Prebiotik dan probiotik mungkin sudah tidak asing bagi orang tua. Keduanya sering dikaitkan dengan kesehatan saluran cerna dan keseimbangan bakteri baik di dalam usus. Namun, tahukah Anda bahwa prebiotik dan probiotik ternyata memiliki peran yang berbeda untuk anak?
Direktur Medical and Scientific Affairs, Danone Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menjelaskan bahwa prebiotik paling mudah diperoleh dari makanan sehari-hari yang mengandung serat.
“Prebiotik itu paling gampang dapat di makanan sehari-hari lewat asupan serat. Seratnya macam-macam, ada penelitian bilang di pisang juga ada asupan serat yang bisa kasih prebiotik,” ucap dr. Ray dalam acara Global Advances and Insight on Biotics for Child Health bersama Danone di Cikini, Kamis (6/8).
Sementara itu, probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan. Probiotik dapat ditemukan dalam sejumlah makanan yang melalui proses fermentasi, seperti tempe dan yogurt.
Prebiotik dan Probiotik Punya Peran BerbedaSecara sederhana, prebiotik bisa diibaratkan sebagai makanan untuk bakteri baik di dalam usus. Asupannya dapat diperoleh dari berbagai makanan sumber serat, termasuk buah seperti pisang.
Sementara probiotik merupakan bakteri baik yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh. Makanan fermentasi seperti tempe dan yogurt menjadi salah satu sumber probiotik.
Keduanya berperan dalam membantu menjaga keseimbangan mikrobiota di dalam saluran cerna. Oleh karena itu, orang tua penting memberikan makanan yang beragam dan bergizi seimbang agar kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi.
Apa yang Terjadi Jika Kesehatan Saluran Cerna Terganggu?Keseimbangan mikrobiota usus menjadi salah satu bagian yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan saluran cerna anak. Ketika kondisi saluran cerna terganggu, anak dapat mengalami berbagai keluhan seperti kembung, sembelit, diare, hingga menjadi lebih rewel. Kesehatan mikrobiota usus juga tengah banyak diteliti kaitannya dengan fungsi tubuh lainnya, termasuk otak.
Salah satunya penelitian Prof. Dr. dr. Ahmad Suryawan, Sp.A(K), Subsp. Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial dari Universitas Airlangga (UNAIR) berjudul “Hubungan Antara Mikrobiota Usus dengan Keadaan Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)”.
Penelitian tersebut menemukan adanya hubungan antara gangguan mikrobiota usus dan kondisi ADHD pada anak. Namun, temuan mengenai hubungan tersebut tidak berarti bahwa gangguan mikrobiota usus secara langsung menyebabkan ADHD.
Sehingga, menjaga kesehatan saluran cerna tetap menjadi bagian penting dari upaya mendukung tumbuh kembang anak. Salah satunya dengan memastikan anak mendapatkan makanan beragam, bergizi seimbang, serta sumber serat dan makanan fermentasi yang sesuai dengan kebutuhan usianya ya, Moms.





