Badan Gizi Nasional (BGN) membantah anggapan bahwa guru dibebani dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, distribusi makanan di sekolah telah ditangani oleh petugas khusus, sedangkan tugas tambahan guru hanya mendampingi siswa saat makan sebagai bagian dari edukasi.
Sudaryono menjelaskan, setiap sekolah telah memiliki dua person in charge (PIC) yang mendapat insentif dari BGN, untuk membantu proses distribusi makanan ke setiap kelas.
“Ada anggapan bahwa seolah-olah guru itu terganggu jam belajar mengajarnya karena harus mengurusi ompreng. Itu harusnya tidak. Karena di setiap sekolah ada PIC yang kemudian ada insentif dari kami untuk membantu proses distribusi makan bergizi gratis di kelas-kelas. Ada PIC-nya dua orang,” beber Sudaryono dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Jumat (7/8).
Menurut dia, tugas tambahan guru dalam program MBG adalah mendampingi siswa saat makan untuk memberikan edukasi mengenai kebiasaan makan yang baik.
“Lantas guru ini apa tugas atau tambahan tugasnya? Adalah ikut menyertai makan bersama murid-muridnya. Dalam rangka apa? Dalam rangka untuk edukasi kepada murid-murid siswa di kelas itu. Sudah cuci tangan kah, antre mengambil ompreng, duduk, berdoa, makan dengan baik, dijelaskan kandungan gizinya, termasuk dimakan sebelum jam, atau harus dimakan sebelum jam berapanya,” papar Sudaryono.
Selain itu, guru juga diminta mengingatkan siswa agar tidak membawa pulang makanan MBG guna meminimalkan risiko keracunan.
“Nah, manakala nanti ada yang membawa pulang, maka kita beri anjuran jangan dibawa pulang, takutnya ada kasus menjadi penyebab kasus keracunan,” tegas Sudaryono.





