Kepercayaan itu menjadi pencapaian istimewa. Afandhy dipilih mewakili seluruh lulusan karena dinilai memiliki prestasi akademik, kontribusi bagi komunitas mahasiswa, serta komitmen tinggi selama menempuh pendidikan di kampus tersebut.
Dalam pidato yang disampaikan di hadapan rektor, dosen, keluarga, dan para wisudawan, Afandhy mengenang perjalanan hidupnya yang penuh tantangan. Ia mengungkapkan kehilangan kedua orang tuanya saat berusia 14 tahun.
"Orang tua saya tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan di universitas, tetapi mereka selalu percaya bahwa pendidikan dapat mengubah masa depan anak-anak mereka. Ketika saya berusia 14 tahun, saya kehilangan keduanya. Hari ini, saya adalah orang pertama di keluarga saya yang lulus dengan gelar Magister," cerita Afandhy dikutip dari Instagram @afiktuasikal, Jumat, 7 Agustus 2026.
Menurut Afandhy, gelar yang diraihnya bukan hasil perjuangan seorang diri. Keberhasilan tersebut merupakan buah dari dukungan keluarga, guru, hingga orang-orang yang terus percaya kepadanya.
"Momen ini bukan hanya milik saya. Momen ini milik orang tua saya, keluarga saya, guru-guru saya, dan semua orang yang percaya pada saya sebelum saya percaya pada diri saya sendiri. Karena saya telah belajar bahwa tidak ada gelar yang pernah diraih sendirian," kata dia.
Sebelum melanjutkan studi di Inggris, Afandhy merupakan lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Kesempatan melanjutkan pendidikan ke University of York diperolehnya melalui beasiswa LPDP dari Pemerintah Indonesia.
Dalam pidatonya, Afandhy juga memperkenalkan nilai-nilai budaya dari kampung halamannya di Pelauw, Maluku. Ia mengutip petuah leluhur berbunyi "Alumie Umie, Sayangie Inyie" yang mengajarkan apa yang memang ditakdirkan untuk seseorang akan menemukan jalannya sendiri.
Baca juga: Beasiswa Chevening-Kemendikdasmen Dibuka! Kuliah Gratis S2 di Inggris: Simak Syarat dan Jadwalnya
Ia mengaku baru benar-benar memahami makna petuah tersebut setelah berhasil berdiri di panggung wisuda University of York. Afandhy juga menceritakan pengalaman pertamanya tinggal jauh dari Indonesia sebagai mahasiswa internasional.
Keramahan masyarakat York membuat dirinya merasa diterima meski berada ribuan kilometer dari rumah. Sehingga tak perlu merasa kecil hati selama menjalani pendidikan di Inggris.
"Bukan melalui sesuatu yang luar biasa, tetapi melalui tindakan kebaikan yang sederhana. Seperti sopir bus yang tersenyum dan menyapa selamat pagi, orang-orang yang saling menyapa saat berpapasan, dan universitas yang menghargai keyakinan saya serta memberi saya tempat untuk beribadah," ungkap dia.
Ia menuturkan pengalaman belajar di luar negeri mengajarkan pendidikan bukan hanya untuk mengubah kehidupan pribadi. Tetapi juga menjadi bekal untuk membawa manfaat bagi masyarakat.
"Pendidikan bukan hanya tentang mengubah hidup kita sendiri, tetapi juga tentang membantu mengubah hidup orang lain," tutur dia.
Menjelang akhir pidato, Afandhy mengajak seluruh hadirin mengenal Indonesia melalui lagu nasional Tanah Airku. Ia menyanyikan sebagian lirik lagu tersebut sebagai pengingat sejauh apa pun pendidikan membawa seseorang, kampung halaman tidak boleh dilupakan.
"Lirik tersebut mengingatkan saya bahwa sejauh mana pun pendidikan membawa kita, kita tidak boleh kehilangan tempat yang pertama kali mengajari kita cara bermimpi," kata dia.
Afandhy juga mengucapkan terima kasih kepada LPDP yang telah membiayai studinya di Inggris. Tak lupa memberika penghormatan kepada para dosen pembimbing serta keluarga yang menyaksikan prosesi wisuda melalui siaran langsung dari kampung halamannya di Maluku.
Di penghujung pidato, Afandhy mengenang kedua orang tuanya yang telah tiada. "Untuk orang tua tercinta, di mana pun kalian berada, saya harap kalian tersenyum hari ini," ucap dia yang kembali disambut tepuk tangan para hadirin.
Baca juga: Waduh! Banyak Atlet Indonesia Gagal Kuliah ke Amerika karena TOEFL dan SAT
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)





