Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKS Muh. Haris menyampaikan keprihatinan atas meninggalnya Yurizal Tri Chaerawan, peserta BPJS Kesehatan yang sebelumnya mengeluhkan lamanya waktu tunggu mendapatkan ruang perawatan melalui media sosial.
Haris juga menyoroti komentar tidak berempati yang diduga datang dari sejumlah oknum tenaga kesehatan (nakes) terhadap unggahan tersebut.
Menurut Haris, peristiwa itu menjadi evaluasi bagi sistem pelayanan kesehatan, termasuk BPJS Kesehatan, rumah sakit, serta etika profesi tenaga kesehatan dalam berinteraksi dengan pasien, baik di ruang pelayanan maupun di media sosial.
"Saya sangat prihatin melihat seorang pasien yang sedang berjuang melawan penyakit justru mendapat komentar yang merendahkan dari oknum tenaga kesehatan. Apa pun situasinya, pasien adalah manusia yang sedang membutuhkan pertolongan dan penguatan, bukan cibiran ataupun perundungan," ujar Haris.
Haris menegaskan keluhan pasien seharusnya dipandang sebagai masukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, bukan dianggap sebagai serangan terhadap profesi tenaga kesehatan.
"Keluhan pasien adalah bagian dari evaluasi pelayanan. Respons yang tepat adalah mendengarkan, mengevaluasi, lalu memperbaiki, bukan membalas dengan komentar yang melukai. Empati adalah bagian yang tidak terpisahkan dari profesionalisme tenaga kesehatan," tegasnya.
Selain itu, Haris meminta pemerintah, BPJS Kesehatan, dan rumah sakit melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelayanan, khususnya terkait lamanya waktu tunggu pasien memperoleh ruang perawatan.
Menurutnya, pelayanan kesehatan harus mampu memberikan kepastian, kecepatan, dan rasa aman kepada masyarakat.
"Jangan sampai masyarakat merasa bahwa menggunakan BPJS berarti harus menerima waktu tunggu yang panjang tanpa kepastian. Persoalan ketersediaan tempat tidur, tata kelola rujukan, dan koordinasi antar fasilitas kesehatan harus terus dibenahi agar pelayanan semakin cepat dan berkualitas," katanya.
Haris juga mendorong organisasi profesi, rumah sakit, dan institusi pendidikan kesehatan memperkuat pembinaan karakter, etika profesi, serta literasi bermedia sosial bagi tenaga kesehatan.
"Mayoritas tenaga kesehatan telah mengabdikan diri dengan penuh dedikasi dan melayani masyarakat tanpa mengenal lelah. Namun tindakan segelintir oknum yang menunjukkan sikap tidak berempati tidak boleh dibiarkan mencederai kepercayaan publik terhadap profesi yang sangat mulia ini. Harus ada evaluasi dan pembinaan yang serius agar kejadian serupa tidak terulang," ujarnya.
Menurut Haris, tragedi yang dialami Yurizal harus menjadi pengingat bahwa kualitas pelayanan kesehatan tidak hanya diukur dari kecanggihan fasilitas atau keberhasilan tindakan medis, tetapi juga dari penghormatan terhadap martabat pasien.
"Pelayanan kesehatan yang baik bukan hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga menghadirkan empati dan rasa kemanusiaan. Jangan sampai ada lagi pasien yang merasa sendirian ketika mencari pertolongan. Tragedi ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih manusiawi," pungkas Haris.





