Blora (ANTARA) - Para siswa yang menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 18 Blora, Jawa Tengah selama setahun terakhir memiliki perkembangan yang mengagumkan, terutama dari rasa kepercayaan diri maupun prestasi akademik yang meningkat dibanding sebelumnya.
"Sejak awal masuk hingga saat ini, genap satu tahun para siswa terus dipantau perkembangan akademik maupun mental dan spiritualnya," kata Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Blora Luluk Kusuma Agung Ariadi di Blora, Sabtu.
Menurut dia dalam waktu satu tahun telah terlihat perubahan pada diri siswa, khususnya dalam keberanian dan kepercayaan diri.
"Banyak yang sudah berani punya mimpi besar, kepercayaan diri, dan berprestasi. Siswa juga berani berpidato dalam bahasa Inggris, bahasa Arab, dan bahasa Jawa," ujarnya.
Sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu tersebut tidak hanya memberikan pembelajaran akademik, tetapi juga mendorong siswa untuk berani bermimpi, mengembangkan potensi, dan membangun kemandirian.
Ia mengatakan perkembangan tersebut juga terlihat dari capaian siswa di berbagai bidang, baik akademik maupun nonakademik.
"Di bidang akademik, yakni sains dan nonakademik juga menunjukkan perkembangan yang baik," ujarnya.
Baca juga: Kemensos targetkan 150 ribu siswa masuk Sekolah Rakyat pada 2027
Luluk berharap proses pendidikan di SRMA 18 Blora dapat terus mendorong tumbuh kembang siswa sehingga mereka mampu menjadi generasi yang berprestasi dan memiliki masa depan lebih baik.
"Kami berharap tumbuh kembang anak di SRMA 18 Blora menjadi lebih baik, berprestasi, dan menyiapkan generasi terbaik ke depannya," ujarnya.
Sementara itu, Kepala SRMA 18 Blora Tri Yuli Setyoningrum mengatakan perubahan peserta didik juga terlihat dari kondisi fisik dan kesehatan setelah menjalani pendidikan selama satu tahun.
Ia menjelaskan saat pertama masuk sekolah pada Juli 2025 masih banyak siswa yang memiliki indeks massa tubuh (IMT) di bawah normal atau mengalami kekurangan berat badan.
"Pada Juli 2026 kami melakukan CKG bersama Puskesmas Cepu dan hasilnya sudah banyak peningkatan, terlebih pada tinggi badan, berat badan, dan kualitas kesehatan mereka," ujarnya.
Menurut dia sejumlah persoalan kesehatan yang sebelumnya dialami siswa juga mulai tertangani, termasuk masalah gigi karies dan penyakit tidak menular.
Perubahan tersebut, kata Yuli, berjalan beriringan dengan perkembangan kemampuan dan prestasi siswa.
Baca juga: Akhir Agustus, 100 Sekolah Rakyat beroperasi di seluruh Indonesia
Selama setahun, siswa SRMA 18 Blora telah meraih prestasi dalam berbagai perlombaan di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional.
"Total ada delapan anak berprestasi dalam 14 lomba bidang akademik dan non akademik, baik tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional," katanya.
Belum lama ini, SRMA 18 Blora juga mengirimkan sejumlah siswa ke Bandung untuk mengikuti olimpiade Matematika dengan mewakili Jawa Tengah.
Selain itu, lima siswa telah memperoleh piagam penghargaan dari Menteri Sosial atas prestasi yang mereka raih.
Yuli mengatakan tahun pertama menjadi masa penting bagi SRMA 18 Blora untuk membangun fondasi, terutama menumbuhkan kepercayaan diri dan keberanian siswa.
Memasuki tahun kedua, pihaknya akan terus mendorong siswa agar semakin berani tampil dan menyampaikan kemampuan mereka di tingkat yang lebih tinggi.
"Mereka harus semakin berani berbicara di tingkat nasional. Dan mimpi-mimpi yang mereka punya, dengan konsisten bisa untuk meraihnya," ujarnya.
Baca juga: BPIP: Satu siswa Sekolah Rakyat jadi calon Paskibraka nasional
"Sejak awal masuk hingga saat ini, genap satu tahun para siswa terus dipantau perkembangan akademik maupun mental dan spiritualnya," kata Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Blora Luluk Kusuma Agung Ariadi di Blora, Sabtu.
Menurut dia dalam waktu satu tahun telah terlihat perubahan pada diri siswa, khususnya dalam keberanian dan kepercayaan diri.
"Banyak yang sudah berani punya mimpi besar, kepercayaan diri, dan berprestasi. Siswa juga berani berpidato dalam bahasa Inggris, bahasa Arab, dan bahasa Jawa," ujarnya.
Sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu tersebut tidak hanya memberikan pembelajaran akademik, tetapi juga mendorong siswa untuk berani bermimpi, mengembangkan potensi, dan membangun kemandirian.
Ia mengatakan perkembangan tersebut juga terlihat dari capaian siswa di berbagai bidang, baik akademik maupun nonakademik.
"Di bidang akademik, yakni sains dan nonakademik juga menunjukkan perkembangan yang baik," ujarnya.
Baca juga: Kemensos targetkan 150 ribu siswa masuk Sekolah Rakyat pada 2027
Luluk berharap proses pendidikan di SRMA 18 Blora dapat terus mendorong tumbuh kembang siswa sehingga mereka mampu menjadi generasi yang berprestasi dan memiliki masa depan lebih baik.
"Kami berharap tumbuh kembang anak di SRMA 18 Blora menjadi lebih baik, berprestasi, dan menyiapkan generasi terbaik ke depannya," ujarnya.
Sementara itu, Kepala SRMA 18 Blora Tri Yuli Setyoningrum mengatakan perubahan peserta didik juga terlihat dari kondisi fisik dan kesehatan setelah menjalani pendidikan selama satu tahun.
Ia menjelaskan saat pertama masuk sekolah pada Juli 2025 masih banyak siswa yang memiliki indeks massa tubuh (IMT) di bawah normal atau mengalami kekurangan berat badan.
"Pada Juli 2026 kami melakukan CKG bersama Puskesmas Cepu dan hasilnya sudah banyak peningkatan, terlebih pada tinggi badan, berat badan, dan kualitas kesehatan mereka," ujarnya.
Menurut dia sejumlah persoalan kesehatan yang sebelumnya dialami siswa juga mulai tertangani, termasuk masalah gigi karies dan penyakit tidak menular.
Perubahan tersebut, kata Yuli, berjalan beriringan dengan perkembangan kemampuan dan prestasi siswa.
Baca juga: Akhir Agustus, 100 Sekolah Rakyat beroperasi di seluruh Indonesia
Selama setahun, siswa SRMA 18 Blora telah meraih prestasi dalam berbagai perlombaan di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional.
"Total ada delapan anak berprestasi dalam 14 lomba bidang akademik dan non akademik, baik tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional," katanya.
Belum lama ini, SRMA 18 Blora juga mengirimkan sejumlah siswa ke Bandung untuk mengikuti olimpiade Matematika dengan mewakili Jawa Tengah.
Selain itu, lima siswa telah memperoleh piagam penghargaan dari Menteri Sosial atas prestasi yang mereka raih.
Yuli mengatakan tahun pertama menjadi masa penting bagi SRMA 18 Blora untuk membangun fondasi, terutama menumbuhkan kepercayaan diri dan keberanian siswa.
Memasuki tahun kedua, pihaknya akan terus mendorong siswa agar semakin berani tampil dan menyampaikan kemampuan mereka di tingkat yang lebih tinggi.
"Mereka harus semakin berani berbicara di tingkat nasional. Dan mimpi-mimpi yang mereka punya, dengan konsisten bisa untuk meraihnya," ujarnya.
Baca juga: BPIP: Satu siswa Sekolah Rakyat jadi calon Paskibraka nasional





