JAKARTA, KOMPAS.TV- Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (Celios), Media Wahyudi Askar, mengatakan kondisi kemiskinan di wilayah pedesaan masih menjadi persoalan serius.
Ia menyebut kenaikan indeks keparahan kemiskinan di desa menunjukkan kelompok masyarakat paling miskin justru semakin tertinggal.
Media menyampaikan, indeks keparahan kemiskinan di pedesaan meningkat sekitar 6 persen. Kondisi itu mengindikasikan ketimpangan di antara kelompok masyarakat miskin di desa semakin melebar.
Baca Juga: BPS Sebut Kemiskinan Turun ke 8,07 Persen, tapi Ketimpangan Pengeluaran Naik
"Indeks keparahan kemiskinan di pedesaan justru naik 6 persen di desa. Jadi, ketimpangan antarpenduduk miskin di desa makin besar. Kelompok yang paling miskin justru semakin tertinggal," kata Media dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari perubahan penerima bantuan sosial hingga berkurangnya anggaran dana desa untuk program-program produktif.
Beberapa kelompok masyarakat juga tidak lagi menerima sejumlah program bantuan sosial.
Selain itu, jumlah penerima berbagai bantuan, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK), maupun beasiswa, dinilai tidak mengalami peningkatan signifikan dalam setahun terakhir.
Baca Juga: BPS soal Garis Kemiskinan: Bukan Rp669 Ribu per Orang, tapi Rp3,09 Juta per Rumah Tangga
Ia juga menyinggung berkurangnya dana desa yang sebelumnya digunakan untuk mendukung kegiatan padat karya.
Penulis : Dina Karina Editor : Gading-Persada
Sumber :
- kemiskinan desa
- dana desa
- kopdes merah putih
- ekonomi desa





