Teqball mulai mendapat perhatian dari kalangan anak muda di Jawa Timur. Pengprov Persatuan Olahraga Teqball Seluruh Indonesia (POTSI) Jawa Timur pun berencana memperluas pembinaan dan sosialisasi olahraga yang menggabungkan unsur sepak bola dan sepak takraw tersebut ke berbagai daerah.
Didik Utomo Pribadi Wakil Sekjen PP POTSI sekaligus Sekretaris Umum POTSI Jawa Timur mengatakan, teqball memiliki potensi besar untuk berkembang karena karakter permainannya dekat dengan olahraga yang sudah populer di kalangan anak muda, terutama sepak bola dan sepak takraw.
“Bagus. Artinya karena ini olahraga milenial, untuk kalangan muda. Ini sangat digemari sebetulnya. Cuma sosialisasinya masih belum maksimal,” kata Didik.
Teqball merupakan cabang olahraga yang berasal dari Hungaria. Di Indonesia, olahraga ini berada di bawah naungan POTSI yang telah mendapat pengakuan dari Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
POTSI Jawa Timur kini tengah menyiapkan pengembangan organisasi sekaligus pembinaan atlet di tingkat daerah. Didik menyebut saat ini sudah ada sekitar sepuluh kabupaten/kota di Jawa Timur yang mulai merintis pembentukan dan pembinaan teqball.
“Ini masih ada rintisan, mungkin barangkali sudah ada sepuluh yang nanti akan kita kembangkan dan kita bina,” ujarnya.
Menurut Didik, perluasan pembinaan menjadi penting agar teqball tidak hanya berkembang di tingkat provinsi, tetapi juga memiliki basis atlet yang kuat dari berbagai daerah.
POTSI Jawa Timur juga menargetkan teqball dapat dipertandingkan dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2027 yang akan digelar di Surabaya.
Sosialisasi ke sejumlah kabupaten/kota pun akan dilakukan untuk memperkenalkan olahraga tersebut sekaligus mencari bibit atlet potensial.
Selain pembinaan atlet, POTSI Jawa Timur mulai memperkuat sumber daya pendukung dengan menggelar pelatihan wasit. Didik menyebut keberadaan wasit lokal penting seiring dengan rencana pengembangan kompetisi teqball di daerah.
Dari sisi pembinaan atlet, POTSI melihat sepak takraw, futsal, dan sepak bola sebagai sumber potensial untuk menjaring pemain teqball. Karakteristik gerakan dan teknik dasar dalam sepak takraw dinilai memiliki keterkaitan dengan kebutuhan permainan teqball.
“Kolaborasi atau sinergitas beberapa cabor untuk memperoleh atlet ini, di antaranya atlet sepak takraw, kemudian futsal dan sepak bola. Ini menjadi tandem pembinaan kami dengan takraw,” jelas Didik.
Meski peluang pengembangan cukup besar, POTSI Jawa Timur masih menghadapi kendala sarana dan prasarana, khususnya meja teqball.
Meja yang digunakan dalam pertandingan harus memenuhi standar dan lisensi yang ditetapkan federasi internasional sehingga pengadaannya masih bergantung pada produk dari Hongaria.
“Kita ketergantungan dari Hungaria untuk meja ini sangat luar biasa,” ungkapnya.
Didik menyebut ke depan terdapat rencana pengadaan sekitar 100 meja teqball untuk didistribusikan ke berbagai provinsi di Indonesia. Ketersediaan sarana tersebut diharapkan ikut mempercepat pertumbuhan teqball, termasuk di Jawa Timur.
Di tingkat prestasi, Jawa Timur masih berupaya mengejar sejumlah daerah yang lebih dahulu memiliki atlet nasional. Dalam beberapa kejuaraan, DKI Jakarta masih menjadi salah satu kekuatan utama karena diperkuat pemain-pemain Pelatnas yang telah berpengalaman di ajang internasional.
Sementara itu, teqball Indonesia terus meningkatkan pengalaman bertanding di level internasional. Pada SEA Games 2025 di Thailand, Indonesia meraih tiga medali perak dan dua perunggu.
Didik berharap pengalaman tersebut dapat menjadi modal untuk meningkatkan prestasi Indonesia pada ajang yang lebih besar, termasuk Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang. Tim nasional juga tengah menjalani persiapan, termasuk pemusatan latihan di Surabaya yang melibatkan Gabriella Kota pelatih dari Hungaria. (saf/ham)




