Jakarta, tvOnenews.com - Sebelum menjadi pedagang pisang cokelat (piscok) di Stasiun Pondok Cina (Pocin), ternyata pelaku mutilasi di Depok pernah menjadi tukang pemotong daging.
Hal ini diungkapkan Katimsus 2 Unit 1 Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya Ipda Breggy Yesaya Imanuel Sutijono pada Sabtu (8/8/2026).
Adapun kasus mutilasi ini bermula saat sebuah karung berisi jasad manusia ditemukan dalam kondisi tak lengkap di Pancoran Mas, Depok.
Pelaku merupakan Saepul (26), sedangkan korbannya adalah K (51). Mereka saling mengenal di media sosial.
- Istimewa
Breggy memaparkan pembunuhan terjadi di kontrakan Saepul di kawasan Cipayung, Depok, pada 23 Juli 2026 sore.
Saepul ternyata sempat membiarkan korban sekarat hingga tak bernyawa sebelum akhirnya memutilasi jasad korban.
Setelah dipastikan korban tak bernyawa, Saepul memutilasi jasad korban sekitar pukul 16.00 WIB.
"Ada jeda 3,5 jam sebelum akhirnya pelaku membuang potongan pertama jasad korban pada pukul 18.30 WIB, kemudian potongan kedua bagian kaki dibuang pada pukul 19.00 WIB," terangnya.
Saepul memutilasi korban lantaran dia berpikir akan sulit untuk menghilangkan jejak kejahatannya. Karena pernah bekerja di tukang daging, dia pun terpikir untuk memutilasi korban.
"Karena berpikir agak susah membuang jasad utuh. Pelaku yang memang memiliki basic tukang daging, bagian pemotong daging, pelaku kemudian memutilasi jasad korban," ungkapnya.
Adapun motif pelaku menghabisi nyawa korban adalah karena ingin menguasai motor PCX milik K.
Pasalnya, dia sempat melihat di media sosial bahwa K berpose dengan motor tersebut.
"Dari situlah, karena desakan ekonomi, pelaku memiliki niat untuk menguasai sepeda motor tersebut," katanya.
Di samping itu, pelaku juga sempat mengungkapkan niatnya kepada temannya yang menjadi saksi mahkota.
Saepul menghubungi temannya dan mengungkapkan keinginannya untuk membunuh orang pada tanggal 23 Juli 2026.
"Lalu ditanyakan oleh saksi ini 'Bagaimana cara mendapatkannya?'. ‘Enggak tahu. Mungkin membunuh orang'. Begitu satu kalimat oleh pelaku inisial S," pungkasnya. (nsi)




