jpnn.com, JAKARTA - Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) menjadi institusi pertama di Asia yang berhasil melakukan implantasi perangkat bantu jantung Left Ventricular Assist Device (LVAD) CoreHeart 6.
Perangkat LVAD CoreHeart 6 merupakan alat bantu jantung dengan ukuran terkecil di dunia saat ini.
BACA JUGA: Sempat Kritis di RSCM, Satu Korban Bentrokan di Menteng Meninggal Dunia
Keberhasilan prosedur medis ini dinilai memberikan harapan baru bagi para pasien gagal jantung stadium lanjut yang memiliki pilihan terapi terbatas.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Azhar Jaya menyebut teknologi LVAD sebagai lompatan besar dalam penanganan kasus gagal jantung kronis.
BACA JUGA: Klinik Yasmin RSCM Kencana Kembali dengan Wajah Baru, Perkuat Layanan Fertilitas
"Selama ini terapi utama gagal jantung stadium akhir adalah transplantasi jantung," ujar Azhar Jaya di Jakarta Pusat, baru-baru ini.
Azhar menjelaskan transplantasi jantung sulit dilakukan karena keterbatasan donor serta minimnya dokter dengan kompetensi khusus.
BACA JUGA: RSCM Sampaikan Kondisi Luka bakar Aktivis KontraS Andrie Yunus
Dia menilai kehadiran teknologi LVAD memberi harapan baru untuk memperpanjang usia sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien.
Sebagai perwakilan pemerintah, dia menekankan penguasaan teknologi medis kelas dunia ini harus menjadi awal dari transfer pengetahuan kepada tenaga kesehatan lainnya di Indonesia.
"Ilmunya jangan berhenti di satu tim. Semakin banyak dokter yang menguasai teknologi ini, semakin banyak pula pasien yang bisa diselamatkan," katanya.
Azhar menyampaikan visi Kementerian Kesehatan agar rumah sakit nasional di Indonesia dapat menjadi pemain utama dalam pengembangan teknologi kesehatan global.
Dia optimistis pasien dari luar negeri seperti Singapura dan Malaysia kelak akan menjadikan Indonesia sebagai destinasi untuk layanan implantasi LVAD.
"Kami tidak ingin rumah sakit nasional hanya menjadi penonton. Kami ingin menjadi pemain," tegasnya secara lugas.
Di sisi lain, Founder Borderless Healthcare Group sekaligus pendiri Heartspan.ai, Wei Siang Yu berpendapat keberhasilan ini mencakup pembangunan ekosistem layanan gagal jantung yang menyeluruh.
Dia mengungkapkan Indonesia memiliki peluang emas untuk menjadi pusat rehabilitasi kardiovaskular serta destinasi resor kesehatan jantung di kawasan Asia.
Pihak HeartSpan.ai saat ini juga sedang mengembangkan inovasi teknologi LVAD tanpa kabel guna meminimalkan risiko infeksi pada pasien di masa depan.
"Ini bukan sekadar menghadirkan perangkat medis, tetapi membangun ekosistem pelayanan gagal jantung yang berkelanjutan melalui pelatihan, inovasi, dan kolaborasi internasional," ujarnya.
Direktur Utama RSCM, Supriyanto Dharmoredjo menilai pencapaian ini bukti nyata kepercayaan dunia internasional terhadap kompetensi tenaga medis Indonesia.
Prosedur ini melibatkan tim multidisiplin mulai dari dokter jantung hingga perawat intensif.
Keberhasilan prosedur impantasi ini disebut bukan hasil kerja satu orang, tetapi kolaborasi seluruh tim.
Dia berharap kerja sama dengan HeartSpan.ai bisa terus berkembang, sehingga RSCM dapat menjadi pusat pelatihan LVAD di Asia
"Ini merupakan harapan baru bagi masyarakat Indonesia. Kami ingin RSCM menjadi pusat pengembangan teknologi ini di kawasan Asia," ucap Supriyanto. (rom/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Update Kondisi Andrie KontraS: RSCM Temukan Penipisan Kornea
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Romaida Uswatun Hasanah




