HARIAN.FAJAR.CO.ID, SANAA—Timur Tengah masih panas meski Iran dan Amerika Serikat (AS) sedang jeda perang.
Kali ini, ketegangan pindah ke Yaman. Tujuh belas tentara dan perwira Yaman tewas serta beberapa lainnya terluka dalam serangan oleh kelompok Houthi yang melibatkan rudal balistik dan drone bermuatan bahan peledak.
Komando Operasi Gabungan Angkatan Bersenjata Yaman menyatakan bahwa serangan tersebut menyasar pasukan yang sedang menjalankan operasi melawan terorisme, kejahatan terorganisir, serta jaringan penyelundupan senjata dan narkoba yang ditujukan bagi kelompok Houthi.
Pimpinan negara memerintahkan langkah-langkah untuk mencegah serangan serupa dan menyerukan respons yang memberikan efek jera, menurut pernyataan tersebut, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Data korban terbaru ini muncul sehari setelah Pasukan Darurat pemerintah melaporkan adanya korban jiwa dan kerugian materi akibat serangan Houthi terhadap beberapa kamp dan unit militer, namun tanpa menyebutkan angka pastinya.
Media lokal melaporkan bahwa serangan tersebut menyasar pasukan pemerintah di wilayah gubernur (provinsi) Marib di bagian tengah dan Hadramawt di bagian timur.
Dikutip dari Anadolu, kelompok Houthi kemudian mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut; juru bicara militer Yahya Saree mengatakan bahwa kelompoknya melancarkan operasi “skala besar” terhadap pasukan yang didukung Arab Saudi di Al-Ruwaik, Al-Abr, dan Al-Thaniyah, serta sejumlah kamp militer lainnya.
Saree menyebutkan bahwa serangan tersebut melibatkan sejumlah besar rudal balistik dan drone.
Serangan ini terjadi di tengah pertempuran sporadis di berbagai garis depan di Yaman sejak awal Juli, yang telah menyebabkan puluhan korban jiwa di kedua belah pihak.
Yaman telah mengalami masa jeda pertempuran yang relatif tenang sejak April 2022. Perang ini bermula lebih dari 11 tahun yang lalu, melibatkan pasukan pemerintah yang didukung oleh koalisi pimpinan Arab Saudi melawan kelompok Houthi yang didukung Iran—kelompok yang telah menguasai ibu kota Sanaa dan wilayah lain di negara tersebut sejak 21 September 2014. (amr)





