Jakarta, VIVA - Limbah pertanian kerap dianggap sebagai persoalan lingkungan karena berakhir dibakar atau dibuang begitu saja. Namun, di tangan dua pelajar asal Bali, limbah sorgum justru dikembangkan menjadi bahan bakar alternatif berbentuk bio-briket.
Inovasi tersebut diberi nama Bioghum dan dikembangkan oleh Ni Kadek Karina Dewi dan Putu Darma Yasa, pelajar SMA Negeri Bali Mandara. Keduanya merupakan peraih Juara I Toyota Eco Youth (TEY) ke-12.
Bioghum memanfaatkan limbah sorgum sebagai bahan dasar bio-briket. Gagasan tersebut berangkat dari persoalan yang mereka temui di lingkungan sekitar, kemudian dikembangkan menjadi inovasi yang memiliki manfaat lebih luas.
Pemanfaatan limbah menjadi bahan bakar alternatif menjadi menarik di tengah upaya mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi fosil. Biomassa, termasuk limbah pertanian, dapat menjadi salah satu sumber energi alternatif apabila dikelola dengan teknologi dan proses yang tepat.
Dalam kasus Bioghum, bagian sorgum yang tidak lagi dimanfaatkan diolah sehingga memiliki nilai guna baru sebagai bio-briket. Konsep tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persoalan lingkungan di tingkat lokal dapat melahirkan solusi yang berkaitan dengan kebutuhan energi.
Toyota Indonesia kembali mengangkat inovasi tersebut dalam peluncuran Toyota Eco Youth ke-14. Program tersebut tahun ini mengusung tema "Decarbonization, Lead The Change, Together for Earth" dengan tagline EcoPioneer.
Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) I Nyoman Winaya mengatakan, solusi pengurangan emisi dapat dimulai dari persoalan lingkungan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
"Solusi untuk menguranginya dapat berawal dari persoalan lingkungan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari," ujar Nyoman.
Menurut dia, pengalaman dari program TEY menunjukkan bahwa persoalan sederhana di sekitar sekolah dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memiliki dampak lebih luas.
Bioghum menjadi salah satu contohnya. Berawal dari pemanfaatan limbah sorgum, inovasi tersebut bahkan mendapat pengakuan di tingkat internasional.
Program Toyota Eco Youth sendiri telah berlangsung sejak 2005. Hingga penyelenggaraan ke-14, program tersebut telah melibatkan 2.033 sekolah dari 34 provinsi.
Dari rangkaian program tersebut, tercatat 9.972 proposal inovasi lingkungan telah dihasilkan dan 232 proyek telah diimplementasikan. Toyota Indonesia juga telah membangun 32 Eco Gallery di sejumlah sekolah sebagai ruang edukasi lingkungan.





