Saat harga emas dunia mulai mendapat pijakan baru, pasar nikel justru menghadapi cerita berbeda.
IDXChannel - Saat harga emas dunia mulai mendapat pijakan baru, pasar nikel justru menghadapi cerita berbeda.
Pembelian bank sentral dan meredanya ekspektasi inflasi membuka ruang bagi emas untuk kembali menguat, sementara harga bijih nikel masih dibayangi tambahan pasokan dan berpotensi melanjutkan penurunan.
Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dalam riset yang terbit pada 6 Agustus 2026 menilai harga emas mulai menemukan titik dasar dan berpeluang berada di kisaran level USD4.200 per troy ons.
Di sisi lain, harga bijih nikel jenis saprolit justru telah turun 13 persen secara bulanan menjadi USD66 per wet metric ton (wmt) dan masih berpotensi melemah lebih lanjut.
Menurut Ryan, pembelian emas oleh bank sentral, khususnya China, menjadi salah satu faktor yang memberikan penopang terhadap harga emas di sekitar level USD4.000 per troy ons.
Impor emas China meningkat 7 persen secara bulanan menjadi 173 ribu ton pada Juni 2026, sedangkan sepanjang semester I-2026 melonjak 89 persen secara tahunan menjadi 865 ribu ton.
Di saat yang sama, potensi kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali mencuat serta data ketenagakerjaan ADP yang lebih lemah turut menurunkan ekspektasi inflasi. Kondisi tersebut dinilai menjadi katalis positif bagi emas.
Peluang Emiten Emas
Prospek harga emas tersebut turut membuka ruang bagi emiten-emiten yang memiliki eksposur terhadap logam mulia.
Indo Premier menyukai PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) di antara perusahaan tambang emas yang menjadi cakupannya.
Untuk ANTM, kenaikan harga emas dinilai dapat mendorong peningkatan volume perdagangan emas dalam beberapa bulan mendatang.
Sementara bagi perusahaan tambang emas seperti EMAS, kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) berpotensi memberikan dampak positif terhadap kinerja.
EMAS juga memiliki katalis lain. Indo Premier menilai peluang EMAS untuk masuk ke dalam VanEck Global Gold Miners ETF (GDX) cukup tinggi.
Jika terealisasi, potensi dana masuk ke saham tersebut diperkirakan mencapai sekitar USD100 juta. Nilai tersebut setara dengan sekitar 11-12 kali rata-rata nilai transaksi harian (average daily trading value/ADTV) EMAS selama tiga bulan.
Harga Bijih Nikel Masih Bisa Turun
Cerita berbeda terjadi di pasar nikel. Meskipun sejumlah produk hilir nikel relatif stabil sepanjang Juli 2026, harga bijih nikel justru mengalami tekanan.
Harga nickel pig iron (NPI) berada di sekitar USD14.600 per ton pada Juli 2026 dengan pergerakan harian yang relatif terbatas.
Harga produk nikel untuk kebutuhan baterai seperti mixed hydroxide precipitate (MHP), nickel matte, dan nikel sulfat juga cenderung datar secara bulanan.
Kondisi tersebut terjadi meskipun harga nikel di London Metal Exchange (LME) sempat naik 6 persen secara bulanan ke sekitar USD17.000 per ton.
Tekanan yang lebih besar terlihat pada harga bijih nikel saprolit dengan kadar 1,6 persen. Harga komoditas tersebut turun menjadi USD66 per wet metric ton (wmt), atau anjlok 13 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan harga tersebut terjadi seiring turunnya Harga Patokan Mineral (HPM). Pada saat yang sama, premi harga bijih nikel juga menyusut dari USD5,5 per wmt menjadi USD2,7 per wmt.
Indo Premier memperkirakan harga bijih nikel masih dapat melemah lebih lanjut.
"Kami memperkirakan harga bijih nikel terus melemah seiring membaiknya kondisi cuaca, tambahan persetujuan kuota RKAB, serta gangguan ekspor yang berkaitan dengan kandungan rare earth," tulis Ryan.
Tekanan juga kembali terlihat pada harga nikel global. Harga nikel LME turun ke sekitar USD16.700 per ton, atau melemah 3 persen, setelah muncul kabar bahwa WBN memperoleh tambahan kuota produksi sekitar 25 juta wmt.
Tambahan tersebut berada di atas kuota yang telah dimiliki WBN sebesar 12 juta wmt. Kenaikan kuota tersebut menambah kekhawatiran terhadap pasokan bijih nikel dan menjadi salah satu faktor yang menekan harga.
Kinerja Kuartal II-2026 Belum Banyak Beri Kejutan
Dari sisi kinerja emiten, Indo Premier menilai laporan keuangan kuartal II-2026 (2Q26) sejauh ini belum memberikan kejutan besar.
Mayoritas emiten tambang yang menjadi cakupan Indo Premier masih belum merilis laporan keuangan 2Q26 secara penuh. Sejumlah perusahaan dalam grup Adaro/Alamtri dan Merdeka juga masih berada dalam proses limited review.
Namun, rendahnya ekspektasi pasar membuat respons investor terhadap sejumlah laporan keuangan justru cukup positif.
Hal tersebut terlihat pada INCO, NCKL, dan HRUM. Ketiga saham tersebut masing-masing menguat sekitar 6 persen, 4 persen, dan 6 persen pada hari perdagangan setelah laporan kinerja dirilis.
Padahal, kinerja semester I-2026 ketiganya relatif sesuai dengan ekspektasi atau in-line. Meski demikian, laba bersih masing-masing perusahaan meningkat secara kuartalan sehingga memberikan sentimen positif terhadap saham.
Untuk ANTM, Indo Premier justru memperkirakan adanya potensi reaksi sedikit negatif terhadap laporan kuartal II-2026 apabila laba bersih turun secara kuartalan.
Meski demikian, secara kumulatif kinerja semester I-2026 diperkirakan masih berpotensi berada di atas konsensus pasar.
Tetap Overweight
Dengan mempertimbangkan perkembangan harga komoditas dan meredanya kekhawatiran terhadap ketidakpastian regulasi, Indo Premier mempertahankan rekomendasi overweight terhadap sektor komoditas.
Ryan menilai saham-saham yang menjadi proxy emas masih kurang mendapat apresiasi dibandingkan saham-saham tambang nikel, terutama setelah harga emas mengalami tren penurunan sebelumnya.
Di antara saham komoditas yang menjadi cakupan Indo Premier, MDKA dan INCO menjadi pilihan utama.
Untuk MDKA, pemilihan mitra joint venture (JV) untuk proyek TB Copper dinilai berpotensi menjadi katalis re-rating saham. Kepastian mengenai mitra proyek tersebut dapat memberikan kejelasan lebih lanjut terhadap prospek pengembangan aset tembaga.
Sementara untuk INCO, tambahan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta peningkatan volume produksi bijih nikel menjadi katalis utama yang berpotensi mendorong re-rating saham. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





