SURABAYA, KOMPAS - Kantor Pencarian dan Pertolongan Surabaya mengakhiri monitoring aktif terhadap KMP Mutiara Sentosa II di Laut Jawa. Tim SAR tidak menemukan indikasi keberadaan bahtera yang terbakar pada 2 Agustus lalu dan sejumlah korban lain yang tidak tercatat dalam manifes.
Monitoring aktif dihentikan pada Minggu (9/8/2026) atau hari kedelapan sejak insiden. Lokasi kebakaran feri roll on-roll off itu di Laut Jawa, sekitar 45 kilometer di utara Pantai Batu Putih, Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur.
Status monitoring aktif berlaku sejak Kamis (6/8/2026). Sebelumnya, berlaku status operasi SAR terhadap KMP Mutiara Sentosa II rute Surabaya-Makassar. Dari operasi SAR, dievakuasi 238 jiwa korban yang 5 jiwa di antaranya meninggal dunia.
Perubahan status operasi SAR menjadi monitoring aktif dilaksanakan setelah Tim SAR tidak lagi melihat bahtera milik PT Atosim Lampung Pelayaran itu di permukaan. Selain itu, berdasarkan hasil verifikasi bersama antara operator, nakhoda, otoritas (Kementerian Perhubungan), dan pencocokan data lapangan operasi SAR, diyakini bahwa semua korban telah dievakuasi.
Namun, ketika perubahan status menjadi monitoring aktif itu diberlakukan, Pos Komando SAR di Pelabuhan Tanjung Perak ternyata menerima pengaduan orang hilang. Ada keluarga yang meyakini bahwa kerabat mereka merupakan penumpang KMP Mutiara Sentosa II tetapi nasibnya belum diketahui.
Ada lima orang yang diduga kuat merupakan penumpang tetapi belum ditemukan. Ada Abdurahman, sopir truk logistik yang mana keluarga memiliki bukti foto kendaraan korban masuk kapal dan memiliki tiket. Gustam Sanusi, sopir truk ekspedisi asal Makassar yang bahkan mengirim video saat feri buatan Jepang pada 1992 itu terbakar. Juga ada Andi Herman, sopir truk logistik asal Surabaya; Abdul Hamid, sopir truk ekspedisi; dan Abdum Manan, juru masak yang sempat terekam video.
Menurut Kepala Kantor SAR Surabaya Nanang Sigit, untuk area monitoring aktif telah diperluas. Pengamatan dan pemeriksaan di laut oleh tim dengan KN SAR 249 Permadi dan RIB Pos SAR Sumenep sedangkan dari udara oleh tim dengan helikopter AW139 HR1301.
”Dengan tidak adanya tanda-tanda korban yang mungkin belum ditemukan, kami mengakhiri monitoring aktif,” ujar Nanang.
”Posisi kami saat ini menjadi standby (siaga) untuk kondisi kedaruratan lainnya,” kata Nanang.
Sebelumnya, Kepala BNPP (Basarnas) Marsekal Madya Mohammad Syafii menyatakan, 238 korban yang dievakuasi berhasil didata. Jumlah itu sesuai dengan hasil sinkronisasi bersama.
Namun, Syafii menegaskan, jika ada indikasi orang hilang dapat diyakini, operasi SAR bisa dibuka kembali. Dari evakuasi para korban kecelakaan laut itu, 110 jiwa selamat dan 2 jiwa meninggal dunia dievakuasi oleh MV Meratus Pematang Siantar, TB Hasnurs membawa 62 jiwa selamat, KRI Nala-363 membawa 30 jiwa selamat dan 2 jiwa meninggal dunia, KMP Mutiara Ferindo I mengevakuasi 8 jiwa selamat dan 1 jiwa meninggal dunia, MV Selaras Mas membawa 13 jiwa selamat, dan KN Permadi mengangkut 9 jiwa selamat.
Adapun keluarga salah satu korban belum ditemukan atas nama Abdurahman mengharapkan status keberadaannya. ”Saya dan keluarga mencoba ikhlas tetapi perlu mengetahui statusnya bagaimana,” ujar Munideh, istri Abdurahman, di Surabaya.
Menurut Munideh, bersama keluarga mendatangi kantor Atosim untuk memperjuangkan status Abdurahman sebagai penumpang dan meminta tanggung jawab operator tersebut. Alasan utama, Abdurahman merupakan tulang punggung ekonomi keluarga.
“Kami berharap ada bantuan biaya pendidikan dan santunan yang menjadi hak anak kami yang masih kecil,” kata Munideh. Perusahaan tempat Abdurahman bekerja telah memastikan pada Atosim bahwa korban terdaftar sebagai penumpang KMP Mutiara Sentosa 2, memiliki tiket resmi, tetapi nasibnya belum diketahui.
Dari sana, menurut Munideh, sang suami telah terkonfirmasi sesuai data, bukti, dan dokumen sebagai penumpang bahtera yang kebakaran itu. Atosim dinilai terbuka dalam penelusuran bersama sehingga dapat memastikan bahwa Abdurahman memang penumpang KMP Mutiara Sentosa 2 yang naas.
Keluarga meminta Kementerian Perhubungan dan Basarnas memperbarui data korban kecelakaan laut KMP Mutiara Sentosa 2 menjadi 239 jiwa dengan 1 jiwa berstatus belum ditemukan. Permintaan ini telah disampaikan secara resmi melalui Pos Komando SAR di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
”Kami berharap, operator dan instansi bisa memenuhi hak-hak korban yakni santunan bagi keluarga,” kata Munideh.
Di Jakarta, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan, penyelidikan kecelakaan laut masih dalam penanganan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Tim investigasi diharapkan menemukan sumber kebakaran dan penyebabnya.
Menurut Dudy, hasil investigasi diperlukan untuk mengevaluasi operator yakni Atosim. Perusahaan ini ternyata memiliki riwayat kurang baik dalam kecelakaan laut. ”Seingat saya sudah setidaknya tiga kali sehingga perlu audit menyeluruh untuk memastikan keselamatan pelayaran,” katanya.
Kapal-kapal yang dioperasikan oleh Atosim tercatat pernah kecelakaan laut di lintas Merak-Bakauheni dan Tanjung Wangi. Yang mengenaskan, KMP Mutiara Sentosa I pernah kebakaran di Laut Jawa, dekat Kepulauan Masalembu, Sumenep, 19 Mei 2017. Saat itu, bahtera mengangkut 197 penumpang, lebih banyak dari 187 jiwa yang tercatat dalam manifes, dan 5 jiwa dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia.





