- Kota Kediri mengalami deflasi 0,14 persen pada Juli 2026, sementara inflasi tahunan tercatat 2,64 persen.
- Cabai rawit menjadi penyumbang utama deflasi dengan andil -0,15 persen, disusul bawang merah dan cabai merah.
- Bensin menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar baik secara bulanan maupun tahunan.
- TPID Kota Kediri menyiapkan pemantauan harga dan Gerakan Pangan Murah untuk menjaga stabilitas harga selama Agustus 2026.
Kediri (beritajatim.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri mencatat Kota Kediri mengalami deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m) pada Juli 2026. Penurunan harga cabai rawit menjadi faktor utama yang mendorong terjadinya deflasi, sementara inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) masih berada pada level terkendali sebesar 2,64 persen.
Data tersebut disampaikan Kepala BPS Kota Kediri Emil Wahyudiono dalam Pers Rilis Berita Resmi Statistik (BRS), Senin (3/8/2026).
Emil menjelaskan, deflasi bulanan terutama dipengaruhi kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil deflasi sebesar 0,27 persen.
Komoditas cabai rawit menjadi penyumbang terbesar dengan andil deflasi mencapai -0,15 persen. Selain itu, penurunan harga juga terjadi pada bawang merah (-0,09 persen), emas perhiasan (-0,08 persen), cabai merah (-0,06 persen), telur ayam ras (-0,04 persen), tomat (-0,03 persen), daging ayam ras (-0,02 persen), serta jagung manis (-0,01 persen).
Di sisi lain, sejumlah komoditas masih memberikan tekanan inflasi selama Juli 2026. Bensin menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,08 persen, disusul bawang putih (0,04 persen), daging sapi (0,03 persen), tarif Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 0,03 persen, beras (0,03 persen), ayam goreng (0,03 persen), terong (0,02 persen), minyak goreng (0,02 persen), ketimun (0,02 persen), dan tarif Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar 0,01 persen.
Sementara secara tahunan, inflasi Kota Kediri pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,64 persen. Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,77 persen, sedangkan komoditas bensin memberikan andil inflasi tertinggi secara tahunan sebesar 0,30 persen.
BPS Kota Kediri juga mengingatkan sejumlah faktor yang perlu diantisipasi pada Agustus 2026. Di antaranya menjaga ketersediaan telur ayam ras, daging ayam ras, serta komoditas pangan lain yang berpotensi terdampak cuaca. Momentum peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia juga diperkirakan akan meningkatkan permintaan sejumlah bahan pokok.
Selain itu, penyesuaian harga BBM non-subsidi, dinamika geopolitik global yang memengaruhi harga minyak dunia, hingga perubahan tarif pendidikan pada awal tahun ajaran baru menjadi faktor yang perlu diwaspadai dalam menjaga stabilitas inflasi daerah.
Menanggapi perkembangan tersebut, Kepala Bagian Administrasi Perekonomian sekaligus Sekretaris Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri, Bambang Tri Lasmono, mengatakan pemerintah daerah telah melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas harga pangan.
Salah satunya melalui pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) pada 20 hingga 24 Juli 2026 yang digelar di sejumlah lokasi strategis di Kota Kediri.
Menurut Bambang, TPID juga telah menyiapkan strategi menghadapi potensi kenaikan harga pada Agustus yang bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan Maulid Nabi Muhammad SAW.
“Kami akan rutin menggelar pemantauan harga komoditas pangan di pasar secara kontinyu sebagai peringatan awal guna mendeteksi fluktuasi harga. Di samping itu juga masyarakat kami imbau agar tidak panic buying dan berbelanja secara bijak, karena Pemerintah terus berusaha menjaga ketersediaan pasokan komoditas serta kestabilan harga di berbagai sektor agar roda perekonomian di Kota Kediri tetap berjalan,” pungkasnya.
Dengan berbagai langkah pengendalian tersebut, Pemerintah Kota Kediri berharap stabilitas harga tetap terjaga sehingga inflasi berada dalam rentang sasaran nasional sekaligus menjaga daya beli masyarakat. [nm/ian]




