Harga minyak sawit mentah (CPO) melemah pada perdagangan Jumat (7/8/2026), tertekan ekspektasi kenaikan stok dan lemahnya permintaan ekspor.
IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) melemah pada perdagangan Jumat (7/8/2026), tertekan ekspektasi kenaikan stok dan lemahnya permintaan ekspor.
Meski demikian, kontrak acuan masih berpotensi mencatatkan kenaikan mingguan untuk keempat kalinya dalam lima pekan terakhir.
Kontrak CPO acuan untuk pengiriman Oktober di Bursa Malaysia Derivatives turun 0,79 persen menjadi 4.649 ringgit Malaysia per ton pada pukul 15.02 WIB.
Sepanjang pekan ini, kontrak tersebut masih mencatat kenaikan 0,11 persen.
Kepala Riset Komoditas Sunvin Group, Anilkumar Bagani, mengatakan, dikutip Reuters, harga kontrak berjangka CPO bergerak melemah seiring tekanan dari perkiraan kenaikan persediaan minyak sawit di Malaysia serta lemahnya penjualan ekspor untuk pengiriman mendatang.
Survei Reuters menunjukkan persediaan minyak sawit Malaysia diperkirakan naik ke level tertinggi dalam lima bulan pada Juli, seiring pertumbuhan produksi yang melampaui permintaan yang masih kuat.
Dewan Minyak Sawit Malaysia (Malaysian Palm Oil Board/MPOB) dijadwalkan merilis data permintaan dan pasokan Juli pada 10 Agustus.
Pada hari yang sama, perusahaan survei kargo juga akan mempublikasikan estimasi ekspor minyak sawit untuk periode 1-10 Agustus.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia melanjutkan penguatan di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap akses di Selat Hormuz.
Iran, bersama Oman, mengusulkan pelarangan kapal yang dianggap bermusuhan melintasi selat tersebut serta pengenaan denda besar bagi kapal yang melanggar aturan yang diusulkan.
Kenaikan harga minyak mentah membuat minyak sawit menjadi bahan baku biodiesel yang lebih menarik.
Di pasar lain, kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian naik 0,21 persen, sedangkan kontrak minyak sawitnya turun 0,39 persen.
Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) menguat 0,5 persen.
Pergerakan harga minyak sawit umumnya mengikuti tren minyak nabati pesaing karena komoditas tersebut bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Di sisi lain, nilai tukar ringgit Malaysia terhadap dolar AS tidak berubah, sehingga harga minyak sawit menjadi sedikit lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing. (Aldo Fernando)





