Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur mulai menggencarkan program skrining Tuberkulosis (TBC) yang terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG), yang menyasar 77 ribu lebih warga.
"Ada 778 titik lokasi fokus (lokus) yang tersebar di seluruh Jakarta Timur. Setiap titik menargetkan 100 warga, sehingga total ada 77.800 orang yang disasar untuk menekan angka kasus TBC," kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Jakarta Timur Fauzi di Jakarta, Kamis.
Fauzi menyebut, skrining ini menjadi salah satu pekerja rumah (PR) bersama para camat dan lurah untuk keterlibatan satu lokasi fokus (lokus) dalam rangka menekan orang yang terindikasi penyakit TBC.
"RPTRA Cililitan merupakan satu dari 778 titik lokasi fokus (lokus), yang disasar untuk menekan angka kasus TBC secara signifikan. Setiap titik lokus ditargetkan 100 warga mengikuti skrining," ujarnya.
Selain melakukan deteksi dini, edukasi kepada masyarakat juga harus terus dilakukan untuk menghilangkan stigma negatif terhadap penderita TBC. Stigma negatif sering kali membuat pasien TBC dikucilkan atau terisolasi dari lingkungan sekitarnya.
"Terpenting dari kegiatan ini yaitu keterlibatan masyarakat karena masih ada stigma ketika orang terkena TBC, yang lain takut bergaul, dan terkesan diasingkan," ujar Fauzi.
Melalui skrining ini, dia mengimbau warga untuk tidak takut berobat demi memutus rantai penularan sejak dini. Pencegahan juga dilakukan dengan konsisten menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan menjaga kesehatan.
"Dari kegiatan ini kita bangun pemahaman kepada warga masyarakat ketika mereka terindikasi penyakit TBC harus segera memeriksa diri dan cepat diobati, agar cepat tertangani dan tidak menular ke yang lainnya," ucapnya.
Baca juga: CKG di Jaktim terintegrasi dengan skrining TBC
Baca juga: DKI kenalkan JakScan untuk skrining risiko tuberkulosis
Baca juga: Sebanyak 42.826 warga terduga pengidap TBC terlayani di Jakbar
"Ada 778 titik lokasi fokus (lokus) yang tersebar di seluruh Jakarta Timur. Setiap titik menargetkan 100 warga, sehingga total ada 77.800 orang yang disasar untuk menekan angka kasus TBC," kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Jakarta Timur Fauzi di Jakarta, Kamis.
Fauzi menyebut, skrining ini menjadi salah satu pekerja rumah (PR) bersama para camat dan lurah untuk keterlibatan satu lokasi fokus (lokus) dalam rangka menekan orang yang terindikasi penyakit TBC.
"RPTRA Cililitan merupakan satu dari 778 titik lokasi fokus (lokus), yang disasar untuk menekan angka kasus TBC secara signifikan. Setiap titik lokus ditargetkan 100 warga mengikuti skrining," ujarnya.
Selain melakukan deteksi dini, edukasi kepada masyarakat juga harus terus dilakukan untuk menghilangkan stigma negatif terhadap penderita TBC. Stigma negatif sering kali membuat pasien TBC dikucilkan atau terisolasi dari lingkungan sekitarnya.
"Terpenting dari kegiatan ini yaitu keterlibatan masyarakat karena masih ada stigma ketika orang terkena TBC, yang lain takut bergaul, dan terkesan diasingkan," ujar Fauzi.
Melalui skrining ini, dia mengimbau warga untuk tidak takut berobat demi memutus rantai penularan sejak dini. Pencegahan juga dilakukan dengan konsisten menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan menjaga kesehatan.
"Dari kegiatan ini kita bangun pemahaman kepada warga masyarakat ketika mereka terindikasi penyakit TBC harus segera memeriksa diri dan cepat diobati, agar cepat tertangani dan tidak menular ke yang lainnya," ucapnya.
Baca juga: CKG di Jaktim terintegrasi dengan skrining TBC
Baca juga: DKI kenalkan JakScan untuk skrining risiko tuberkulosis
Baca juga: Sebanyak 42.826 warga terduga pengidap TBC terlayani di Jakbar





