Mediaapakabar.com- Akses jalan menuju kawasan pemandian Air Panas Semangat Gunung, Kecamatan Merdeka, Kabupaten Karo, mendadak mencekam, Sabtu (8/8/2026) malam.
Ratusan warga melakukan pemblokiran jalan hingga membuat wisatawan yang hendak pulang maupun masuk kawasan tersebut terjebak berjam-jam.
Situasi semakin membuat pengunjung resah. Sejumlah wisatawan bahkan mengaku harus bertahan di lokasi karena tidak dapat melintas.
Pengunjung yang membawa anak-anak juga disebut mengalami kedinginan akibat tertahan hingga dini hari,
di tengah aksi pemblokiran tersebut, seorang pengunjung berinisial JS (19), warga Desa Tiga Panah, Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo, diduga menjadi korban penganiayaan hingga mengalami luka akibat senjata tajam.
Kapolsek Berastagi Kompol Henry D. Tobing, SH, mengatakan pemblokiran dilakukan warga sebagai bentuk tuntutan agar tiga orang yang sebelumnya diamankan polisi segera dilepaskan.
"Mereka meminta agar warga yang ditangkap segera dilepaskan," ujar Henry, Minggu (9/8/2026).
Menurutnya, ketiga warga tersebut diamankan polisi setelah adanya laporan dugaan pungutan liar (pungli). Saat ini, ketiganya masih menjalani proses hukum di Polres Karo.
Sementara terkait dugaan seorang pengunjung mengalami luka akibat senjata tajam saat pemblokiran berlangsung, Kapolsek mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan.
"Masih dalam penyelidikan," ujarnya.
JS yang ditemui saat menjalani perawatan di RSU Kabanjahe, Minggu (9/8/2026) sekitar pukul 09.15 WIB, menceritakan dirinya menjadi korban setelah hendak pulang dari kawasan pemandian Air Panas Semangat Gunung.
Saat itu, JS bersama teman wanitanya hendak pulang sekitar pukul 23.00 WIB. Namun, setibanya di lokasi, mereka tidak dapat melintas lantaran jalan telah diblokir warga.
"Kami tidak bisa lewat karena jalan telah diblokir oleh warga. Kami tertahan sampai sekitar pukul 03.00 WIB," kata JS.
JS mengaku sempat meminta agar dirinya diperbolehkan melintas karena harus bekerja pada Minggu pagi. Namun, permintaannya justru berujung adu mulut dengan sejumlah orang di lokasi.
"Sempat saya minta tolong karena kami ingin pulang, sebab hari Minggu saya juga bekerja. Namun, mereka tidak memberikan kami lewat," ungkapnya.
Situasi kemudian memanas, JS mengaku dipukuli hingga mengalami sejumlah memar pada tubuhnya. Ia juga mengalami luka di bagian belakang ketiak sebelah kiri yang diduga akibat terkena senjata tajam.
"Mungkin mereka tersinggung atas ucapan kami karena sempat adu mulut. Saya langsung dipukuli. Badan saya memar dan di belakang ketiak sebelah kiri luka akibat terkena senjata tajam," tuturnya.
Usai kejadian, JS kemudian dibawa ke rumah salah seorang warga di Desa Doulu yang masih berada di sekitar lokasi sebelum akhirnya mendapatkan perawatan di RSU Kabanjahe.
Didampingi keluarganya, JS menyatakan akan membuat laporan resmi kepada pihak kepolisian agar kasus tersebut dapat diproses.
"Saya akan membuat laporan pengaduan ke Polres Karo dan berharap pelakunya ditangkap," tegasnya.
Sementara itu, Minggu sore, Kapolres Karo AKBP Pebriandi Haloho, S.H., S.I.K., M.Si., didampingi Kabag Ops Kompol Jonista Tarigan, SH, Kapolsek Berastagi Kompol Henry D. Tobing beserta personel, Kasatpol PP Jon Karnanta Sembiring, ST, M.Si., serta Camat Berastagi Ijin Gurusinga, SP, turun langsung ke lokasi.
Petugas kemudian melakukan mediasi dengan warga untuk membuka kembali akses jalan. Meski sempat terjadi perlawanan dan provokasi, aparat akhirnya berhasil membuka blokade.
Beberapa orang juga diamankan ke Polres Karo untuk mencegah situasi kembali memanas.
"Tadi sekitar pukul 16.00 WIB jalan sudah dibuka, sehingga akses jalan sudah bisa dilalui," jelas Kapolres Karo.
Hingga kini, polisi masih melakukan penyelidikan terkait dugaan penganiayaan terhadap JS, termasuk mencari pihak yang diduga melakukan penyerangan menggunakan senjata tajam.(MC/***)





