JAKARTA, KOMPAS.com - Polda Metro Jaya mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh desas-desus mengenai potensi kerusuhan pada Agustus 2026 yang belakangan ramai beredar di ruang digital.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto meminta masyarakat lebih bijak memilah informasi dan tidak langsung mempercayai setiap unggahan yang beredar di media sosial.
"Kalau hanya terkait kritik tidak ada masalah, tapi kalau sudah ke arah provokasi, sehingga persepsi dan psikologis ini terbawa untuk melakukan sesuatu perbuatan," kata Budi Hermawan dikutip dari tayangan Kompas TV dalam program Satu Meja "Desas Desus Rusuh Agustus", Rabu (5/8/2026).
Baca juga: Mengapa Mal Ramai Pasang Pagar? TGPF Sebut Trauma 1998 Masih Membekas
Menurut Budi, masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam menyikapi berbagai prediksi maupun spekulasi yang belum tentu memiliki dasar yang jelas.
"Kami Polda Metro Jaya selalu akan menyampaikan situasi terkini. Dan sampai detik ini kami sampaikan bahwa situasi Jakarta masih aman dan kondusif, dan seluruh masyarakat dapat melakukan aktivitas seperti semula," ujar Budi.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah ramainya spekulasi mengenai potensi kerusuhan pada Agustus 2026 yang memicu berbagai reaksi di masyarakat, termasuk munculnya fenomena pemasangan pagar tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta dan sekitarnya.
Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kerusuhan 1998 Prof Hermawan Sulistyo menilai respons tersebut tidak bisa dilepaskan dari trauma sebagian pelaku usaha terhadap peristiwa kerusuhan Mei 1998.
"Kalau dari perspektif pengusaha, pemilik mal, itu wajar saja. Karena referensi utama mereka adalah tahun 1998, bagaimana mal-mal dijarah," kata Hermawan.
Baca juga: Mengapa Pagar Mal Kasablanka Bikin Heboh? Pakar Soroti Cara Komunikasi Pemerintah
Meski demikian, Hermawan menegaskan kondisi saat ini berbeda jauh dibandingkan 1998. Menurut dia, perkembangan internet telah mengubah pola penyebaran informasi sekaligus mobilisasi massa.
"Dulu tidak ada internet, sekarang internet. Internet bisa menyebarkan hoaks, berita bohong. Dia bisa menjadi instrumen konsolidasi gerakan untuk demo, tetapi di sisi lain juga menjadi media komunikasi yang bocor ke mana-mana," ujarnya.
Ia menilai keresahan yang muncul belakangan bukan semata dipicu isu demonstrasi, melainkan juga dipengaruhi kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang membuat sebagian masyarakat merasa tidak nyaman.
"Semua ini bisa terjadi karena suasana politik, sosial, ekonomi yang tidak nyaman. Makin hari makin tidak nyaman," kata Hermawan.
Karena itu, ia menilai pemerintah memiliki tanggung jawab menjaga situasi tetap kondusif dengan meredam berbagai faktor yang dapat memicu keresahan. Di sisi lain, aparat keamanan juga harus mampu mencegah munculnya pemicu yang dapat memperbesar eskalasi situasi.
Baca juga: Pagar Mal Kota Kasablanka: Dipasang, Viral, lalu Dibongkar
"Misalnya ada demo hanya 30 orang, lalu ada yang ditembak sampai meninggal. Nah, itu bisa menjadi pemicu. Pasti menjadi pemicu," ucapnya.
Hermawan juga mengingatkan agar publik tidak buru-buru menyimpulkan adanya pihak tertentu yang sengaja menebar ketakutan di balik fenomena pemasangan pagar tinggi di sejumlah mal.





