Terkini, Makassar — Sekitar 6.000 peserta dari tujuh majelis dan lembaga keagamaan bersama masyarakat umum memeriahkan Jalan Sehat Anti Mager Harmoni Kemanusiaan Lintas Agama di Makassar, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan yang digelar Forum Kemanusiaan Lintas Agama (FKLA) Sulawesi Selatan bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan tersebut dipusatkan di depan Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar.
Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman melepas langsung ribuan peserta. Sebelum pelepasan, peserta terlebih dahulu disuguhi atraksi barongsai dan pencak silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah.
Dari depan Rujab Gubernur Sulsel, peserta berjalan menyusuri Jalan Karunrung, Jalan Sultan Hasanuddin, Jalan M.H. Thamrin, Jalan Kajaolalido, hingga Jalan Amanagappa, sebelum kembali ke titik finis di Jalan Jenderal Sudirman.
Peserta berasal dari berbagai unsur keagamaan, di antaranya Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Keuskupan Agung Makassar, Walubi, Permabudhi, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), serta masyarakat umum.
Harmoni Lintas Agama dalam Aksi Nyata
Ketua FKLA Sulsel Prof. Dr. KH Mustari Bosra mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun hubungan lintas agama melalui ruang perjumpaan dan kerja bersama.
Menurutnya, harmoni tidak cukup diwujudkan melalui sikap saling menghormati, tetapi juga perlu diterjemahkan dalam kegiatan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“FKLA ingin membangun toleransi yang aktif. Kita tidak hanya berbicara tentang hidup berdampingan, tetapi bagaimana umat beragama bertemu, bekerja bersama, dan memberi manfaat bagi kemanusiaan,” kata Mustari.
Mustari juga menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman yang menggandeng FKLA dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Bapak Gubernur Sulawesi Selatan yang telah menggandeng FKLA dalam kegiatan ini. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat harmoni dan kerja-kerja kemanusiaan lintas agama,” ujarnya.
Ia menilai sinergi pemerintah dengan berbagai majelis agama memiliki peran penting dalam memperkuat kepercayaan sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
“Kemanusiaan menjadi titik temu kita. Perbedaan agama tidak menghalangi kita untuk berbuat baik dan berkolaborasi,” katanya.
Tak Sekadar Jalan Sehat
Jalan Sehat Anti Mager Harmoni Kemanusiaan juga dirancang sebagai ruang pelayanan sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Panitia menghadirkan bazar yang melibatkan puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kehadiran UMKM tersebut memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan produk mereka kepada masyarakat.
Di bidang kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan bersama Dinas Kesehatan Kota Makassar menyediakan layanan Cek Kesehatan Gratis bagi peserta.
Layanan sosial lainnya meliputi donor darah, pemeriksaan mata oleh Rumah Sakit Mata Orbita, serta layanan fisioterapi yang diberikan Tim Bantuan Fisioterapi Sternum Universitas Hasanuddin.
Ketua Panitia Jalan Sehat Anti Mager Harmoni Kemanusiaan, Hadisaputra, mengatakan kegiatan tersebut mendapat respons positif dari masyarakat.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada sekitar 6.000 peserta yang hadir, termasuk seluruh majelis agama, komunitas, relawan, UMKM, tenaga kesehatan, dan masyarakat yang ikut menyukseskan kegiatan ini,” kata Hadi, sapaan Hadisaputra.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat, khususnya pengguna jalan yang aktivitasnya terdampak pengaturan lalu lintas selama kegiatan berlangsung.
“Kami memohon maaf kepada pengguna jalan dan masyarakat yang terdampak pengaturan lalu lintas. Terima kasih atas pengertian dan dukungannya,” ujarnya.
Semangat Sehat dan Persatuan
Hadi menjelaskan, kegiatan tersebut digelar dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, sekaligus mendukung gerakan hidup sehat Anti Mager yang dikembangkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Menurutnya, kehadiran sekitar 6.000 peserta memperlihatkan bahwa olahraga dapat menjadi ruang yang lebih luas untuk membangun kebersamaan.
Jalan sehat tersebut tidak hanya mendorong masyarakat untuk aktif bergerak dan menjaga kesehatan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan lintas agama, pelayanan sosial, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Semangat kebersamaan yang ditampilkan dalam kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk membangun kepedulian dan kerja kemanusiaan bersama di Sulawesi Selatan.




