REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengungkapkan keberadaan tempat pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Jakarta di Rorotan, Jakarta Utara, masih belum bisa beroperasi maksimal. Hingga saat ini, baru sekitar 800 ton sampah yang diolah dari total kapasitas mencapai 2.500 ton per hari di RDF Rorotan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, jumlah sampah yang diolah di RDF Rorotan saat ini masih sekitar satu per tiga dari total kapasitas yang ada. Padahal, tiga line yang ada di RDF Rorotan dirancang untuk dapat mengolah sampah sekitar 2.200 hingga 2.400 ton per hari.
"Produksinya sendiri dari tiga line, yang sudah beroperasi penuh satu line, yaitu 800 ton per hari. Dan line kedua, ketiga sedang dalam persiapan," kata dia di RDF Rorotan, Senin (10/8/2026).
Menurut dia, salah satu masalah RDF Rorotan belum bisa digunakan maksimal adalah ketersediaan unit truk pengangkut sampah. Pasalnya, pengangkutan sampah ke RDF Rorotan tidak bisa menggunakan truk biasa, melainkan truk compactor. Karena itu, sampah yang dikirimkan ke RDF Rorotan masih terbatas.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Jadi sangat bergantung transportasinya, dan untuk itu saya sudah menginstruksikan semua truk sementara ini harus pakai yang compactor yang tidak ada pembuangan air lindinya, tidak berbau," kata dia.
Selain itu, Pramono mengungkapkan, permasalahan lain pengolahan sampah di RDF Rorotan adalah akses masuk tidak mudah. Karena itu, ia menginstruksikan Dinas Bina Marga untuk melakukan perbaikan jalan menuju RDF Rorotan.
"Saya sudah meminta kepada Dinas Bina Marga untuk menyelesaikan hal ini, pembebasan lahan sudah dilakukan. Kami segera untuk membangun jalan khusus untuk sarana transportasi menggunakan truk compactor yang menuju dari TPS 3R ke tempat ini," ujar Pramono.
Ketika seluruh masalah itu bisa diatasi, sampah yang bisa diangkut ke RDF Rorotan akan makin tinggi. Dengan begitu, RDF Rorotan bisa dioperasikan dengan maksimal sesuai kapasitasnya.
"Kalau memang bisa katakanlah sampah di sini setiap harinya bisa 2.000, maka tiga line itu akan kami operasikan secara bersama-sama. Kalau masih 1.000 pengiriman sampahnya, maka satu line, sekarang line yang satu ini rata-rata 800, kami akan gunakan line yang kedua untuk produksi antara 200-400 ton," kata Pramono.
Meski begitu, Pramono mengklaim, saat ini sudah tidak ada lagi keluhan warga terkait bau tidak sedap dari pengolahan sampah di RDF Rorotan. Pasalnya, Pemprov DKI Jakarta telah memperbaiki sistem pengolahan sampah di tempat itu agar tidak menimbulkan bau ke warga sekitar.