UB Latih Warga Kabupaten Malang Olah Sampah Organik Jadi Produk Bernilai Ekonomi

beritajatim.com
1 jam lalu
Cover Berita

Ringkasan Berita:

Malang (beritajatim.com) – Tim Hibah Pemberdayaan Berbasis Wilayah (PBW) BIMA Universitas Brawijaya (UB) meluncurkan rangkaian pelatihan bertajuk “Menuju Desa Nol Sampah: Strategi Dekarbonisasi Pengelolaan Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular” di Kabupaten Malang. Program tersebut membekali masyarakat dengan keterampilan mengolah limbah organik menggunakan dua metode biokonversi, yakni Black Soldier Fly (BSF) atau maggot dan vermicomposting berbasis cacing tanah.

Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan sampah organik yang lebih ramah lingkungan sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Limbah dapur dan limbah peternakan didorong untuk diolah menjadi produk bernilai guna seperti pakan ternak alternatif dan pupuk organik.

Ketua Tim Hibah BIMA UB, Dr. Ir. Rita Parmawati, S.P., M.E., IPU., ASEAN Eng., mengatakan keberhasilan program dekarbonisasi di tingkat masyarakat sangat ditentukan oleh alih teknologi yang tepat serta pendampingan yang berkelanjutan.

“Melalui kegiatan ini kami ingin masyarakat memiliki keterampilan nyata dalam mengolah limbah organik. Sampah yang selama ini dianggap sebagai permasalahan dapat diolah menjadi sumber daya yang bernilai sehingga memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujar Rita, Kamis (6/8/2026).

Menurut Rita, transfer pengetahuan harus dibarengi dengan penyediaan sarana pendukung agar perubahan perilaku masyarakat dalam memilah dan mengolah sampah dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Pada sesi materi teknis, Pakar Teknik dan Manajemen Lingkungan Universitas Brawijaya, Yasa Palaguna Umar, S.TP., M.Sc., Ph.D., menjelaskan proses pengolahan limbah organik menggunakan teknologi BSF. Ia memaparkan tahapan budidaya maggot, mulai dari pengelolaan media hingga optimalisasi kemampuan larva dalam mengurai limbah organik.

“Teknologi BSF ini mampu mempercepat rantai pemprosesan limbah organik secara signifikan. Selain itu, larva yang dihasilkan mengandung protein tinggi sehingga sangat potensial dijadikan pakan alternatif untuk perikanan dan peternakan warga,” terang Yasa.

Sementara itu, pakar pengolahan limbah Universitas Brawijaya, Fajri Anugroho, S.TP., M.Agr., Ph.D., membahas teknik vermicomposting dengan memanfaatkan cacing tanah sebagai pengurai limbah organik menjadi pupuk berkualitas tinggi.

Menurutnya, keberhasilan metode tersebut sangat dipengaruhi oleh komposisi media tanam dan kelembapan yang sesuai bagi kehidupan cacing.

“Keberhasilan vermicomposting ditentukan oleh formulasi media dan pemeliharaan kelembapan lingkungan hidup cacing. Pupuk organik yang dihasilkan dari proses ini tidak hanya menyuburkan tanaman, tetapi juga efektif memulihkan struktur hara tanah guna mendukung iklim pertanian berkelanjutan,” ujarnya.

Sebagai bentuk pendampingan berkelanjutan, Tim Hibah BIMA UB juga menyerahkan berbagai bantuan sarana dan prasarana pengolahan sampah kepada masyarakat.

Bantuan tersebut meliputi mesin pencacah limbah organik, rumah maggot, fasilitas vermicomposting, serta bibit awal berupa larva BSF dan cacing tanah agar masyarakat dapat langsung mempraktikkan teknologi yang telah dipelajari.

“Bantuan penunjang meliputi unit mesin pencacah limbah organik, bangunan rumah maggot, fasilitas vermicomposting, hingga bibit awal berupa larva BSF dan cacing tanah. Dukungan sarana fisik ini disiapkan agar warga dapat langsung mempraktikkan alur pengolahan sampah secara mandiri tanpa terbentur keterbatasan alat,” jelas Rita.

Pelatihan yang dihadiri jajaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang, Kepala Desa Ngabab beserta perangkat desa, serta kelompok masyarakat berlangsung interaktif. Peserta aktif berdiskusi mengenai teknik biokonversi, pemilahan sampah rumah tangga, hingga peluang pengembangan usaha dari produk pupuk organik dan pakan ternak.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat, Tim BIMA Universitas Brawijaya optimistis penerapan teknologi BSF dan vermicomposting mampu mengurangi volume sampah organik secara signifikan sekaligus memperkuat ekonomi sirkular di tingkat desa.

“Program kami proyeksikan menjadi pijakan nyata menuju terwujudnya rintisan Desa Nol Sampah (Zero Waste) yang mandiri, produktif, dan berwawasan lingkungan di Kabupaten Malang,” pungkas Rita. [dan/beq]


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gibran Cek Progres Jembatan Teupin Mane Aceh, Target Rampung Agustus
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Mencari Keadilan di Balik Gugatan Delay Penerbangan
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Tumbuh 4,11 Persen, Pembiayaan Komersial Bank Mega Syariah Tembus Lebih dari Rp5,9 Triliun
• 18 jam laluidxchannel.com
thumb
Menkes tegaskan perbaikan layanan usai kasus pasien BPJS viral
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Purbaya Ungkap Alasan Kemenkeu Ambil Alih Saham Whoosh, Bakal Lanjutkan Proyek ke Jatim
• 4 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.