Tahun lalu, sebuah kapal Penjaga Pantai Tiongkok bertabrakan dengan kapal perusak Angkatan Laut Tiongkok sendiri saat mengejar kapal patroli Filipina di Laut Tiongkok Selatan. Rekaman insiden tersebut sempat mengejutkan dunia internasional, tetapi otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT) menghapus seluruh video dan diskusi terkait. Baru setahun kemudian, ketika menganugerahkan gelar yang disebut sebagai “martir”, PKT secara tidak langsung mengakui bahwa dua personel Penjaga Pantai Tiongkok tewas dalam insiden tersebut. Sejumlah analis menilai tujuan PKT adalah menutupi kegagalan operasi gabungan antara angkatan laut dan penjaga pantai serta kekacauan dalam sistem komando militernya.
EtIndonesia.com Media resmi PKT, Yangguang Junshi, pada 5 Agustus mengumumkan bahwa empat orang dianugerahi gelar “Penjaga Setia Polisi Bersenjata” secara anumerta. Di antaranya, dua anggota Penjaga Pantai Tiongkok, Yi Xinyu dan Cheng Long, dilaporkan meninggal saat menjalankan apa yang disebut sebagai “operasi perlindungan hak” di Laut Tiongkok Selatan pada 11 Agustus 2025.
Karena tanggal kematian mereka sama persis dengan tanggal insiden tabrakan antara kapal Penjaga Pantai Tiongkok bernomor 3104 dan kapal perusak berpeluru kendali Guilin milik Angkatan Laut Tiongkok tahun lalu, hal ini dianggap sebagai pengakuan tidak langsung bahwa kecelakaan tabrakan antar kapal milik sendiri tersebut setidaknya menewaskan dua orang, setelah fakta itu ditutup-tutupi selama satu tahun.
“Ini benar-benar memalukan. Entah disebabkan intrik politik, pelatihan yang buruk, konflik antara penjaga pantai dan angkatan laut, atau kemampuan operasi gabungan yang sangat lemah, semuanya merupakan hal yang memalukan. Karena itulah, meskipun para prajurit yang tewas saat bertugas harus diberi gelar martir atau penghargaan, pengumuman dan pemberian penghargaan itu baru dilakukan satu tahun kemudian,” ujar peneliti Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Shen Mingshi.
Setelah tabrakan terjadi, Penjaga Pantai Filipina segera menyampaikan melalui radio bahwa mereka siap memberikan obat-obatan dan bantuan medis. Namun, pihak PKT tidak memberikan tanggapan apa pun dan tetap melanjutkan pengejaran terhadap kapal Filipina. Operasi pencarian dan penyelamatan baru dilakukan sendiri sekitar satu jam kemudian.
Insiden tersebut menuai kecaman karena PKT dinilai mengambil tindakan berisiko tinggi yang justru mengakibatkan jatuhnya korban di pihak sendiri. Yang lebih memicu kontroversi adalah media-media PKT memilih bungkam mengenai kecelakaan fatal tersebut, sementara video, foto, dan pembahasan terkait dihapus dalam skala besar.
“Kemungkinan penjaga pantai dan angkatan laut sama-sama berusaha menjadi yang pertama mencegat atau memaksa kapal patroli Filipina mengubah arah. Namun, karena komunikasi dan koordinasi antara kedua kapal tidak memadai, akhirnya terjadilah tabrakan tersebut,” tambah Shen Mingshi.
Para analis menilai bahwa pendekatan PKT yang bersifat hegemonik dalam mendorong ekspansi di Laut Tiongkok Selatan tidak hanya meningkatkan ketegangan di kawasan, tetapi juga memperlihatkan kelemahan dan kekacauan dalam sistem militernya sendiri.
Para pengamat mengkritik bahwa di satu sisi PKT berupaya menunjukkan kekuatan militernya kepada dunia, tetapi di sisi lain menghindari pengakuan atas kesalahan sendiri. Kurangnya transparansi ini kembali memicu kecaman dari masyarakat internasional.
Laporan oleh reporter NTD Television, Yi Xin dan Qiu Yue





