Di tengah ribuan lulusan baru yang memadati bursa kerja, ada pertanyaan yang sebenarnya lebih besar daripada sekadar "di mana saya bisa bekerja?". Bagi banyak anak muda Generasi Z, pertanyaan itu adalah, pekerjaan seperti apa yang membuat hidup saya berarti?
Sebuah survei terbaru dari proyek Making Caring Common di Harvard Graduate School of Education, bekerja sama dengan Gallup dan the Walton Family Foundation, menemukan bahwa 9 persen anak muda Generasi Z menginginkan pekerjaan yang terutama bertujuan membantu orang lain atau memberi dampak positif bagi kehidupan sesama. Namun, hanya sekitar separuh yang benar-benar berhasil memperoleh pekerjaan semacam itu.
Temuan tersebut menarik karena mematahkan stereotip yang selama ini melekat pada Gen Z sebagai generasi yang dianggap individualistis, mudah menyerah, atau hanya mengejar kenyamanan. Sebaliknya, survei terhadap 2.436 responden kelahiran 1997–2012 itu menunjukkan bahwa mayoritas justru ingin pekerjaannya memiliki makna sosial.
"Generasi Z sering digambarkan egois dan malas. Saya terkejut ketika melihat 79 persen responden ingin memiliki pekerjaan yang terutama berfokus membantu orang lain," kata Richard Weissbourd, dosen Harvard sekaligus Direktur Fakultas Making Caring Common, dilaporkan Harvard Gazette pada Selasa (4/8/2026).
Pekerjaan yang dimaksud tidak selalu harus menjadi dokter, guru, atau pekerja sosial. Banyak responden menemukan makna dari pekerjaan yang tampak sederhana. Seorang pencuci piring merasa pekerjaannya penting karena membantu menyediakan makanan bagi orang lain. Seorang pramuniaga merasa pekerjaannya bermakna ketika membantu pelanggan menemukan pakaian yang membuat mereka lebih percaya diri.
Makna, ternyata, tidak selalu lahir dari jabatan tinggi, melainkan dari keyakinan bahwa pekerjaan seseorang membawa manfaat bagi orang lain. Namun, idealisme itu bertemu kenyataan yang jauh lebih keras.
Di Indonesia, tantangan terbesar bagi banyak Gen Z justru bukan memilih pekerjaan yang bermakna, melainkan memperoleh pekerjaan yang layak. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran memang turun menjadi 7,22 juta orang pada Mei 2026. Akan tetapi, di balik perbaikan tersebut tersembunyi perubahan struktur pasar kerja yang patut dicermati.
Dalam tiga bulan, jumlah penduduk yang berusaha sendiri justru melonjak sekitar 1,38 juta orang, sementara kenaikan pekerja sebagai buruh atau karyawan hanya sekitar 342.000 orang.
Artinya, semakin banyak masyarakat yang akhirnya menciptakan pekerjaan sendiri seperti berjualan, menjadi pengemudi ojek daring, membuka usaha kecil, atau bekerja secara informal, karena kesempatan memasuki sektor formal semakin terbatas.
"Sudah setahun saya memasukkan lamaran kerja ke berbagai perusahaan, tapi belum ada yang cantol. Beberapa kali kerja freelance, tapi sehari-hari sekarang narik ojek," kata pemuda 23 tahun, lulusan komunikasi salah satu kampus negeri di Jakarta, yang minta namanya tidak disebutkan, Kamis (6/8/2026).
Saat ditanya pekerjaan apa yang diinginkan, dia menjawab, "Kalau awal-awal maunya yang sesuai ilmu, tapi sekarang yang penting di atas UMR (upam minimum regional) saja,".
Menganggur bukan pilihan bagi sebagian besar anak muda. Ketika pekerjaan formal sulit diperoleh, usaha sendiri, termasuk menjadi pengemudi ojek daring, menjadi jalan bertahan hidup.
Karena itu, meski tingkat pengangguran menurun, sekitar 59,3 persen pekerja Indonesia masih berada di sektor informal, yang identik dengan produktivitas rendah, pendapatan yang tidak menentu, perlindungan sosial terbatas, dan minim kepastian karier.
Ironisnya, tantangan tersebut justru semakin terasa bagi lulusan perguruan tinggi.
Selama beberapa tahun terakhir, jumlah lulusan universitas terus meningkat, tetapi penciptaan pekerjaan formal yang membutuhkan keterampilan tinggi tidak tumbuh secepat pasokan tenaga kerja terdidik. Akibatnya muncul fenomena overeducation, yaitu ketika seseorang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi daripada yang dibutuhkan pekerjaannya.
Tidak sedikit lulusan sarjana akhirnya bekerja pada pekerjaan yang sebelumnya dapat diisi lulusan SMA atau diploma, sementara sebagian lainnya memilih menjadi pekerja lepas, kreator konten, berdagang, hingga menjadi pengemudi ojek daring.
Fenomena ini bukan berarti pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak bernilai. Persoalannya, banyak anak muda tidak benar-benar memilihnya sebagai panggilan hidup, melainkan karena pilihan lain hampir tidak tersedia.
Di media sosial, keluhan tentang ribuan pelamar yang berebut puluhan posisi kerja kini menjadi cerita sehari-hari. Campus job fair dipenuhi antrean panjang. Proses rekrutmen berlangsung berbulan-bulan, tetapi sering berakhir tanpa kepastian.
Bagi banyak Gen Z, tantangan pertama bukan menemukan pekerjaan yang bermakna, melainkan sekadar memperoleh pekerjaan.
Situasi itu semakin rumit dengan hadirnya kecerdasan buatan (AI). Berbagai pekerjaan entry level yang selama ini menjadi pintu masuk lulusan baru, seperti administrasi, layanan pelanggan, penulisan konten sederhana, penerjemahan dasar, pengolahan data, hingga desain grafis dasar, mulai mengalami otomatisasi.
AI memang tidak serta-merta menggantikan manusia. Namun, perusahaan kini dapat menyelesaikan sebagian pekerjaan administratif dengan lebih sedikit pegawai. Akibatnya, peluang kerja bagi lulusan baru berpotensi semakin kompetitif.
Di sisi lain, AI justru meningkatkan nilai pekerjaan yang membutuhkan empati, komunikasi, kreativitas, kolaborasi, kemampuan memecahkan masalah kompleks, serta keterampilan merawat dan mendampingi manusia.
Pekerjaan yang peduli ternyata menyehatkan mental. Di sinilah temuan Harvard menjadi menarik.
Lebih dari separuh responden Gen Z melaporkan mengalami kecemasan atau depresi, mulai dari tingkat ringan hingga berat. Namun mereka yang merasa hidupnya memiliki makna dan tujuan jauh lebih jarang mengalami gangguan kesehatan mental dibandingkan mereka yang merasa hidupnya kehilangan arah.
Menurut Weissbourd, membantu orang lain mungkin merupakan salah satu "obat" yang selama ini kurang diperhatikan. Mengajar memang melelahkan. Menjadi tenaga kesehatan penuh tekanan. Pekerja sosial menghadapi persoalan emosional setiap hari. Namun pekerjaan-pekerjaan tersebut juga memberi kepuasan yang sulit digantikan oleh insentif finansial semata.
Temuan ini mengingatkan bahwa pekerjaan bukan hanya sumber pendapatan, tetapi juga sumber identitas, harga diri, relasi sosial, dan kesehatan mental.
Meski demikian, realitas ekonomi tetap tidak bisa diabaikan. Dalam survei Harvard, responden diberi pilihan: tetap bekerja pada pekerjaan yang bermakna atau menerima pekerjaan baru dengan gaji dua kali lipat tetapi jauh kurang bermakna.
Hasilnya menarik. Sebanyak 46 persen memilih gaji lebih tinggi, 28 persen bertahan pada pekerjaan yang bermakna, sedangkan sisanya mengatakan keputusan bergantung pada situasi. Mereka yang merasa kondisi keuangannya tidak aman jauh lebih cenderung mengejar pekerjaan bergaji tinggi.
Temuan itu terasa sangat dekat dengan pengalaman banyak anak muda Indonesia. Ketika biaya hidup terus meningkat, harga rumah semakin jauh dari jangkauan, dan lapangan kerja formal terbatas, idealisme sering kali harus bernegosiasi dengan kebutuhan hidup sehari-hari.
Tidak mengherankan jika banyak lulusan terbaik akhirnya menerima pekerjaan apa pun yang tersedia, meski tidak sesuai minat ataupun cita-cita mereka.
Indonesia sedang menikmati bonus demografi. Jutaan anak muda memasuki usia produktif setiap tahun. Namun bonus demografi tidak otomatis menjadi keuntungan. Ia hanya akan menghasilkan pertumbuhan apabila tersedia pekerjaan yang produktif, layak, memberikan perlindungan, dan membuka peluang berkembang.
Dalam jangka panjang, tantangan Indonesia bukan hanya menciptakan lebih banyak pekerjaan, melainkan juga menciptakan pekerjaan yang memiliki nilai tambah tinggi, menghargai keterampilan manusia, sekaligus memberi ruang bagi generasi muda untuk menemukan makna dalam pekerjaannya.
Paradoksnya, dunia justru bergerak menuju ekonomi yang semakin membutuhkan kemampuan yang sulit digantikan AI seperti empati, kepedulian, pendidikan, pelayanan kesehatan, pendampingan, dan hubungan antarmanusia.
Sayangnya, profesi-profesi yang paling dibutuhkan masyarakat itu masih sering memperoleh penghargaan ekonomi yang lebih rendah dibandingkan pekerjaan lain. Padahal, jika Indonesia ingin memanfaatkan bonus demografi sekaligus menjaga kesehatan mental generasi mudanya, pekerjaan yang memberi makna semestinya tidak lagi identik dengan penghasilan yang pas-pasan.
Pada akhirnya, bagi Generasi Z, bekerja bukan sekadar mencari nafkah. Mereka juga sedang mencari alasan mengapa mereka bangun setiap pagi.
Tantangannya adalah apakah negara, dunia pendidikan, dan pasar kerja mampu menyediakan ruang agar kedua kebutuhan itu, mencari penghidupan dan menemukan makna hidup, dapat berjalan beriringan.





