Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz hingga Amerika Serikat memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan Teheran. Salah satu syarat tersebut termasuk kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Dilansir AFP, Minggu (9/8/2026), Garda Revolusi Iran menyatakan strategi mereka adalah mempertahankan penutupan selat, "hingga musuh menerima semua syarat kami... selat ini kini sebenarnya merupakan medan perang bagi kami, bukan sekadar jalur perairan".
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan pembahasan dengan Oman mengenai lalu lintas dan pengelolaan selat Hormuz "mendekati tahap akhir". Namun ia menambahkan bahwa pembukaan kembali Hormuz "bergantung pada syarat-syarat lain dan kompensasi atas pelanggaran" terhadap kesepakatan bulan Juni.
Araghchi kembali membantah bahwa Iran sedang bernegosiasi dengan Amerika Serikat. Ia menyatakan bahwa kedua pihak hanya "saling bertukar pesan" melalui perantara.
Kepala keamanan Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, sebelumnya memaparkan daftar tuntutan atau syarat untuk membuka kembali selat Hormuz. Salah satu tuntutannya termasuk penghentian "perang dan agresi terhadap Iran serta sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak".
Ia juga menuntut pencabutan blokade balasan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, penghapusan sanksi, pencairan aset yang dibekukan, serta kompensasi atas kerusakan akibat perang, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Tasnim.
Sementara itu dilansir Aljazeera, Araghchi mengatakan negosiasi antara Iran dan Oman mengenai penetapan rute maritim baru di Selat Hormuz berjalan baik dan mencapai tahap akhir. Namun, ia menekankan hal ini tidak berarti jalur air strategis tersebut akan dibuka kembali.
Araghchi mengatakan bahwa rute yang ada saat ini di selat tersebut akan digantikan dengan rute baru dan para ahli sedang menyusun peta-petanya.
"Hal ini tentu saja tidak berarti bahwa Selat Hormuz dibuka kembali," ujarnya, seraya menambahkan bahwa pembukaan kembali selat tersebut bergantung pada pemenuhan sejumlah syarat lain yang telah disampaikan kepada pihak-pihak terkait melalui perantara.
Araghchi menggambarkan pembicaraan dengan Oman tersebut sepenuhnya bersifat teknis dan hukum, yang bertujuan untuk menentukan rute maritim yang pertama kali ditetapkan pada tahun 1968.
Diektahui, Iran telah menerapkan blokade efektif di selat tersebut sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan pada akhir Februari, serta berencana memungut biaya lintas bagi kapal-kapal yang melintas, sembari menyerang kapal-kapal yang dituduh berusaha menghindari rute yang ditetapkan Iran.
Serangan yang terus berlanjut di jalur perairan tersebut-yang sebelumnya bebas dilintasi sebelum perang-menyebabkan gagalnya gencatan senjata bulan April. Pihak mediator telah mendesak kedua belah pihak untuk kembali mematuhi ketentuan dalam nota kesepahaman bulan Juni yang menetapkan langkah menuju perundingan damai.
(yld/idn)





