JAKARTA, KOMPAS.com - Sopir angkutan kota (angkot) M44 Kampung Melayu-Karet mengaku pendapatannya menurun sejak trayeknya tumpang tindih dengan rute JakLingko 48A.
Kondisi itu menjadi salah satu alasan para sopir menggelar aksi di depan Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Koordinator Lapangan M44 Suwadi mengatakan, pendapatan sopir turun hingga sekitar 70 persen sejak JakLingko 48A beroperasi di jalur yang sama.
Baca juga: Sopir Angkot 44 Mogok Operasi di Tebet Jaksel gara-gara JakLingko
"Jadi (turun) drastis (pendapatan sopir), bisa 70 persen. Sampai rekan-rekan sopir ini sampai enggak dapet duit buat bayar kontrakan. Jangankan bayar kontrakan, buat makan anak aja sia-sia, kan gitu kan," ungkap dia saat diwawancarai Kompas.com di depan Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Sebelum kondisi tersebut terjadi, pendapatan para sopir M44 sekitar Rp2 00.000 per hari. Kini, pendapatan mereka disebut hanya berkisar Rp50.000 per hari.
Keluhan serupa disampaikan sopir M44 lainnya, Darto. Ia mengaku pendapatannya terus menurun sejak sekitar 2,5 tahun terakhir.
"Ya tadi pendapatan kan zaman dulu kan Rp 200.000, sekarang Rp50.000 aja terpaksa. Apalagi Sabtu-Minggu, bisa setor, enggak ngisi bensin, enggak bisa makan," keluhnya.
Darto mengatakan para sopir tidak menuntut penghapusan layanan JakLingko.
Menurut dia, yang diinginkan para sopir adalah JakLingko 48A kembali melintasi rute sesuai hasil survei awal.
Baca juga: Sopir Angkot 44 Demo di Balai Kota, Protes Trayek Tumpang Tindih dengan JakLingko
"Kalau masalah hapus, saya enggak bisa. Terus, yang dari rute pertama tadi saya jelasin, belokin dari rute pertama JakLingko, itu mintanya semua driver sopir. Dari survei pertama, harus sopir yang pertama," tambah dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang