PT PLN (Persero) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) terus memperkuat komitmennya dalam mendorong penerapan ekonomi sirkular lewat pengelolaan sampah berkelanjutan.
Melalui pendampingan PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar), PLN bersama Rappo Indonesia telah mengolah sebanyak 10,5 ton sampah plastik menjadi berbagai produk multifungsi yang memiliki nilai ekonomi.
Officer TJSL PLN UID Sulselrabar, Khairunnisa, mengatakan program tersebut menjadi salah satu wujud keseriusan PLN dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pengelolaan lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat.
''Awal mula dari program ini, ini di tahun 2024 akhir, jadi Desember baru kita bekerja sama. Jadi satu tahun setengah telah berjalan dan telah mengolah 10,5 ton sampah untuk furnitur,'' ungkap Khairunnisa di Makassar, Minggu (9/8/2026).
Melihat perkembangan program tersebut, Khairunnisa menyebut PLN akan terus mendorong peningkatan kapasitas Rappo Indonesia dalam mengolah sampah plastik di sejumlah wilayah di Makassar. Ke depan, kapasitas pengolahan ditargetkan dapat meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan capaian saat ini.
''Berarti dari awalnya 10,2 bisa jadi 20 ton bisa begitu. Dan lebih banyak lagi kayak kantor-kantor atau perusahaan yang bekerja sama sama kami sama Rappo jadi semakin banyak yang dihasilkan dan bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja,'' jabar dia.
Sementara itu, General Affairs Rappo Indonesia, Riswanda Fatriansyah mengatakan, keterlibatan PLN menjadi salah satu pijakan penting bagi Rappo dalam mengembangkan aktivitas pengolahan sampah plastik di Makassar.
Dukungan tersebut tidak hanya berupa pendampingan sumber daya manusia, tetapi juga penyediaan berbagai fasilitas produksi untuk meningkatkan kapasitas pengolahan sampah.
''Dukungan yang diberikan itu pertama ada pendampingan untuk operator, terus juga kita ada penyerahan mesin. Nah untuk mesinnya itu kita ada mesin cacah terus juga mesin oven sama mesin injeksi, ada total tiga,''
''Itu untuk unit yang besar, tapi yang untuk unitnya kecil juga ada beberapa yang kayak mesin serut, profil, nah itu juga salah satu bantuan yang diberikan oleh PLN ke Rappo,'' jelasnya.
Dalam satu bulan, rata-rata sampah plastik yang berhasil dikelola mencapai sekitar 100 kilogram. Jenis plastik yang dimanfaatkan antara lain Polyethylene Terephthalate (PET) dan High Density Polyethylene (HDPE).
Pengolahan sampah tersebut tidak terlepas dari sejumlah tantangan, salah satunya kondisi sampah yang kerap bercampur dengan jenis material lain sehingga membutuhkan proses pemilahan lebih lanjut.
Namun, tantangan tersebut justru dikembangkan menjadi peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat. Rappo menerapkan standar tertentu dalam penyerapan dan pemilahan sampah dengan melibatkan masyarakat sekitar sebagai mitra.
Skema kemitraan tersebut turut memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat, dengan penghasilan yang dapat mencapai sekitar Rp2 juta per bulan.
''Apalagi kan kita menjalin kerja sama kemitraan, kita istilahnya kemitraan dengan masyarakat yang ada di Untia ini di mana rata-rata mereka itu sebenarnya punya penghasilan menengah sampai ke bawah, bahkan ada yang tidak berpenghasilan,'' jabarnya.
Sampah plastik yang telah melalui proses pengolahan kemudian diubah menjadi beragam produk bernilai ekonomi, mulai dari meja, kursi, hingga plakat. Produk hasil daur ulang tersebut tidak hanya dipasarkan di Makassar, tetapi juga telah menjangkau sejumlah kota besar di Pulau Jawa, termasuk Jakarta.
Harga produk yang dihasilkan bervariasi, mulai dari sekitar Rp75 ribu hingga lebih dari Rp3 juta, tergantung jenis, ukuran, dan tingkat kerumitan produk.
Ke depan, Rappo Indonesia berharap dapat memperluas pengembangan bisnis sirkular dengan mengolah jenis limbah lainnya, termasuk sampah organik dan kertas.
Baca Juga: 21.865 Pelanggan Baru Gunakan Home Charging Services PLN pada Semester I 2026
Baca Juga: PLN Buka Keran Swasta Besar-besaran, 262 Proyek PLTA dan PLTM Siap Digarap hingga 2034
Manfaat program tersebut turut dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.
Hendriadi, salah seorang warga yang bekerja di Rappo Indonesia, mengaku memperoleh tambahan penghasilan sejak terlibat dalam kegiatan pengolahan sampah.
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan tersebut memanfaatkan waktu ketika tidak melaut untuk ikut dalam proses pengolahan sampah. Aktivitas tersebut menjadi sumber pendapatan tambahan terutama ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan dirinya pergi melaut.
''Iya apalagi sekarang kalau musim-musim kencang begini kita nggak melaut, Pak kalau nelayan. Jadi adanya Rappocic begini alhamdulillah menambah perekonomian begitu,'' tandasnya.





