga sudah ada. Jadi memang kita identifikasi ada beberapa makanan yang ada bakteri E.coli-nya,” tutur Budi dalam konferensi pers di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Rabu (5/8).
Menurut Budi, Kemenkes juga telah mengidentifikasi titik permasalahan dalam proses penyelenggaraan makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Temuan tersebut telah disampaikan kepada BGN sebagai bahan evaluasi dan perbaikan.
“Kita juga sudah melihat masalahnya dan prosesnya di mana. Kita juga sudah memberikan masukan ke BGN mengenai masalah-masalah yang terjadi di SPPG tersebut,” ujar Budi.
BGN Dinilai ResponsifDalam kesempatan yang sama, Budi menilai Kepala BGN Sudaryono terbuka terhadap berbagai masukan untuk memperbaiki pelaksanaan Program MBG.
“Saya pribadi melihat sekarang Pak Sudaryono ini jauh sangat responsif, jauh sangat terbuka, sehingga kalau dapat masukan itu cepat sekali merespons,” terang dia.
Budi menambahkan, BGN juga berkomitmen mempercepat pemenuhan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) di seluruh dapur MBG sebagai upaya memperkuat keamanan pangan.
“Memang kita juga tadi duduk bersama mengajak masukan dari para ahli, karena ini kan sudah banyak SPPG-nya. Ada saja selalu kekurangan-kekurangan dari sisi SLHS. Saya sudah dapat komitmen dari beliau, beliau akan pastikan itu semuanya dapat dalam waktu yang relatif cepat,” kata Budi.
Ia berharap hasil evaluasi tersebut dapat mencegah terulangnya kasus serupa pada masa mendatang.
“Tapi bagaimana caranya kita bisa mencegah supaya ini enggak terjadi lagi, kan kemungkinan terjadi itu ada. Beliau juga tadi bertanya secara terbuka terhadap para ahli, ada saran-saran apa,” ucap dia.





