Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gresik merespons peristiwa yang dihadapi H. Ridwan (57), warga Desa Sungaiteluk, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, terpaksa menyewa pesawat Susi Air untuk merujuk ibunya ke RSUD Ibnu Sina Gresik karena stok oksigen di sana menipis.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kabupaten Gresik, Setyo Susilo, mengatakan terhambatnya distribusi logistik kesehatan ke Bawean disebabkan kondisi cuaca buruk yang membuat kapal pengangkut tidak dapat beroperasi.
"Kondisi cuaca yang tidak memungkinkan menjadi kendala utama dalam distribusi logistik kesehatan ke Bawean. Selama periode 28 Juli hingga 4 Agustus, kapal menuju Bawean tidak beroperasi akibat cuaca buruk sehingga pengiriman logistik kesehatan, termasuk oksigen medis, tidak dapat dilakukan," ujar Setyo kepada wartawan, Kamis (6/8).
Setyo mengatakan, sebagai langkah antisipasi, Dinkes Gresik telah menyiapkan 40 tabung oksigen untuk pengiriman darurat. Selain itu, sebanyak 80 tabung oksigen juga disiapkan sebagai pasokan lanjutan yang akan dikirim setelah kapal barang kembali beroperasi.
Selama ini, distribusi oksigen ke Bawean dilakukan menggunakan kapal barang dari Pelabuhan Sidayu menuju Pelabuhan Bawean. Namun, cuaca ekstrem menyebabkan aktivitas pelayaran terhenti sehingga distribusi logistik kesehatan ikut terdampak.
"Saat stok oksigen di RSUD Umar Mas’ud mulai menipis pada 1 hingga 3 Agustus, kami langsung menyiapkan pengiriman darurat sebanyak 40 tabung oksigen. Kami berharap kondisi cuaca membaik dalam satu hingga dua hari ke depan agar distribusi dapat segera dilakukan," katanya.
Untuk mempercepat penyaluran logistik kesehatan, Dinkes Gresik berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Kabupaten Gresik, Syahbandar, serta pihak terkait di Paciran dan Lamongan.
"Apabila kondisi cuaca buruk berlangsung lebih lama, Dinas Kesehatan juga menyiapkan alternatif distribusi dengan berkoordinasi bersama Koarmada II untuk membantu pengiriman gas medis menuju Bawean," ujarnya.
Selain jalur laut, Dinkes juga mengkaji kemungkinan distribusi melalui jalur udara. Namun, keterbatasan kapasitas angkut pesawat serta prosedur khusus pengangkutan tabung oksigen membuat jalur laut masih menjadi pilihan utama untuk memasok oksigen medis ke RSUD Umar Mas’ud Bawean.
"Peristiwa ini menjadi bahan evaluasi Pemerintah Kabupaten Gresik untuk memperkuat sistem layanan kesehatan di wilayah kepulauan. Salah satu langkah strategis yang disiapkan adalah pengadaan oxygen generator di RSUD Umar Mas’ud Bawean. Fasilitas tersebut diharapkan mampu memenuhi sekitar 50 persen kebutuhan oksigen medis rumah sakit sehingga ketergantungan terhadap pasokan dari daratan dapat dikurangi," jelas Setyo.
Kisah RidwanSebelumnya, Ridwan terpaksa menyewa pesawat Susi Air untuk membawa ibunya, Minasuha (79), yang harus dirujuk dari RSUD Umar Mas’ud Bawean ke RSUD Ibnu Sina Gresik. Hal itu dilakukan karena gelombang tinggi di perairan Bawean membuat kapal tidak dapat beroperasi.
Minasuha sebelumnya menjalani perawatan intensif selama lima hari di RSUD Umar Mas’ud Bawean. Namun, stok oksigen medis di rumah sakit tersebut semakin menipis akibat terhentinya pasokan logistik.
"Kalau tidak dirujuk, oksigen yang dipakai untuk ibu saya diperkirakan maksimal hanya bisa sampai hari Minggu (2/8)," kata Ridwan kepada wartawan, Rabu (5/8).
Ridwan kemudian mencari informasi kapal yang berlayar menuju Gresik atau Lamongan. Namun, tidak ada jadwal kapal yang tersedia dalam waktu dekat.
Hingga akhirnya, ia menemukan informasi mengenai layanan penyewaan pesawat untuk menerbangkan ibunya.
Ridwan kemudian menyewa satu pesawat khusus Susi Air tanpa penumpang lain untuk membawa ibunya dari Bandara Harun Thohir Bawean menuju Bandara Juanda Surabaya pada Sabtu (1/8).
Setibanya di Surabaya, Minasuha dibawa menggunakan ambulans menuju RSUD Ibnu Sina Gresik untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Ridwan mengungkapkan biaya yang harus dikeluarkan untuk penerbangan tersebut mencapai Rp110 juta. Biaya itu belum termasuk pemenuhan dokumen medis dari maskapai serta biaya operasional pendukung lainnya.





