Gus Miftah: Istana Hormati Muruah Ulama, Tak Intervensi Muktamar NU

jpnn.com
18 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Pedakwah Miftah Maulana Habiburrohman meminta pihak-pihak tertentu tidak mengatasnamakan Istana untuk kepentingan pemilihan Rais 'Aam maupun Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27–31 Agustus 2026.

Pengasuh Pesantren Ora Aji tersebut menilai Presiden tidak perlu melakukan intervensi dalam proses pemilihan kepemimpinan NU.

BACA JUGA: Gus Miftah, Gus Yusuf, dan KH Imam Jazuli Curi Perhatian Nahdliyin di PKMNU

Menurut Gus Miftah, sikap menjaga jarak dari proses internal organisasi merupakan bentuk penghormatan terhadap kedaulatan jam'iyah dan muruah para ulama.

"Orang yang mengatasnamakan Istana untuk memperoleh dukungan terhadap kandidat tertentu sebaiknya berhenti," kata Gus Miftah dalam tulisannya, Senin (10/8).

BACA JUGA: Viral! Gus Miftah Diserang Seusai Bela Pemerintah Presiden Prabowo

Dia menilai klaim mengenai adanya "restu Istana" atau "titipan Pusat" berpotensi menimbulkan persepsi adanya intervensi politik dalam Muktamar NU.

Miftah menyebut pemilihan Tambakberas sebagai lokasi Muktamar ke-35 memiliki makna historis bagi NU.

BACA JUGA: Ajakan Istigasah Dasco Direspons Gus Miftah dengan Doa Untuk Negeri

Menurut dia, kawasan tersebut merupakan bagian dari perjalanan pemikiran KH Abdul Wahab Chasbullah dalam mengembangkan gagasan keagamaan dan kebangsaan yang berakar dari tradisi pesantren.

Karena itu, dia berharap Muktamar NU dapat berlangsung dengan menjaga independensi organisasi dan tidak dibebani kepentingan politik praktis.

"Menghormati muruah ulama bukan dengan cara ikut mengatur mereka, melainkan dengan memberikan ruang kedaulatan penuh bagi para kiai untuk menentukan masa depan jam'iyahnya," ujarnya.

Menurut Miftah, NU memiliki posisi penting sebagai salah satu kekuatan masyarakat sipil di Indonesia. Ia menilai pemerintah perlu menempatkan NU sebagai mitra strategis dalam pembangunan tanpa mencampuri proses internal organisasi, termasuk dalam menentukan kepemimpinan.

Miftah juga mengingatkan agar Muktamar tidak berubah menjadi arena perebutan pengaruh politik.

Dia menilai pihak yang mengembuskan isu intervensi maupun mereka yang mengklaim membawa dukungan Istana sama-sama berpotensi mengganggu suasana Muktamar dan merusak kehormatan forum para ulama.

Dalam pandangannya, kepemimpinan NU semestinya didasarkan pada kapasitas, rekam jejak, dan semangat pengabdian.

Dia mengutip pesan KH Hasyim Asy'ari dalam kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim, "Man thalaba al-riyasata fadhahahu Allahu," yang dimaknainya sebagai peringatan terhadap ambisi mengejar jabatan kepemimpinan.

"Muktamar di Tambakberas harus menjadi panggung yang gembira, bersih dari transaksional, dan bermartabat," kata Miftah.

Dia berharap para kiai sepuh di jajaran Syuriyah dan para muktamirin yang membawa mandat dari akar rumput dapat menentukan arah kepemimpinan NU secara mandiri dan berdasarkan pertimbangan yang jernih. (jlo/jpnn)


Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK Buka Peluang Pemeriksaan Ridwan Kamil Menyusul Penahanan Tersangka Bank BJB
• 2 jam lalunarasi.tv
thumb
Editorial MI: Kaji sebelum Menaikkan Gaji
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
IMI Bakal Larang Drag Race di Jalan Umum, Perketat Pengawasan di Level Daerah
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
KPK Telisik Selisih USD2.000 pada Amplop Bupati Kuansing ke Raja Juli Antoni
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Rupiah Terseret Harga Minyak, Dibuka Melemah ke Rp17.803 per Dolar AS
• 8 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.