PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan saham PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR) dan PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) berstatus High Shareholding Concentration (HSC) atau kepemilikan saham dengan tingkat konsentrasi tinggi.
Penetapan tersebut tertuang dalam pengumuman bersama yang ditandatangani Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Yulianto Aji Sadono dan Direktur PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Eqy Essiqy pada 4 Agustus 2026.
Status HSC diberikan berdasarkan hasil evaluasi struktur kepemilikan saham, baik dalam bentuk warkat maupun tanpa warkat, per 31 Juli 2026. Hasil evaluasi menunjukkan mayoritas saham AGAR dan ALKA dikuasai oleh sekelompok pemegang saham.
Secara rinci, kelompok pemegang saham tersebut menguasai sekitar 99,32% saham AGAR dan 98,21% saham ALKA.
Aji menegaskan penetapan status HSC bukan berarti terdapat pelanggaran terhadap ketentuan di pasar modal. Informasi tersebut disampaikan sebagai bentuk transparansi agar investor mengetahui tingkat konsentrasi kepemilikan saham suatu emiten.
"Pengumuman ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku di bidang pasar modal," tulis Aji dalam pengumuman tersebut, dikutip Kamis (6/8/2026).
Baca Juga: BEI Masukkan 6 Emiten ke Daftar Pemantauan Khusus karena Free Float Rendah
Baca Juga: Demutualisasi BEI Masuk Babak Akhir, OJK Bidik Rampung September
Baca Juga: Saham TRUK Masuk Radar BEI, Investor Diminta Waspada
Dengan masuknya AGAR dan ALKA ke dalam daftar tersebut, jumlah emiten yang berstatus HSC di BEI kini bertambah menjadi 53 perusahaan. Berikut daftarnya:
- PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) - 99,99%
- PT DCI Indonesia Tbk (DCII) - 99,96%
- PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) - 99,95%
- PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) - 99,95%
- PT Golden Flower Tbk (POLU) - 99,94%
- PT Soho Global Health Tbk (SOHO) - 99,93%
- PT Bank Permata Tbk (BNLI) - 99,92%
- PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) - 99,91%
- PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) - 99,85%
- PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY) - 99,84%
- PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) - 99,78%
- PT FAP Agri Tbk (FAPA) - 99,77%
- PT Ifishdeco Tbk (IFSH) - 99,77%
- PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) - 99,58%
- PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) - 99,42%
- PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT) - 99,41%
- PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) - 99,24%
- PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE) - 99,21%
- PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) - 99,14%
- PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) - 98,90%
- PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL) - 98,62%
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) - 98,50%
- PT Hoffmen Cleanindo Tbk (KING) - 98,40%
- PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) - 98,35%
- PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) - 98,06%
- PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) - 98,03%
- PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) - 97,75%
- PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII) - 97,62%
- PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG) - 97,35%
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) - 97,31%
- PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) - 97,21%
- PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI) - 97,02%
- PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) - 96,70%
- PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM) - 96,09%
- PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) - 95,94%
- PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) - 95,82%
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) - 95,76%
- PT Bank Mega Tbk (MEGA) - 95,68%
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) - 95,65%
- PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) - 95,35%
- PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) - 95,08%
- PT Hotel Fitra International Tbk (FITT) - 95,00%
- PT Siantar Top Tbk (STTP) - 94,95%
- PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) - 94,79%
- PT Kota Satu Properti Tbk (SATU) - 94,27%
- PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) - 94,10%
- PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) - 93,83%
- PT Mahkota Group Tbk (MGRO) - 93,76%
- PT MD Entertainment Tbk (FILM) - 92,98%
- PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) - 92,71%
- PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) - 96,64%
- PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR) - 99,32%
- PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) – 98,21%





