Kinerja PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) pada kuartal II-2026 berada di bawah ekspektasi setelah perseroan membukukan rugi bersih.
IDXChannel - Kinerja PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) pada kuartal II-2026 berada di bawah ekspektasi setelah perseroan membukukan rugi bersih akibat penurunan volume penjualan emas.
Meski demikian, prospek jangka panjang BRMS dinilai tetap menarik seiring ekspansi kapasitas produksi dan peningkatan kadar bijih yang akan menopang pertumbuhan volume dalam beberapa tahun ke depan.
Analis UOB Kay Hian Benyamin Mikael dalam riset yang diterbitkan pada 4 Agustus 2026 menjelaskan, BRMS mencatat rugi bersih sebesar USD4,8 juta pada kuartal II-2026.
Angka tersebut berbalik dari laba bersih USD8 juta pada periode yang sama tahun lalu dan laba USD17,6 juta pada kuartal I-2026.
Pelemahan kinerja terutama dipicu jatuhnya volume penjualan emas hingga 63,1 persen secara kuartalan menjadi 6.301 ons.
Rata-rata harga jual (average selling price/ASP) juga turun 8,3 persen menjadi USD4.138 per ons dari USD4.512 per ons pada kuartal sebelumnya.
Di sisi lain, kenaikan beban keuangan serta kerugian selisih kurs turut menekan laba sebelum pajak hingga berbalik menjadi rugi.
Secara kumulatif, laba bersih BRMS pada semester I-2026 turun 42,3 persen secara tahunan menjadi USD13,3 juta.
Pendapatan juga menyusut 20,7 persen menjadi USD95,8 juta karena volume penjualan emas merosot 45,9 persen menjadi 21.091 ons, meski sebagian tertahan oleh kenaikan harga jual rata-rata sebesar 44,5 persen secara tahunan menjadi USD4.400 per ons.
Margin laba kotor turun menjadi 57,8 persen dari 59,8 persen pada semester I-2025, sementara margin EBIT melemah menjadi 33,4 persen dari sebelumnya 41,5 persen.
Kenaikan beban keuangan sebesar 74,4 persen secara tahunan juga menyebabkan laba inti merosot 56 persen menjadi USD15,3 juta.
Menurut Benyamin, realisasi laba semester I-2026 baru memenuhi sekitar 13 persen dari konsensus laba sepanjang tahun sehingga jauh di bawah ekspektasi.
Namun, lemahnya kinerja tersebut lebih disebabkan faktor-faktor yang bersifat sementara.
Setidaknya terdapat tiga faktor utama yang menekan kinerja BRMS pada kuartal II-2026.
Pertama, produksi emas menurun akibat pekerjaan pushback di tambang River Reef, Poboya. Aktivitas tersebut merupakan bagian dari tahapan penambangan yang telah direncanakan dan kini telah selesai, sehingga penambangan terbuka (open pit) diperkirakan kembali meningkat pada semester II-2026.
Kedua, BRMS menghadapi kesulitan menjual seluruh produksi emasnya di pasar domestik. Melimpahnya pasokan emas di dalam negeri akibat pergeseran penjualan dari eksportir membuat pembeli meminta diskon harga, sehingga hanya sekitar 70 persen produksi emas BRMS yang berhasil dijual selama kuartal II-2026.
Meski demikian, pada akhir Juni 2026 perseroan telah mengamankan kontrak penjualan dengan PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) untuk memasok sebagian besar produksi emasnya setiap bulan hingga Juni 2028 dengan harga yang dinilai kompetitif.
Ketiga, rata-rata harga jual emas BRMS juga turun secara kuartalan menjadi USD4.138 per ons dari USD4.512 per ons pada kuartal I-2026.
Di luar tekanan jangka pendek tersebut, UOB Kay Hian menilai prospek pertumbuhan produksi BRMS tetap kuat. Perseroan tengah meningkatkan kapasitas pabrik carbon-in-leach (CIL) pertama dari 500 ton per hari menjadi 2.000 ton per hari yang ditargetkan selesai pada kuartal IV-2026.
Selain itu, pengembangan tambang bawah tanah Poboya juga berjalan sesuai rencana dan ditargetkan mulai berproduksi pada semester I-2027.
Bijih dari tambang bawah tanah diperkirakan memiliki kadar emas sekitar 2 gram per ton, lebih tinggi dibanding kadar saat ini yang berkisar 1,3-1,5 gram per ton.
BRMS menargetkan produksi emas mencapai 70.000-75.000 ons pada 2026, meningkat menjadi 80.000 ons pada 2027, 150.000 ons pada 2028, dan melampaui 200.000 ons pada 2029.
Meski memangkas proyeksi laba BRMS sebesar 37,4 persen untuk 2026 dan 41,2 persen untuk 2027 akibat asumsi harga emas yang lebih konservatif, UOB Kay Hian tetap mempertahankan rekomendasi beli.
Target harga saham BRMS diturunkan menjadi Rp1.040 per unit dari sebelumnya Rp1.330 per unit.
Penurunan tersebut mencerminkan revisi proyeksi laba serta pandangan yang lebih hati-hati terhadap harga emas di tengah kenaikan imbal hasil obligasi global dan kebijakan moneter yang masih ketat.
Namun, Benyamin menilai prospek jangka panjang BRMS tetap menarik berkat ekspansi kapasitas pabrik CIL, dimulainya produksi bijih berkadar tinggi dari tambang bawah tanah pada pertengahan 2027, serta potensi kenaikan cadangan tembaga yang didukung program pengeboran intensif sepanjang 2026. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





