Badan Gizi Nasional (BGN) akan memperketat standar operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) usai kasus keracunan MBG yang terjadi di Papua. Salah satu langkah yang diterapkan adalah memastikan makanan dikonsumsi tak lebih dari 4 jam setelah selesai dimasak.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan pihaknya tengah mengevaluasi seluruh prosedur penyediaan makanan agar kejadian serupa tak terulang.
“Intinya memastikan tidak boleh ada keracunan lagi, tidak boleh lagi," kata Sudaryono usai Rapat Koordinasi Terbatas Menteri Koordinator Bidang Pangan dalam rangka perbaikan tata kelola MBG di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Kamis (6/8).
Hasil investigasi sementara terhadap kasus keracunan MBG yang terjadi di Papua menunjukkan makanan dimasak terlalu dini pada malam hari sebelum didistribusikan kepada siswa keesokan harinya.
“Mereka memulai masaknya itu kecepetan, jam tujuh malam di hari sebelumnya sudah mulai masak, sehingga diberikan jam sebelas," ujarnya.
Selain itu, BGN juga menemukan adanya siswa yang membawa pulang makanan MBG sehingga dikonsumsi beberapa jam setelah dibagikan. Kondisi tersebut diduga turut menyebabkan penurunan kualitas pada makanan.
“Ada beberapa laporan yang kami terima, ada anak yang membawa pulang MBG-nya. Harusnya disantap jam sebelas itu dimakan, dia dibawa pulang dimakan jam tiga, jam empat, jadi sudah rusak," kata Sudaryono.
Ia bahkan menyebut makanan tersebut tidak hanya dikonsumsi oleh siswa, tetapi juga anggota keluarga di rumah sehingga ikut mengalami keracunan.
"Yang kemudian keracunan bukan hanya anaknya, tapi juga bapaknya atau saudaranya yang ikut makan itu ada," ujarnya.
Karena itu, BGN akan memperketat standar waktu distribusi makanan dari dapur hingga dikonsumsi oleh penerima manfaat.
"Kami ingin memastikan semua pengiriman itu kapan matang sampai dengan dikonsumsi sesuai standar, tidak boleh lebih dari empat jam," kata Sudaryono.
Selain memperkuat pengawasan di dapur, BGN juga akan menggencarkan edukasi di sekolah mengenai keamanan pangan. Guru akan dilibatkan untuk mengingatkan siswa agar langsung mengkonsumsi makanan dan tidak membawanya pulang.
"Ini menjadi materi penting di semua sekolah. Jangan sampai makanan ini dibawa pulang karena MBG tidak menggunakan pengawet, sehingga lebih cepat rusak, apalagi di daerah dengan suhu yang panas," ujarnya.





