PKKMB Raja Brawijaya 2026, UB Tekankan AI dan Kesehatan Mental

beritajatim.com
4 jam lalu
Cover Berita

Ringkasan Berita:

Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) menyambut ribuan mahasiswa baru melalui rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Raja Brawijaya 2026. Tahun ini, UB menekankan pemanfaatan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) dan kesehatan mental mahasiswa.

PKKMB Raja Brawijaya 2026 mengusung tema “Gelora Brawijaya: Membentuk Generasi Transformatif yang Inklusif, Inovatif, Berwawasan Global, dan Berkelanjutan untuk Indonesia Emas 2045”.

Rangkaian PKKMB tingkat universitas berlangsung selama tiga hari pada 10-12 Agustus 2026. Setelah agenda utama tingkat universitas selesai, penyambutan mahasiswa baru dilanjutkan di tingkat fakultas masing-masing pada 13-15 Agustus 2026.

Direktur Direktorat Kemahasiswaan Universitas Brawijaya, Dr. Sujarwo, S.P., M.P., mengatakan Raja Brawijaya 2026 dirancang sebagai ruang pengenalan ekosistem akademik secara lebih mendalam. Kegiatan tersebut menjadi titik awal untuk mendorong pengembangan kapasitas dan orientasi masa depan mahasiswa sejak pertama memasuki perguruan tinggi.

Menurutnya, PKKMB menjadi momentum bagi UB untuk menunjukkan lingkungan akademik dan kemahasiswaan yang dapat mendukung mahasiswa mencapai kemampuan terbaiknya.

“Kita dengan tangan terbuka menyambut mahasiswa baru dan kemudian menunjukkan wajah terbaik Universitas Brawijaya, sehingga mahasiswa baru punya ekspektasi untuk meningkatkan kapasitas tertinggi yang bisa mereka capai, baik dalam kegiatan akademik maupun kemahasiswaan,” ujar Sujarwo di Malang, Senin (10/8/2026).

Selain pengenalan lingkungan akademik, UB memberikan perhatian terhadap kesehatan mental mahasiswa. Sujarwo mengatakan UB memiliki rekam data kesehatan mental mahasiswa yang dikumpulkan secara berkala.

Pengumpulan data tersebut telah diinisiasi sejak program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) pada 2023 dan dilanjutkan melalui skrining berkala mahasiswa baru sejak 2024 hingga 2026.

“Dari sisi pengelolaan database, kita tahu kondisi mental adik-adik mahasiswa. Kami sangat konsen dengan pembangunan mental sehat. Karena itu, konsep Satu Brawijaya diarahkan untuk menciptakan ekosistem belajar yang kondusif. Kami memperkuat Unit Layanan Terpadu Kekerasan Seksual dan Perundungan (ULTKSP) di fakultas serta melatih peer-counselor dari kalangan mahasiswa,” jelasnya.

UB juga memperkuat keberadaan konselor sebaya untuk mendukung proses pendampingan psikologis mahasiswa. Pembekalan tersebut dilakukan agar pendampingan dapat berlangsung optimal tanpa melahirkan kecenderungan memberikan label negatif atau stereotyping terhadap mahasiswa.

Selain pendampingan, UB memperkuat regulasi melalui Peraturan Rektor yang memuat sanksi terhadap berbagai pelanggaran disiplin di lingkungan kampus.

Sujarwo juga menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang mampu menghadapi tantangan perkembangan teknologi dan media sosial.

“Zaman sekarang, sebagaimana disampaikan Pak Rektor, adalah zaman kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan media sosial dengan kompleksitas tinggi. Karena itu, tindakan bullying harus kita reduksi sampai level eliminasi. Yang kita inginkan adalah encouraging, penguatan, engagement, dan ekspektasi tinggi agar mahasiswa mampu menghadapi masa depan mereka melalui proses pembelajaran di UB,” kata Sujarwo.

Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., mengatakan UB berkomitmen menciptakan lingkungan belajar yang aman, terbuka, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Untuk mendukung hal tersebut, UB menyediakan infrastruktur pengaduan dan pendampingan secara berjenjang. Fasilitas tersebut mencakup Unit Layanan Terpadu Kekerasan Seksual dan Perundungan (ULTKSP) di tingkat fakultas dan pusat, Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS), Layanan Kesehatan Mahasiswa (Subkes), hingga Duta Sahabat Kampus.

“Bisa memeriksa, misalnya untuk laporan pelanggaran kekerasan, semua ada di layanan online. Jika mahasiswa ingin konseling, bisa memanfaatkan e-counseling secara daring atau datang langsung. Kami mempermudah mahasiswa maupun masyarakat umum untuk berkomunikasi. Unit Pelayanan Pengaduan dan Keluhan (YPKR) kami juga terbuka menerima masukan dari publik,” terang Prof. Widodo.

Terkait penegakan aturan kampus, Prof. Widodo menegaskan UB tidak segan memberikan sanksi kepada mahasiswa yang terbukti melakukan pelanggaran. Sanksi disesuaikan dengan tingkat pelanggaran, mulai ringan, sedang hingga berat.

Untuk pelanggaran berat, sanksi dapat berupa pemberhentian atau pemecatan sebagai mahasiswa.

“Penegakan aturan sudah dilakukan. Sanksinya tergantung kriteria pelanggaran. Untuk sanksi berat, sampai dikeluarkan dari UB pun sudah ada yang dijatuhi hukuman tersebut. Mahasiswa harus menyadari bahwa kita adalah bagian dari warga global (global citizenship),” tegasnya.

Di tengah penguatan kesehatan mental dan pencegahan kekerasan, UB juga mendorong mahasiswa baru memanfaatkan AI secara bijak dalam kegiatan akademik dan riset.

“Kita tidak boleh tertinggal dalam mengaplikasikan AI dan digitalisasi. Mahasiswa baru kita dorong untuk mengeksplorasi kreativitas menggunakan AI. Kita harus memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mempercepat proses pembelajaran dan meningkatkan efisiensi dalam pengembangan ilmu pengetahuan,” tambahnya.

Ketua Pelaksana Raja Brawijaya 2026, Daffa Yasa Pratama, mengatakan penyelenggaraan PKKMB tahun ini membawa sejumlah pembaruan substansial. Ada lima isu strategis yang menjadi fokus, yakni kesehatan mental dan antikekerasan seksual, inklusivitas, perspektif global, kecerdasan artifisial dan digitalisasi, serta keberlanjutan.

Daffa mengatakan penugasan mahasiswa baru juga dirancang untuk membentuk agen perubahan atau agent of change di ruang digital.

“Penugasan mahasiswa dirancang bernilai substansial. Contohnya, mahasiswa meminta memperkenalkan diri menggunakan bahasa Inggris dan bahasa isyarat, lalu menceritakan potensi serta kelebihan mereka. UB adalah kampus inklusif, sehingga penguasaan bahasa isyarat dan bahasa Inggris dipraktikkan langsung. Kami juga memberikan penugasan edukasi mental health dalam bentuk konten video positif untuk meng-counter tren negatif di media sosial,” jelas Daffa.

Raja Brawijaya 2026 juga diarahkan menuju standar orientasi kampus kelas dunia atau world-class university orientation. Perspektif global diwujudkan melalui keterlibatan mahasiswa internasional dari berbagai negara dalam rangkaian PKKMB.

Dari sisi operasional, panitia merancang Integrated System Managerial RAJA BRAWIJAYA untuk mengelola alur kerja kepanitiaan secara digital. Mahasiswa baru juga dibekali aplikasi khusus yang dilengkapi navigasi pemetaan atau maps serta AI Assistant untuk mempermudah akses informasi selama PKKMB.

“Raja Brawijaya ini ibarat gerbang utama memasuki dunia kuliah. Harapannya, mahasiswa baru siap secara fisik, mental, dan kesehatan, memiliki milestone yang jelas, serta mempunyai perencanaan matang terkait kegiatan organisasi maupun target karier masa depan,” tutur Daffa.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, M.P., mengatakan pihak universitas berkoordinasi dengan TNI dan Polri, termasuk Polresta Malang Kota dan Koramil setempat, untuk memastikan keamanan dan kelancaran arus lalu lintas di sekitar kampus selama PKKMB berlangsung.

Rangkaian PKKMB 2026 juga diisi sejumlah tokoh nasional dan pejabat publik untuk memberikan pembekalan dan penguatan literasi kepada mahasiswa baru.

“Tokoh penting yang hadir antara lain Ketua Mahkamah Agung, Direktur Utama BPJS, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Prof. Erani yang juga merupakan dosen kita, Staf Ahli Wakil Presiden Bidang Pendidikan, hingga pimpinan PT Pegadaian untuk memberikan pemahaman terkait literasi keuangan,” ungkap Prof. Imam.

Ia juga menyoroti peningkatan jumlah mahasiswa asing yang menempuh studi di UB. Pada tahun akademik ini, tercatat 57 mahasiswa asing baru program full by degree jenjang S1, S2, dan S3 yang berasal dari 35 negara, dari total 113 mahasiswa asing aktif.

Untuk program jangka pendek atau non-degree, jumlah mahasiswa luar negeri yang terdaftar mencapai lebih dari 1.000 hingga 2.000 orang.

Dalam upaya pemerataan akses pendidikan, UB juga mempertahankan kuota afirmasi bagi wilayah Malang Raya dan kawasan 3T atau Tertinggal, Terdepan, dan Terluar. Selain itu, tersedia program Beasiswa ADik bagi mahasiswa asal Papua.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa, Dr. Setiawan Noerdajasakti, S.H., M.H., menjelaskan universitas juga menyediakan sejumlah skema bantuan biaya pendidikan dan beasiswa bagi mahasiswa baru.

“Masing-masing lembaga pemberi beasiswa memiliki kriteria dan aturan tersendiri. Mengenai Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), saat ini seluruh berkas sedang dalam proses pengusulan. Penetapan penerima biasanya difinalisasi sekitar bulan Oktober. Selain itu, universitas juga menyediakan akses beasiswa dari Dana Abadi UB serta Beasiswa Baznas,” pungkas Setiawan. [dan/beq]


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Program Bedah Rumah Orang Tua Siswa Sekolah Rakyat Mulai Jalan di Madura
• 3 jam laludisway.id
thumb
Tinggalkan AC Milan, Wonderkid Timnas Swiss Segera Merapat ke Lyon Usai Tak Terpakai Amorim
• 53 menit lalutvonenews.com
thumb
Komisi X DPR Desak Transparansi Pengusutan Kasus Senjata di Sekolah
• 6 jam lalukatadata.co.id
thumb
Sultan Brunei Cabut Gelar Putri bagi Menantunya, Diduga Terkait “Sikap Tidak Pantas”
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Garuda Calling! Bintang Abroad Eropa Segera Berkumpul, Ini Jadwal Pertandingan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026
• 6 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.