HARIAN.FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Kegagalan Timnas Indonesia melangkah ke semifinal Piala AFF 2026 kembali membuka pertanyaan lama: ke mana sebenarnya arah proyek sepak bola nasional setelah kegagalan di turnamen regional tersebut?
Tim Garuda tersingkir setelah hanya bermain imbang 1-1 melawan Singapura dalam pertandingan terakhir Grup A di Stadion Jalan Besar, Jumat, 7 Agustus. Hasil itu membuat Indonesia mengakhiri fase grup di peringkat ketiga dengan koleksi tujuh poin. Vietnam menjadi juara grup dengan 10 poin, sedangkan Singapura berada di posisi kedua dengan delapan poin dan berhak melaju ke fase gugur.
Kegagalan tersebut terasa lebih berat karena Indonesia kembali mengulang hasil buruk pada turnamen yang sama. Untuk dua edisi secara beruntun, skuad Garuda gagal melewati fase grup. Piala AFF, yang selama ini menjadi salah satu tolok ukur kekuatan sepak bola Asia Tenggara, justru kembali menjadi panggung yang memperlihatkan sejumlah persoalan dalam permainan Indonesia.
Situasi ini kemudian membuat posisi John Herdman ikut menjadi sorotan. Pelatih asal Inggris itu datang dengan ekspektasi besar, termasuk membawa proyek jangka panjang Timnas Indonesia menuju Piala Dunia 2030. Karena itu, kegagalan di Piala AFF tidak hanya dilihat sebagai hasil buruk dalam satu turnamen, tetapi juga menjadi bahan untuk menguji sejauh mana fondasi proyek tersebut berjalan sesuai rencana.
PSSI tampaknya belum mengambil keputusan secara terburu-buru.
Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi mengatakan federasi akan melakukan evaluasi bersama tim kepelatihan Timnas Indonesia yang dipimpin Herdman. Evaluasi semula dijadwalkan berlangsung pada Senin malam, 10 Agustus. Namun, pertemuan itu harus ditunda karena Ketua Umum PSSI Erick Thohir memiliki agenda kementerian lain.
“Sebagaimana yang selalu dilakukan Ketua Umum, baik itu Timnas kita berprestasi maupun tidak, akan ada diskusi dan evaluasi dari semua event yang dilakukan, termasuk dengan Timnas yang AFF kemarin gagal,” ujar Yunus Nusi kepada wartawan, Senin.
Menurut Yunus, pertemuan dengan Herdman kemungkinan digelar dalam beberapa hari ke depan. Tidak ada indikasi bahwa PSSI akan langsung mengambil kesimpulan hanya berdasarkan hasil Piala AFF. Namun, evaluasi tersebut menjadi penting untuk mengukur kembali kinerja tim, termasuk strategi, pemilihan pemain, serta efektivitas program yang telah disusun.
Di titik inilah sikap PSSI akan menjadi perhatian. Jika proyek Herdman memang diarahkan untuk jangka panjang dan memiliki sasaran menuju Piala Dunia 2030, maka satu kegagalan di Piala AFF semestinya tidak otomatis menjadi alasan untuk mengubah seluruh rencana. Sebaliknya, hasil buruk juga tidak boleh dikesampingkan begitu saja dengan alasan proyek jangka panjang.
PSSI dituntut mampu membedakan antara kegagalan sebuah pertandingan dan kegagalan sebuah sistem.
Yunus Nusi sendiri meminta publik melihat performa Timnas Indonesia secara objektif. Menurut dia, para pemain telah memberikan kemampuan terbaik selama turnamen. Ia juga mengingatkan bahwa sebelum tampil di Piala AFF, Indonesia sempat meraih hasil positif pada FIFA Matchday Juni 2026.
Indonesia mampu mengalahkan Oman dan Mozambik, dua negara yang menurut Yunus memiliki peringkat FIFA lebih tinggi. Indonesia juga sempat menahan Bulgaria meski akhirnya kalah. Rentetan hasil tersebut, bagi PSSI, menunjukkan bahwa kualitas skuad Garuda tidak bisa diukur hanya dari kegagalan lolos ke semifinal Piala AFF.
“Ketika mereka menang dengan Oman, dengan Mozambik, juga sempat menahan Bulgaria walaupun juga kalah. Itu bagian dari prestasi yang telah mereka sumbangkan ke sepak bola Indonesia,” kata Yunus.
Ia menilai kemenangan atas Oman dan Mozambik memiliki arti tersendiri karena kedua tim tersebut berada di atas Indonesia dalam peringkat FIFA.
Namun, argumen tersebut tetap menyisakan persoalan. Prestasi dalam laga uji coba atau FIFA Matchday memang dapat menjadi indikator perkembangan tim, tetapi turnamen resmi menghadirkan tekanan dan persoalan yang berbeda. Konsistensi menjadi ukuran yang tidak kalah penting. Tim yang ingin membangun fondasi menuju Piala Dunia 2030 harus mampu menunjukkan perkembangan bukan hanya dalam pertandingan tertentu, melainkan dalam berbagai situasi dan kompetisi.
Karena itu, evaluasi terhadap Herdman seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah Indonesia gagal atau berhasil di Piala AFF. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah permainan tim menunjukkan kemajuan, apakah metode kepelatihan Herdman mulai membentuk identitas permainan, dan apakah komposisi pemain yang digunakan sudah sesuai dengan kebutuhan proyek jangka panjang.
PSSI juga menghadapi tantangan lain: menjaga agar kegagalan di lapangan tidak berubah menjadi tekanan berlebihan terhadap pemain.
Yunus secara terbuka meminta suporter dan pengguna media sosial tidak mencela pemain Timnas Indonesia. Menurut dia, para pemain tersebut merupakan aset penting untuk masa depan skuad Garuda.
“Hal yang penting bagi kami adalah kami berharap teman-teman suporter, netizen, untuk tidak mencela atau melakukan hal-hal yang negatif kepada pemain kita. Mereka ini aset kita di masa yang akan datang,” ujarnya.
Pesan tersebut penting karena kegagalan di Piala AFF kembali memperlihatkan tingginya ekspektasi terhadap Timnas Indonesia. Di satu sisi, tuntutan berprestasi merupakan hal wajar bagi tim nasional. Namun, kritik terhadap hasil semestinya tidak berubah menjadi serangan personal terhadap pemain.
Pada akhirnya, pekerjaan rumah terbesar berada di meja PSSI dan tim kepelatihan.
Kegagalan di Piala AFF 2026 tidak otomatis membuktikan bahwa proyek John Herdman menuju Piala Dunia 2030 gagal. Tetapi hasil itu juga memberikan sinyal bahwa ada bagian yang harus dievaluasi. PSSI perlu memastikan proyek jangka panjang tersebut memiliki ukuran keberhasilan yang jelas, bukan sekadar target besar yang sulit diuji.
Pertemuan antara Erick Thohir, Yunus Nusi, dan tim kepelatihan Herdman karena itu akan menjadi penting. Dari forum tersebut, publik berharap muncul jawaban mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Piala AFF, mengapa Indonesia gagal memanfaatkan peluang lolos, dan perubahan apa yang akan dilakukan setelahnya.
Jika PSSI tetap mempertahankan Herdman, keputusan itu harus disertai alasan yang terukur dan rencana perbaikan yang jelas. Sebaliknya, jika evaluasi menemukan persoalan mendasar dalam proyek tersebut, federasi juga harus berani mengambil keputusan.
Sebab, perjalanan menuju Piala Dunia 2030 masih panjang. Namun, justru karena masih panjang, setiap kegagalan semestinya menjadi bahan koreksi sejak dini. Piala AFF 2026 boleh saja berakhir tanpa tiket semifinal bagi Indonesia. Yang tidak boleh berakhir adalah proses evaluasinya.





