PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) tengah mengkaji pengembangan bisnis truk bekas sebagai bagian dari strategi, menjaga ekosistem kendaraan niaga Fuso di Indonesia.
Langkah tersebut muncul setelah perusahaan melihat tingginya permintaan pasar terhadap truk bekas. Namun ketersediaan di pasaran masih berstandar Euro 2.
"Karena truk Euro 4 kan baru mulai hadir 2022, jadi usianya baru sekitar empat tahun dan belum banyak yang masuk pasar mobil bekas. Akhirnya yang banyak dicari tetap Euro 2," buka Sales & Marketing Director PT KTB, Aji Jaya saat ditemui di ICE BSD, Tangerang, Rabu (5/7).
Melihat peluang tersebut, KTB mulai menyusun konsep bisnis truk bekas yang terintegrasi dengan penjualan kendaraan baru.
Nantinya, pelanggan yang ingin mengganti armada tidak perlu lagi mencari pembeli sendiri, karena KTB berencana memfasilitasi proses penjualan melalui skema trade-in.
KTB membuka peluang bekerja sama dengan showroom kendaraan bekas yang memiliki pengalaman di bidang tersebut, sementara diler resmi Fuso akan berperan memberikan standar inspeksi dan penilaian kondisi kendaraan.
"Kami sedang studi dan mengembangkan bisnis ini. Konsepnya bagaimana konsumen yang sudah punya truk Fuso bisa lebih mudah menjual kendaraan bekasnya ketika ingin membeli unit baru," lanjutnya.
Menurut Aji, proses inspeksi menjadi bagian penting agar kualitas truk bekas tetap terjaga. Karena itu, KTB tengah menyiapkan standar pemeriksaan yang nantinya digunakan oleh showroom rekanan sebelum kendaraan dipasarkan kembali.
"Konsepnya nanti inspeksi mengacu pada standar dari kami. Showroom yang menjadi mitra akan mengetahui komponen apa saja yang harus diperiksa, mana yang harus diperbaiki atau diganti sebelum kendaraan dijual kembali," ujarnya.
Aji menilai ekosistem tersebut juga akan memberikan keuntungan bagi pemilik truk Fuso. Selain lebih mudah menjual kendaraan lama, nilai jual kembali armada juga diharapkan tetap terjaga karena melalui proses inspeksi yang jelas dan didukung jaringan resmi.
"Berdasarkan fakta, resale value Fuso memang masih termasuk yang paling tinggi. Harapannya nanti konsumen yang ingin mengganti kendaraan tidak kesulitan menjual unit lamanya. Kalau prosesnya mudah, tentu mereka akan kembali membeli Fuso," katanya.
Selain menyiapkan bisnis kendaraan bekas, KTB juga memastikan dukungan suku cadang tetap tersedia untuk populasi truk Euro 2 yang masih beroperasi di Indonesia. Menurut Aji, jumlah kendaraan generasi tersebut masih sangat besar sehingga kebutuhan komponennya masih akan terus ada dalam beberapa tahun ke depan.
Ia menambahkan, usia pakai truk di Indonesia relatif panjang. Armada logistik umumnya digunakan selama lima hingga sepuluh tahun sebelum dijual kembali. Sementara di sektor pertambangan, siklus pergantian kendaraan lebih cepat karena tingkat penggunaan yang jauh lebih berat.
"Kalau logistik rata-rata dipakai lima sampai sepuluh tahun. Berbeda dengan mining, biasanya mengikuti masa kontrak sekitar tiga tahun karena tingkat eksploitasi kendaraannya jauh lebih tinggi. Selama kendaraan masih sehat dan suku cadangnya tersedia, banyak konsumen memilih tetap mengoperasikannya," tutup Aji.





