Tidak ada orang tua yang mengajari anaknya berbohong. Tidak ada guru yang berharap muridnya tumbuh menjadi pribadi yang hanya mau berbuat baik jika ada imbalan. Namun pendidikan sesungguhnya tidak hanya berlangsung di rumah dan di sekolah. Anak-anak juga belajar dari ruang publik, dari percakapan orang dewasa, dari media sosial, dan dari kebijakan yang mereka saksikan setiap hari.
Karena itulah, belakangan ini saya sering bertanya kepada diri sendiri: apa yang sesungguhnya sedang kita ajarkan kepada mereka? Pertanyaan itu muncul ketika ruang publik ramai membicarakan pemberian hadiah atau insentif bagi warga yang membantu mengungkap tindak kejahatan atau melaporkan pelanggaran tertentu. Sebagai instrumen kebijakan, pendekatan seperti ini mungkin memiliki alasan dan tujuan yang dapat dipahami.
Dalam situasi tertentu, penghargaan memang dapat mempercepat partisipasi masyarakat. Namun sebagai seorang pendidik, saya melihat persoalan yang berbeda. Bukan pada besar kecilnya hadiah, melainkan pada pesan yang diam-diam diterima anak-anak ketika mereka menyaksikan kebaikan mulai dikaitkan dengan imbalan.
Ki Hajar Dewantara mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses memberi teladan. Ing ngarsa sung tulada bukan sekadar semboyan, melainkan pengingat bahwa setiap pemimpin, setiap orang tua, setiap guru, bahkan setiap orang dewasa sedang menjadi buku pelajaran bagi generasi berikutnya. Anak-anak mungkin belum memahami bahasa kebijakan, tetapi mereka sangat piawai membaca contoh.
Mereka belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan, melainkan dari apa yang kita lakukan. Selama menjadi kepala sekolah, saya justru belajar banyak dari hal-hal kecil. Suatu hari seorang siswa menyerahkan dompet yang ditemukannya di halaman sekolah.
Ketika saya bertanya mengapa ia mengembalikannya, jawabannya sederhana, "Karena itu bukan milik saya, Pak." Tidak ada hadiah. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada kamera yang merekam. Namun di situlah saya melihat pendidikan karakter bekerja. Anak itu tidak sedang mengejar penghargaan. Ia hanya melakukan apa yang menurut hati nuraninya benar.
Di sekolah, kami tidak pernah membayar siswa agar berkata jujur atau meminta maaf setelah berbuat salah. Kami memberi penghargaan atas prestasi, tetapi tidak pernah membeli nilai-nilai yang seharusnya tumbuh dari kesadaran. Sebab pendidikan tidak bertujuan menciptakan anak yang berbuat baik ketika ada hadiah, melainkan pribadi yang tetap memilih kebaikan ketika tidak ada siapa pun yang melihat.
Pandangan ini sejalan dengan Thomas Lickona yang menjelaskan bahwa karakter dibangun melalui tiga hal: mengetahui yang baik, mencintai yang baik, dan melakukan yang baik. Ketiga unsur itu tidak dapat dipisahkan. Anak yang hanya tahu bahwa kejujuran itu penting belum tentu menjadi pribadi yang jujur.
Pendidikan baru berhasil ketika nilai itu berubah menjadi kebiasaan yang lahir dari hati. Pemikiran tersebut diperkuat oleh Edward L. Deci dan Richard M. Ryan melalui teori Self-Determination. Mereka membedakan motivasi intrinsik, yaitu dorongan yang muncul dari kesadaran diri, dengan motivasi ekstrinsik yang muncul karena hadiah atau tekanan dari luar.
Penghargaan tentu memiliki tempat dalam kehidupan. Namun apabila perilaku yang semestinya lahir dari kesadaran moral terlalu sering dikaitkan dengan imbalan, motivasi intrinsik dapat melemah. Orang mulai bertanya bukan lagi, "Apa yang benar?", melainkan, "Apa yang saya dapatkan?"
Di sinilah letak kegelisahan saya. Persoalannya bukan apakah sebuah kebijakan efektif atau tidak. Persoalannya adalah apakah ruang publik sedang memperkuat atau justru menggeser fondasi pendidikan karakter yang selama ini dibangun di rumah dan di sekolah. Pendidikan selalu mengajarkan bahwa kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab adalah nilai.
Nilai tidak memiliki tarif. Nilai hidup karena diyakini, bukan karena dibayar. Tentu tulisan ini bukan ajakan untuk menolak setiap bentuk penghargaan. Dalam banyak keadaan, apresiasi merupakan bagian penting dari kebijakan publik.
Namun apresiasi hendaknya menjadi pengakuan atas kontribusi, bukan alasan utama seseorang berbuat baik. Negara boleh menggunakan berbagai instrumen untuk menjaga keamanan, tetapi negara juga perlu menyadari bahwa setiap kebijakan selalu membawa pesan pendidikan.
Barangkali karena itu saya lebih memilih melihat setiap kebijakan dari dua sisi sekaligus. Sisi pertama adalah efektivitasnya menyelesaikan persoalan hari ini. Sisi kedua adalah pelajaran apa yang dibawanya bagi anak-anak yang akan memimpin negeri ini pada masa depan.
Sebab keberhasilan sebuah kebijakan tidak hanya diukur dari hasil yang tampak hari ini, tetapi juga dari karakter yang tumbuh esok hari. Kelak, mungkin seorang guru akan bertanya kepada murid-muridnya, "Mengapa kita harus berbuat baik?" Saya berharap masih ada anak yang mengangkat tangan dan menjawab, "Karena itu memang benar, Pak."
Bukan jawaban yang berbunyi "Karena ada hadiahnya."





