Pantau - Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mengambil tindakan terhadap seorang staf bernama Yahav Lichner terkait tuduhan bahwa ia melakukan spionase untuk Israel ketika sebelumnya bertugas di lingkungan PBB.
Dugaan tersebut dikonfirmasi sedang ditangani UNICEF oleh Wakil Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Farhan Haq pada Jumat (7/8/2026).
Lichner diketahui memimpin kantor UNICEF di Washington DC, Amerika Serikat, ketika tindakan terhadap dirinya diambil.
Lichner dilaporkan ditempatkan dalam status cuti administratif terkait tuduhan tersebut.
"Yang dapat saya sampaikan adalah UNICEF mengetahui adanya tuduhan serius terkait seorang pegawai, dan kami sedang mengambil tindakan yang sesuai," kata Haq.
PBB Tegaskan Staf Wajib Independen dan ImparsialHaq mengatakan tindakan spionase apabila terbukti bertentangan dengan kewajiban yang harus dipatuhi staf PBB.
"Jika benar terbukti, tindakan tersebut tidak sesuai dengan kewajiban staf berdasarkan Piagam PBB, peraturan kepegawaian, dan standar perilaku bagi pegawai negeri sipil internasional, yang semuanya menegaskan bahwa tanggung jawab staf bersifat internasional, bukan nasional, serta mengharuskan independensi dan imparsialitas para staf PBB," ujar Haq.
Ketentuan tersebut menegaskan bahwa staf PBB memiliki tanggung jawab internasional dan dituntut menjaga independensi serta imparsialitas dalam menjalankan tugas.
Dugaan Spionase Muncul dari Investigasi Surel BocorDugaan terhadap Lichner muncul dalam investigasi kantor media Drop Site yang didasarkan pada sejumlah surat elektronik atau surel yang bocor.
Surel tersebut diperoleh dari kelompok peretas Handala dan mencakup periode 2014 hingga 2015.
Berdasarkan investigasi Drop Site, Lichner diduga memberikan informasi rahasia PBB kepada pejabat Israel ketika bertugas di Dana Kependudukan PBB (UNFPA).
UNICEF hingga kini mengambil tindakan terhadap pegawai tersebut terkait tuduhan serius yang muncul, sementara dugaan spionase itu belum dinyatakan terbukti sebagaimana ditegaskan dalam pernyataan PBB.




