JAKARTA, KOMPAS – Pameran hasil riset dan inovasi yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN memperkuat komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk mengembangkan sains dan teknologi, tidak terkecuali dalam bidang teknologi nuklir. Pengembangan nuklir bakal dilakukan terutama untuk mendukung kedaulatan energi dan teknologi kesehatan.
Komitmen pemerintah untuk mengembangkan teknologi nuklir disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Menurut dia, ke depan, penelitian mengenai teknologi nuklir akan diarahkan untuk kepentingan energi dan kesehatan.
“Ya, misalnya untuk mungkinkah pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), atau mungkinkan peralatan alutsista berbahan nuklir, dan kesehatan terutama untuk medis,” kata Prasetyo.
Juru Bicara Presiden itu melanjutkan, pengembangan sains dan teknologi merupakan salah satu komitmen Presiden Prabowo Subianto sejak dilantik pada Oktober 2024.
Presiden juga memberikan perhatian terhadap sejumlah lembaga yang bertugas melakukan riset, seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.
Sejumlah lembaga tersebut diminta untuk bersinergi untuk mengarahkan agenda riset nasional untuk menghadapi masalah yang dihadapi masyarakat. “Kalau Saudara-saudara ingat, satu tahun yang lalu, Bapak Presiden memberikan atensi dengan tambahan anggaran penelitian, dan Alhamdulillah kemarin hasilnya sudah mulai tampak,” tutur Prasetyo.
Sehari sebelumnya, Kamis (6/8/2026), Presiden mengundang jajaran pimpinan dan 150 peneliti BRIN ke Istana Kepresidenan. Selain memberikan pengarahan, Presiden juga meninjau sejumlah hasil riset dan inovasi yang dibuat BRIN.
Hari itu, BRIN mendirikan 15 stan hasil penelitian di sejumlah bidang yang menjadi prioritas. Selama sekitar satu jam, Presiden berkeliling dari satu stan ke stan lainnya untuk mendapatkan penjelasan, tidak terkecuali mengenai teknologi nuklir.
Saat memberikan sambutan, Kepala BRIN Arif Satria menjelaskan bahwa pihaknya tengah mengembangkan sejumlah teknologi, antara lain nuklir dan antariksa sebagai pengungkit kedaulatan energi. Karena itu, dalam pembangunan jaringan fasilitas riset strategis yang tersebar di seluruh Indonesia, reaktor nuklir merupakan salah satunya.
Dalam pengembangan bidang nuklir, kata Arif, BRIN juga berupaya untuk menguasai seluruh rantainya. Dari penambangan dan pemurnian uranium dan torium, fabrikasi bahan bakar, serta teknologi reaktor. Tidak berhenti di situ, aspek keselamatan, metrologi radiasi, serta pengolahan limbah nuklir juga perlu dikuasai.
Menurut Arif, penguasaan setiap mata rantai dalam pengembangan teknologi nuklir harus dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Tanpa itu, Indonesia terancam hanya menjadi pihak yang membeli teknologi dari pihak lain.
“BRIN harus menyiapkan kemampuan teknologi nuklir dari sekarang, sehingga ketika Indonesia memutuskan memasuki era PLTN, kita tidak memulainya sepenuhnya dari nol, dan tidak hanya menjadi pembeli teknologi,” kata dia.
Pengembangan teknologi nuklir untuk mengungkit kedaulatan energi tidak hanya menjadi pembicaraan di Indonesia, tetapi juga di kawasan Asia Tenggara. Sejumlah negara ASEAN berencana mengembangkan energi nuklir untuk memenuhi lonjakan permintaan listrik.
Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Rusia-ASEAN di Kazan, Rusia, akhir Juni 2026 lalu, kerja sama penggunaan nuklir juga menjadi area prioritas. Namun, penggunaannya harus tetap mengedepankan aspek keamanan dan keselamatan.





