Jakarta: Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan kado spiritual yang istimewa menjelang peringatan hari jadi ke-500 Kota Jakarta pada tahun depan. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berencana mencetak 1.000 mushaf Al-Qur'an edisi khusus untuk dibagikan kepada masyarakat.
Pramono menjelaskan, dari total 1.000 cetakan khusus yang telah ditandatangani tersebut, setengahnya akan dialokasikan secara spesifik bagi warga kalangan bawah atau kelompok marginal yang sedang dalam tahap belajar mengaji.
"Saya pengen banget bahwa dalam rangka menyambut 500 tahun Jakarta, warga-warga yang terkucilkan, terpinggirkan, termarjinalkan, punya kesempatan untuk mengkhatamkan Al-Qur'an," ujar Pramono di Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.
Baca Juga :
Resmi Tutup MTQ DKI 2026, Pramono Targetkan Jakarta Juara Umum di Tingkat Nasional"Supaya orang yang belum pernah khatam, akhirnya khatam Al-Qur'an dan memberikan doanya untuk 500 tahun Jakarta. Itulah bagian dari kehidupan di Jakarta yang tidak semuanya mendapatkan kesempatan seperti anak-anakku ini yang dari kecil sudah terbiasa untuk belajar Al-Qur'an," papar Pramono. Format Baru MTQ Berjenjang
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama para pemenang MTQ Piala Gubernur Jakarta Tahun 2026. Foto: Metro TV/Damar.
Dalam kesempatan yang sama, Pramono juga menyoroti tingginya antusiasme masyarakat terhadap kompetisi Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tahun ini. Gemuruh syiar agama di Ibu Kota dirasa jauh lebih masif berkat adanya perubahan format perlombaan.
Berbeda dengan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya yang langsung digelar di tingkat provinsi, Pemprov DKI kini menerapkan sistem seleksi berjenjang yang ketat dari tingkat paling bawah. Mekanisme itu merupakan usulan langsung dari Pramono.
"Saya adalah orang yang paling bergembira pelaksanaan MTQ ini. Karena dulu MTQ langsung pada tingkat provinsi. Saya yang mengusulkan untuk dirubah mulai pada tingkat kelurahan. Kelurahan naik kecamatan, kecamatan, kota, kabupaten, baru provinsi," jelas Pramono.
Sistem penyaringan baru ini terbukti efektif dalam menjaring bibit-bibit unggul yang sebelumnya tidak tersentuh radar pemerintah. Ajang ini pun tidak lagi dipandang sekadar sebagai wadah kompetisi semata.
"Inilah yang membuat MTQ di Jakarta begitu bergemuruh. Yang dulu adem ayem, sekarang muncul bakat-bakat yang luar biasa. Mudah-mudahan ini bukan hanya sekedar ajang perlombaan, tetapi ini merupakan bagian dari syiar agama kita," ujar Pramono.




