Satu Sendang, Ratusan Selang, dan Asa Warga Kalidadap 1 Berbagi Air saat Kemarau

kompas.tv
6 jam lalu
Cover Berita
Seorang perempuan warga Dusun Kalidadap 1, Kelurahan Selopamioro, Kapanewon (Kecamatan) Imogiri, Kabupaten Bantul, menyedot air Sendang Wonosari melalui selang, Minggu (9/8/2026). (Sumber: Kompas.TV/Kurniawan Eka Mulyana)

BANTUL, KOMPAS.TV – Pangkal ratusan selang terjuntai ke dalam Sendang Wonosari, sumber mata air di Dusun Kalidadap 1, Kalurahan Selopamioro, Kapanewon (Kecamatan) Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Pagi itu, Minggu (9/8/2026), sejumlah warga silih berganti menuju Sendang Wonosari, tempat mereka memasang ratusan selang untuk mengalirkan air ke rumah masing-masing.

Sendang tersebut berupa bak atau kolam untuk menampung air. Saat musim hujan tiba, air sendang melimpah, bahkan tak jarang sampai meluap ke jalanan.

Tapi, saat musim kemarau tiba, debit mata air berkurang, sehingga warga harus bolak balik ke tempat itu untuk mengalirkan air.

Sebab, setelah dialirkan ke rumah ratusan warga, dalam beberapa jam pangkal selang mereka tak lagi tercelup ke dalam air.

Baca Juga: Kekeringan Melanda Blora dan Bantul, Petani Cabai Kesulitan Mendapatkan Air | KOMPAS SIANG

Saat air terkumpul dan memenuhi sendang, tidak secara otomatis masuk ke dalam selang, sehingga mereka harus kembali mendatangi tempat itu untuk menyedot secara manual menggunakan mulut.

Meski terdapat ratusan selang, mayoritas warga sudah hafal milik mereka masing-masing.

“Pertama kan harus nyari selangnya sendiri-sendiri. Nah itu udah, udah ketemu selangnya langsung cari salurannya. Salurannya selang tadi itu langsung disedot. Udah ngalir,” kata Anita (32) warga RT 04 Kalidadap 1.

Anita (32), warga Dusun Kalidadap 1, Kalurahan Selopamioro, Kapanewon (Kecamatan) Imogiri, Kabupaten Bantul, sedang mencari selang miliknya untuk mengalirkan air dari Sendang Wonosari, Minggu (9/8/2026). (Sumber: Kompas.TV/Kurniawan Eka Mulyana)

“Tapi kalau musim kayak gini biasanya bisa sehari empat kali, lima kali. Pagi, siang. Pagi kadang bisa empat kali, tiga kali,” lanjutnya.

Biasanya, kata Anita, dirinya menyedot air ke sendang sekitar pukul 05.00, pukul 07.00, pukul 10.00, dan siang sekitar pukul 12.00.

Anita mengaku sejak kecil dirinya sudah melakukan aktivitas tersebut secara rutin, terlebih saat musim kemarau.

Lokasi Dusun Kalidadap 1 terletak di perbukitan dengan kontur jalan yang naik turun. Anita mengaku dirinya menggunakan selang sebanyak delapan rol. Setiap rol selang panjangnya 50 meter, sehingga total ia menggunakan 400 meter selang untuk menngalirkan air ke rumahnya.

Ia menggunakan air dari sendang tersebut untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, memasak, hingga mencuci.

Menurut Anita, aktivitas mengalirkan air saat musim kemarau cukup melelahkan, karena ia harus berjalan kaki dari rumahnya ke sendang dan kembali lagi.

Baca Juga: BPBD Antisipasi Kekeringan yang Terdampak di Jawa Timur, Status Siaga Darurat Kekeringan?

“Ya, capek. Karena mondar-mandir, mondar-mandir nanti kalau (sendang) situ belum penuh ya pulang dulu, daripada nungguin kan bisa di rumah ngapa-ngapain.”

Ia berharap ke depannya ada pipa dari perusahaan daerah air minum (PDAM) yang menyentuh desanya, agar warga tak perlu repot menyedot dan mengalirkan air dari sendang.

“Penginnya ada PAM. Iya, pengin ada PAM sendiri-sendiri,” tuturnya.

Berbagi Air

Air dari Sendang Wonosari tersebut tak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga, seperti mencuci hingga mandi, tetapi juga untuk mengairi kebun dan sawah warga.

Seorang warga Dusun Kalidadap 1, Kalurahan Selopamioro, Kapanewon (Kecamatan) Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memperbaiki sambungan selang airnya, Minggu (9/8/2026). (Sumber: Kompas.TV/Kurniawan Eka Mulyana)

Seorang warga RT 04 Kalidadap 1 lainnya, Sugito, menjelaskan, ada semacam kesepakatan warga terkait waktu pengaliran air ke rumah-rumah.

Menurut dia, warga diperbolehkan mengalirkan air untuk kebutuhan rumah harian mulai dari pagi hingga sekitar puku 16.00.

Nantinya, setelah pukul 16.00, air dari sendang digunakan untuk mengairi kebun dan sawah warga.

“Iya, jam 04.00 sore sampai jam 03.00. Adzan subuh itu loh. Itu sudah, enggak boleh, enggak boleh ngambil. Sudah dibagi untuk di sawah, untuk mengairi itu loh, lombok, ada mbako (tembakau),” kata dia saat ditemui di rumahnya seusai menyedot air dari sendang.

Air yang dialirkan ke sawah tidak menggunakan selang kecil seperti milik warga, melainkan dengan pipa berukuran lebih besar yang tidak perlu disedot. Warga hanya perlu membuka keran untuk mengalirkannya.

Dari pipa tersebut, air dialirkan menuju penampungan di beberapa titik sawah. Selanjutnya, ada selang dari bak penampungan untuk mendistribusikan air ke petak-petak sawah warga.

Sarjiyem, warga Dusun Kalidadap 1, Kalurahan Selopamioro, Kapanewon (Kecamatan) Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memegang selang dengan air yang mengalir dari Sendang Wonosari, Minggu (9/8/2026). (Sumber: Kompas.TV/Kurniawan Eka Mulyana)

“Itu bantuan, baru dua minggu itu. Untuk sawah-sawah. Enggak (harus nyedot), langsung. Di sawah ada keran, misalnya nomor satu, itu kalau sudah penuh, ditutup, ganti lagi (untuk sawah lain).”

Sugito menuturkan, rutinitasnya menyedot dan mengalirkan air dari sendang ke rumah hanya dilakukan saat musim kemarau.

Seperti pagi itu, ia terpaksa kembali ke sendang setelah air yang tadinya sudah tersedot dan mengalir tiba-tiba terhenti, padahal sang istri Sarjiyem, sedang memerlukan air untuk membersihkan ayam.

Ketika musim hujan tiba dan air sendang melimpah, kata Sugito, terkadang dirinya tidak perlu menyedot lagi selama enam bulan, karena pangkal selang selalu terendam air, sehingga alirannya tidak terputus.

“Enggak perlu, sudah mengalir. Enam bulan itu ndak cari 6 bulan itu. Enggak cari, langsung sedot sekali, langsung.”

Baca Juga: Minggu Ketiga Kekeringan di Grobogan, PMI Salurkan 220 Ribu Liter Air Bersih ke Warga | SAPA MALAM

Sugito mengaku menggunakan selang sepanjang 250 meter dari sendang hingga ke rumahnya. Kata dia, bahkan ada warga yang membutuhkan selang hingga 500 meter hingga satu kilometer untuk memperoleh air.

“Ya, kalau ada yang rusak, ganti 1 rol. Kalau ada rusak lagi, ganti lagi.”

Tidak jauh dari Sugito berdiri, Sarjiyem, sang istri sabar menunggu air mengalir melalui selang berwasrna biru yang digenggamnya.

Asap dari kayu bakar yang membara di tungku mengepul tipis, menebarkan aroma khas.

Sarjiyem duduk di kursi kayu kecil. Di sampingnya tergeletak seplastik kepala dan cakar ayam yang hendak diolah untuk dijual di warung angkringan miliknya.

Ia mengaku sudah terbiasa menunggu air mengalir, terlebih saat musim kemarau seperti saat ini. Rutinitas itu sudah dijalaninya selama puluhan tahun.

Menurut dia, sebenarnya ada alternatif air bersih lain selain dari sendang, yakni membeli melalui penjual  air tangki yang sering melintas di kampung mereka.

Sarjiyem, warga Dusun Kalidadap 1, Kalurahan Selopamioro, Kapanewon (Kecamatan) Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengisi bak mandi di rumahnya dengan air dari Sendang Wonosari, Minggu (9/8/2026). (Sumber: Kompas.TV/Kurniawan Eka Mulyana)

“Ada itu orang nyetor itu, tapi harganya Rp40.000 satu tangki,” kata dia.

Tapi, menurut dia, satu tangki air diperkirakan hanya dapat memenuhi kebutuhan harian selama dua hingga tiga hari.

Oleh sebab itu, ia dan suami lebih memilih untuk sedikit repot menyedot dan mengalirkan air dari Sendang Wonosari.

Apalagi kerepotan itu hanya dirasakan selama musim kemarau saja.

”Kalau musim hujan banyak air, kalau nggak musim hujan susah,” kata dia.

Setelah beberapa saat menunggu, dari ujung selang air belum juga mengalir.

Ia pun meminta pada suaminya untuk  mengecek kembali. Tapi hanya berselang beberapa detik, ujung selang dipegangnya mengeluarkan air.

Kendala yang tak jarang dirasakan oleh warga, kata dia, adalah selang pecah karena sering terlindas kendaraan atau terinjak. Terlebih selang yang menyeberangi jalan.

“Selangnya pecah, kesendil-sendil motor itu lho,” kata dia.

 

Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV

Tag
  • musim kemarau
  • air bersih
  • bantul
  • dusun kalidadap 1
  • selang air
  • kekeringan
Selengkapnya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Marselino Ferdinan Hilang dari Skuad Oxford United, Masa Depannya Makin Misterius
• 19 jam laluviva.co.id
thumb
KPK Sita Dokumen dan Barang Elektronik dari 3 Lokasi di Bengkulu
• 7 jam laludetik.com
thumb
Kubu Yaqut Minta Kerugian Negara dalam Perkara Kuota Haji Harus Dibuktikan
• 21 jam lalujpnn.com
thumb
Hasil Moto2 Inggris: Mario Suryo Aji Finis di Posisi 22, Salac Juara
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bill Maher Singgung Berat Badan Ariana Grande, Candaan di Real Time Tuai Reaksi Penonton
• 8 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.