CIMB: Semakin Sayang dan Disayang Nasabah

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Ketidakpastian masih menjadi lanskap utama perekonomian global. Eskalasi geopolitik dan kemajuan teknologi telah berdampak besar bagi perkembangan pasar. Ancaman inflasi diikuti dengan rezim suku bunga tinggi juga sedang berlangsung.

Kombinasi dinamika tersebut pada akhirnya memberikan tekanan di berbagai sektor ekonomi, tak terkecuali industri perbankan. Tergerusnya margin korporasi dan pelemahan daya beli masyarakat berpengaruh terhadap bisnis perbankan.

Namun, di sisi lain, peluang tumbuh selalu ada. Apalagi di Indonesia sebagai negara dengan produk domestik bruto terbesar di Asia Tenggara.

Dengan itu, bagaimana perbankan menjalankan bisnisnya? Apa strateginya? Harian Kompas mewawancarai Group CEO, CIMB Group, Novan Amirudin dan Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan, di Kantor Pusat Graha CIMB Niaga, Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Beberapa topik dibahas, mulai dari tantangan global dan dampaknya terhadap industri perbankan, strategi bisnis perbankan mutakhir, posisi strategis pasar Indonesia di kawasan, hingga tantangan dinamika kebijakan di Indonesia.

Bagaimana Anda memandang situasi makroekonomi global yang saat ini penuh dengan ketidakpastian?

Novan Amirudin:

Secara global, saya melihat inflasi sebagai tantangan terbesar saat ini. Lonjakan kebutuhan AI (akal imitasi) telah memicu tingginya permintaan chip, energi, dan infrastruktur. Di sisi lain, pasokan terbatas sehingga kondisi tersebut memicu kenaikan harga. Selain itu, di sektor energi, lonjakan harga energi dan komoditas turut mendorong lonjakan harga-harga barang.

Secara global, kita menghadapi risiko dari ancaman inflasi. Dampak dari inflasi secara umum biasanya diikuti oleh kenaikan suku bunga acuan. Ketika suku bunga naik, segala kebutuhan menjadi jauh lebih mahal dan hal ini menekan margin keuntungan semua pihak. Situasi ini membuat margin keuntungan korporasi hingga daya beli masyarakat ritel tertekan, termasuk nasabah kami.

Bagi kami, tantangan global saat ini justru menjadi momentum agar bisa lebih dekat dengan nasabah dan karena itulah saya berada di sini bersama tim di Indonesia untuk bertemu langsung dengan para nasabah, memahami tantangan mereka, dan mengetahui kebutuhan mereka di tengah tantangan inflasi yang meningkat.

Baca JugaCIMB Perkuat Fokus Pertumbuhan Segmen Affluent di Kawasan ASEAN Sejalan dengan Strategi Forward30

Menghadapi situasi itu, bagaimana CIMB memosisikan diri?

Novan Amirudin:

Naik turunnya suku bunga adalah siklus ekonomi dan isu global yang dihadapi secara luas saat ini. Fokus utama kami adalah memastikan keberlanjutan layanan kepada nasabah dan masyarakat dengan menyediakan apa yang benar-benar mereka butuhkan.

Menurut saya, bank bukan sekadar memberikan layanan keuangan dasar, seperti tabungan dengan bunga yang menarik atau menyalurkan kredit. Lebih daripada itu, kami ingin menjadi mitra yang dapat memberikan nasihat kepada nasabah, agar mampu mengambil keputusan di tengah ketidakpastian.

Untuk nasabah korporasi besar, misalnya, kami berdiskusi mengenai kapan waktu terbaik untuk menghimpun dana, dalam mata uang apa dana tersebut sebaiknya dihimpun, dan apakah mereka perlu melakukan lindung nilai (hedging) terhadap risiko suku bunga ataupun risiko nilai tukar mata uang.

Di sisi lain, untuk nasabah ritel atau umum, kami ingin memastikan produk yang kami hadirkan sesuai dengan kebutuhan spesifik mereka, bukan sekadar produk generik yang disaratkan sama untuk semua orang. Salah satu contoh produk yang baru saja kami luncurkan di Malaysia dan Singapura adalah FlexiCash, yang diperuntukkan bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).

Saya rasa, ”engagement” dengan nasabah, ”customer experience” dengan kami yang lebih bagus, itu yang kami utamakan sekarang.

Lani Darmawan:

Di Indonesia, dinamika suku bunga dan inflasi ini kami sikapi sebagai bagian dari siklus ekonomi biasa. CIMB Niaga sudah lama berada di Indonesia. Jadi, kami sudah sangat paham dengan pasang surutnya. Ibarat kata, kalau ada ombak tinggi di laut, kami tidak boleh digulung oleh ombak itu, tetapi harus bisa berselancar di atasnya.

Yang pasti, kami terus-menerus membangun kedekatan dengan nasabah sehingga kami bisa menjadi lebih memahami kebutuhan nasabah, baik itu nasabah individual, nonritel, korporasi, maupun UMKM untuk lebih mengetahui standpoint mereka sekarang ini. Saya rasa, engagement dengan nasabah, customer experience dengan kami yang lebih bagus, itu yang kami utamakan sekarang.

Mungkin kalau diterjemahkan di Indonesia, itu kejar mimpi. Seperti yang disampaikan tadi, tujuan kami adalah advancing customers and society (memajukan nasabah dan masyarakat). Kami selalu posisinya adalah ingin membantu nasabah dan masyarakat Indonesia untuk bisa mencapai aspirasinya atau mimpinya, dengan semua layanan, dan juga solusi dari yang diberikan CIMB.

Apakah ada prioritas terhadap segmen tertentu dalam strategi bisnis CIMB?

Novan Amirudin:

Kami melayani semua segmen nasabah, itu adalah poin utamanya. Tidak ada satu segmen yang kami prioritaskan secara berlebihan ketimbang segmen lain karena seluruh segmen tersebut saling terhubung.

Korporasi besar mempekerjakan karyawan dan karyawan tersebut adalah nasabah perbankan konsumer. Di segmen konsumer, nasabah memiliki aspirasi karier dan finansial, mulai dari awal bekerja, menabung, menikah, memiliki anak, hingga kelak mencapai tahap pengelolaan kekayaan (wealth management).

Korporasi besar juga membutuhkan banyak pemasok yang menyediakan berbagai jasa, pengelolaan fasilitas, hingga dukungan operasional yang berasal dari segmen UKM dan komersial. Semuanya saling terhubung. Oleh karena itu, strategi kami adalah melayani seluruh segmen nasabah tersebut.

Semua segmen sama pentingnya karena saling berkaitan. Strategi kami adalah memastikan seluruh segmen nasabah dapat terlayani dengan baik. Jadi, kami tidak fokus pada satu segmen secara terpisah, tetapi mengintegrasikan semuanya.

Di tengah dinamika persaingan pasar, apa value proposition CIMB?

Novan Amirudin:

Kami hadir di 10 negara, yaitu Malaysia, Indonesia, Singapura, Thailand, Filipina, Vietnam, Hong Kong, Shanghai (China), Kamboja, dan London (Inggris). Karena hadir di 10 negara, kami menyebut diri kami sebagai bank regional. Ambisi dan tujuan kami adalah menjadi bank pilihan utama di ASEAN.

Artinya, kapan pun, baik masyarakat, nasabah, maupun publik, ingin mendapatkan dukungan dari layanan perbankan, seperti menabung untuk masa pensiun, membeli rumah atau mobil, menjadi pelaku usaha kecil, hingga ekspansi lintas negara, kami ingin mereka mengingat CIMB sebagai tujuan utama di ASEAN.

Kami berkomitmen penuh untuk Indonesia karena Indonesia adalah bagian yang sangat penting bagi grup kami. Kami akan melanjutkan kehadiran kami yang kuat dan bertekad untuk terus tumbuh di negara ini.

Secara khusus, pembeda utama kami dibandingkan dengan bank-bank lain tampak dari apa yang kami tawarkan lebih banyak, yakni konektivitas ASEAN. ASEAN merupakan wilayah yang sangat kuat dengan populasi yang besar, bonus demografi usia muda, skala ekonomi yang luas, serta berbagai keuntungan makro lainnya.

Setiap negara di ASEAN juga memiliki potensi dan keunggulan yang berbeda. Saya yakin, setiap negara ASEAN akan membawa manfaat yang unik dan ketika digabungkan menjadi satu kawasan, hal ini menjadi proposisi nilai yang sangat kuat. Itulah yang dimanfaatkan oleh CIMB dan alasan mengapa CIMB pada dasarnya adalah bank regional ASEAN.

Lani Darmawan:

Kekuatan konektivitas regional itu memberikan dampak yang dapat dirasakan oleh nasabah kami. Bagi nasabah ritel yang sering bepergian ke Singapura, Malaysia, atau Thailand, misalnya, mereka tidak perlu pusing lagi. Ada banyak penawaran promo, baik dari kartu kredit maupun kartu debet CIMB Niaga, yang bisa langsung digunakan dengan fasilitas yang sama.

Untuk non-ritel, kami di CIMB Niaga juga membawa investor masuk. Kami juga mengakomodasi dan melayani nasabah untuk berinvestasi di Indonesia, mengingat kami juga hadir di Malaysia, Singapura, dan Thailand. Apalagi, menurut saya, Indonesia masih sangat menarik untuk investor dengan return yang masih cukup baik dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya.

Bagaimana CIMB melihat posisi Indonesia di tingkat regional Asia Tenggara?

Novan Amirudin:

CIMB Niaga merupakan bagian yang sangat penting dari CIMB Group. Kami telah berinvestasi di Indonesia sejak awal 2000-an, tepatnya pada 2002, ketika CIMB mengakuisisi saham di Bank Niaga. Kemudian, pada 2008, kami melakukan merger dengan Bank Lippo untuk membentuk bank yang kami miliki saat ini, CIMB Niaga.

Sejak pertama kali masuk hingga hari ini, CIMB telah berinvestasi sangat banyak di Indonesia. Kami berkomitmen penuh untuk Indonesia karena Indonesia adalah bagian yang sangat penting bagi grup kami. Kami akan melanjutkan kehadiran kami yang kuat dan bertekad untuk terus tumbuh di negara ini.

Indonesia sangat kuat di industri kelapa sawit, pertambangan, komoditas, dan memiliki populasi muda yang energik. Pertumbuhan fintech dan inovasi di Indonesia sangat pesat dan sebagian besar inovasi di CIMB Group lahir dari Indonesia.

Hingga hari ini, kami telah mempekerjakan sekitar 11.000 karyawan. Jadi, ada 11.000 insan Indonesia di tempat kami. Kami memiliki lebih dari 400 cabang di seluruh Indonesia dan ada sekitar 9,1 juta nasabah yang kami layani. Jumlah ini bahkan lebih banyak daripada jumlah nasabah kami di Malaysia.

Seperti apa pandangan Anda terhadap potensi pengembangan bisnis syariah di Indonesia?

Novan Amirudin:

Keuangan syariah memiliki peluang yang besar untuk terus tumbuh. Pengalaman kami di Malaysia menunjukkan keuangan syariah telah mencapai tingkat kematangan. Di sana, layanan syariah tidak lagi dipandang sebatas latar belakang agama, tetapi sebagai alternatif pembiayaan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Saya melihat Indonesia kini juga mulai melangkah ke arah sana melalui kewajiban pemisahan (spin-off) unit usaha syariah yang harus dilakukan oleh perbankan. Kami pun saat ini sedang dalam proses spin-off bank syariah kami di Indonesia, mengingat bisnis syariah yang kami jalankan tumbuh secara berkelanjutan dan kami yakin dapat memberikan penawaran menarik bagi nasabah di Indonesia yang membutuhkan akses pembiayaan syariah.

Indonesia sangat menarik karena memiliki populasi Muslim terbesar di dunia. Ini adalah peluang yang sangat menjanjikan. Ukuran populasi Indonesia yang sangat besar menghadirkan potensi pasar yang luas bagi keuangan syariah. Kami, di CIMB, memiliki keuntungan dari pengalaman melihat keberhasilan model ini di Malaysia beserta produk-produk inovatif yang dapat ditawarkan.

Pasar ini sangat luas. Bahkan, perkembangan keuangan syariah akan lebih pesat jika para pelaku industri saling bekerja sama menghadirkan proposisi yang menguntungkan seluruh pasar. Salah satu contoh yang sukses di Malaysia adalah pasar sukuk syariah. Saya melihat hal itu sebagai peluang yang sangat menarik bagi Indonesia.

Lani Darmawan:

Fakta menariknya di lapangan, saat ini setengah dari nasabah syariah kami di CIMB Niaga itu non-Muslim. Hal ini menunjukkan bahwa nilai dan keunggulan dari produk syariah yang kami tawarkan diterima oleh masyarakat luas.

Dengan rencana pemisahan spin-off, tentu akan semakin memperkuat posisi kami untuk masuk dan memberikan layanan kepada komunitas syariah, sekaligus memberikan pilihan transaksi kepada nasabah. Menurut rencana, spin-off kemungkinan besar akan dilakukan pada akhir tahun.

Baca JugaCIMB Bertekad Dongkrak Perbankan Syariah

Komitmen CIMB dalam mengimplementasikan pembiayaan berkelanjutan?

Novan Amirudin:

CIMB Group adalah salah satu penggerak awal pembiayaan berkelanjutan di ASEAN. Beberapa tahun lalu, kami adalah bank Malaysia pertama yang mengumumkan komitmen terhadap target di enam sektor prioritas, yang meliputi pembangkit listrik, minyak dan gas, real estat, kelapa sawit, pertambangan dan batubara, serta semen.

Kami menetapkan target yang harus dicapai pada 2030 untuk keenam sektor ini. Target tersebut kami susun melalui diskusi secara langsung dengan para nasabah di seluruh kawasan untuk memahami kebutuhan mereka, rencana pertumbuhan belanja modal, serta kebutuhan pembiayaan mereka.

Jadi, ini bukan sekadar menetapkan angka, melainkan target yang mencerminkan kebutuhan pertumbuhan kawasan ASEAN. Target enam sektor ini berlaku untuk seluruh CIMB Group secara akumulatif. Seluruh grup wajib mencapai target tersebut sebagai bentuk komitmen kami.

Lani Darmawan:

Di CIMB Niaga, saat ini portofolio pembiayaan hijau sudah mencapai 26 persen dari total pembiayaan yang telah kami salurkan. Namun, bagi kami, keberlanjutan bukan sekadar angka pembiayaan.

Lebih daripada itu, ada banyak aspek keberlanjutan yang kami lakukan, mulai dari kebijakan internal bank, kegiatan tanggung jawab sosial (CSR) yang berdampak langsung pada lingkungan, serta edukasi nasabah.

Bagaimana pandangan soal lingkungan regulasi di Indonesia?

Novan Amirudin:

Kami sudah berada di sini (Indonesia) sejak lama dan menjalankan strategi bisnis untuk jangka panjang. Ketika merancang, baik strategi, produk, maupun layanan bagi nasabah, kami tidak membuatnya hanya untuk jangka waktu satu atau dua tahun. Kami merancangnya untuk jangka panjang, selama keberadaan kami di sini.

Bagi saya, dinamika dalam jangka pendek akan selalu ada. Ketidakpastian atau perubahan kebijakan jangka pendek adalah hal yang biasa dalam siklus ekonomi. Namun, fokus kami tetap tertuju pada arah angka panjang dan tetap konsisten melayani nasabah serta memperbesar ”kue” ekonomi agar semua orang merasakan manfaatnya.

Sebagai bagian dari ASEAN, peluangnya adalah bagaimana kita semua dapat bekerja sama untuk memajukan semua pihak, yakni memperbesar ”kue” ekonomi dan memastikan setiap orang menikmati manfaat dari pembesaran kue tersebut. Bagi saya, itulah peluang besarnya, dan hal itulah yang menjadi fokus utama kami.

Lani Darmawan:

Kue ekonomi itu memang masih besar. Prioritas kami di CIMB Niaga saat ini adalah bagaimana caranya supaya kami bisa lebih banyak di-”sayang” nasabah, nasabah lebih memilih kami. Sekalipun pasar tidak tumbuh seperti tahun-tahun sebelumnya, misalnya, paling tidak kami bisa melayani nasabah, dekat dengan nasabah. Jadi, kami lebih melihat pangsa pasar dalam bisnis.

Saat ini, di CIMB Niaga, secara bisnis, top-line (pendapatan) masih bertumbuh. Kemudian, di perbankan, bukan hanya CIMB Niaga, tetapi ada satu tantangan mengenai margin dan sebagainya, tetapi kan ada komponen yang namannya fee based income. Ini yang kami dapatkan banyak sekali dan tumbuh lumayan bagus karena banyak nasabah yang ”sayang”.

Baca JugaJurus Digital CIMB Niaga Gaet Jutaan Nasabah


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BPS Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Haji: 36,6 % Jemaah 2026 Lansia
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Pemerintah Prediksi 63 Juta Orang Terima MBG di 2027: Prioritas Ibu Hamil-Balita
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Menghadap Wamensos, 4 Bupati Siap Bangun Sekolah Rakyat Permanen
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Penembakan Massal di Sekolah Thailand, Tujuh Orang Termasuk Pelaku Tewas
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Pantang Menyerah, Kembali Berburu Super Tiket di Makassar
• 15 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.