El Nino Berpotensi Tekan Pasokan dan Inflasi Pangan, Stok Beras jadi Andalan

katadata.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Fenomena El Nino yang memicu kekeringan berkepanjangan berpotensi menekan produksi sejumlah komoditas pangan strategis dan mendorong kenaikan inflasi pangan. Namun, kondisi itu dinilai masih dapat dikelola karena pemerintah memiliki cadangan beras yang jauh lebih besar dibandingkan saat El Nino 2023.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian mengatakan ancaman kekeringan pada 2026 perlu diwaspadai karena berlangsung lebih lama dan terjadi di sejumlah wilayah sentra produksi pangan, terutama Pulau Jawa. Selain Jawa, tekanan kekeringan juga terjadi di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan.

“Ancaman kekeringan 2026 terhadap ketahanan pangan kita ini harus diwaspadai dan dimitigasi dampaknya,” kata Eliza, kepada Katadata.co.id, Senin (10/8). 

Menurutnya, Jawa menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian karena merupakan sentra produksi sejumlah komoditas pangan strategis seperti beras, cabai, bawang merah, sayuran, hingga tebu.

Elza mengatakan risiko terbesar berada pada penurunan produktivitas lahan tadah hujan dan irigasi sekunder, khususnya di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Kondisi tersebut dapat menekan pasokan lokal sekaligus meningkatkan biaya produksi.

“Hal ini bisa menekan pasokan lokal, menaikkan biaya produksi, dan mendorong inflasi pangan jika tidak dimitigasi dengan menjamin ketersediaan air dan penyesuaian pola tanam,” ujarnya.

Kekeringan memengaruhi ketahanan pangan melalui penurunan curah hujan dan ketersediaan air irigasi. Kondisi ini dapat menekan produktivitas tanaman, terutama padi yang membutuhkan pasokan air cukup besar.

Di sisi lain, petani dapat mengandalkan pompanisasi untuk menjaga lahan tetap produktif. Namun, langkah tersebut menambah biaya produksi karena petani harus mengeluarkan biaya untuk bahan bakar.

Keterbatasan air juga dapat membuat luas lahan yang ditanami berkurang karena petani menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan air. Penurunan luas panen dan kenaikan biaya produksi kemudian berpotensi mendorong kenaikan harga gabah.

“Meski harga gabah tinggi, bagi petani untungnya tidak begitu besar karena biaya produksinya juga meningkat. Ini bisa menekan pendapatan riil rumah tangga petani,” kata Eliza.

Pasokan Turun, Inflasi Pangan Mengintai

Penurunan produksi dan pasokan lokal selanjutnya dapat mendorong kenaikan harga di tingkat produsen maupun konsumen. Risiko tersebut lebih besar pada komoditas yang permintaannya relatif tidak elastis, seperti beras, cabai, dan bawang.

Gangguan rantai pasok juga dapat memperbesar volatilitas harga, terutama jika disertai spekulasi di pasar.

Eliza memperingatkan inflasi pangan yang tidak terkendali akan semakin menekan daya beli rumah tangga miskin dan rentan. Kelompok tersebut memiliki proporsi pengeluaran untuk pangan yang lebih besar dibandingkan kelompok berpendapatan tinggi.

Jika kondisi berlanjut, pemerintah juga berpotensi menghadapi peningkatan kebutuhan subsidi dan bantuan sosial. Apabila stok domestik menipis, impor pangan dapat kembali diperlukan sehingga memberikan tambahan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan neraca perdagangan.

Meski demikian, Eliza menilai sistem pangan Indonesia saat ini memiliki bantalan yang lebih kuat dibandingkan saat menghadapi El Nino pada 2023.

Pemerintah saat ini memiliki Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sekitar 5,2 juta-5,4 juta ton. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan posisi CBP pada 2023 yang hanya sekitar 1,5 juta ton sehingga saat itu pemerintah perlu melakukan impor beras.

“Makanya jadi impor beras. Saat ini kita punya CBP yang tinggi sekitar 5,2-5,4 juta ton dan perbaikan infrastruktur air yang sudah berjalan meski belum masif,” kata Eliza.

Menurut dia, stok beras yang besar membuat risiko krisis pasokan masih dapat dikelola. CBP dapat digunakan sebagai bantalan untuk menjaga ketersediaan beras dan menahan gejolak harga melalui operasi pasar maupun bantuan pangan.

Namun, stok tersebut tidak serta-merta menghilangkan risiko. Jika El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif memperpanjang tekanan kekeringan hingga awal 2027, tekanan terhadap stok pangan dan APBN dapat meningkat.

“Jika El Niño dan IOD positif memperpanjang tekanan hingga awal 2027, tekanan pada stok dan APBN akan meningkat. Tetapi sistem pangan nasional saat ini setidaknya punya bantalan yang lebih kuat dibanding episode 2015 atau 2023,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Karhutla Meluas, 107.000 Hektare Lahan di Indonesia Terbakar
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Kabut Asap Tipis Menyelimuti Palembang, Begini Kondisi Penerbangan di Bandara SMB II
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Tragedi! Mobil Balap Tabrak Penonton, 8 Tewas, Kapolda Sulut Angkat Bicara | BERUT
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Dwi Kewarganegaraan atau Benahi Ekosistem Talenta?
• 17 jam lalukompas.com
thumb
BPBD Karawang Distribusikan 704 Ribu Liter Air ke Daerah Terdampak Kekeringan
• 15 menit lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.