Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto menyoroti dugaan tenaga kesehatan (nakes) menghina pasien BPJS bernama Yurizal Tri Chaerawan. Edy menilai kasus tersebut harus menjadi momentum untuk mengevaluasi tata kelola pelayanan kesehatan secara menyeluruh.
"Kasus ini harus dilihat secara utuh. Kita tentu berduka atas meninggalnya pasien. Namun yang lebih penting adalah memastikan penyebabnya dipelajari secara objektif agar menjadi pembelajaran nasional dan tidak terulang di tempat lain," ujar Edy kepada wartawan, Kamis (6/8/2026).
Menurutnya, keterbatasan ruang rawat inap bisa terjadi di rumah sakit mana pun. Namun, dia menegaskan jika hal itu tak boleh dibiarkan.
"Bila ruang rawat tidak tersedia, sistem harus segera bekerja mencarikan solusi melalui mekanisme rujukan yang cepat, terkoordinasi, dan transparan," katanya.
Menurutnya, kasus tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tak hanya butuh penambahan fasilitas kesehatan. Namun, juga pembenahan tata kelola pelayanan.
Politikus PDIP ini mengatakan pemerintah perlu mempercepat integrasi sistem informasi ketersediaan tempat tidur secara real time. Maka dengan begitu, rumah sakit, BPJS Kesehatan, dan fasilitas rujukan dapat mengambil keputusan berdasarkan data yang sama.
"Audit pelayanan bukan untuk mencari kambing hitam, tetapi menemukan akar masalah. Setiap kasus serius harus menjadi bahan pembelajaran nasional agar menghasilkan perbaikan sistem, bukan sekadar pergantian orang," ujarnya.
(amw/maa)





