BEKASI, KOMPAS.com – Puluhan replika kelelawar tampak bergelantungan di salah satu sudut lantai tiga Museum Gedung Juang Bekasi, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Replika tersebut bukan sekadar dekorasi. Keberadaannya mengingatkan pengunjung pada masa ketika Gedung Juang dikenal sebagai bangunan yang dihuni banyak kelelawar.
Kini, wajah Gedung Juang telah berubah. Bangunan bersejarah itu telah direvitalisasi dan dialihfungsikan menjadi Museum Bekasi dengan konsep yang lebih modern.
Sekretaris Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Bekasi Tina Karini Suciati mengatakan, keberadaan kelelawar merupakan salah satu ciri yang melekat dalam ingatan masyarakat terhadap Gedung Juang.
"Dulu banyak kelelawar di sini. Jadi, orang sering mengingatnya sebagai bangunan kelelawar atau 'bangunan Batman'," kata Tina kepada Kompas.com, Senin (10/8/2026).
Baca juga: Gedung Juang Bekasi Bertransformasi, Sejarah Disajikan Lewat AR Wall hingga Mini Bioskop
Selain dikenal sebagai bangunan peninggalan Belanda, Gedung Juang juga dikenal sebagai bangunan yang tinggi dan megah.
Namun, kondisi tersebut kini telah berubah setelah dilakukan revitalisasi.
KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA Instalasi berbentuk kawanan kelelawar menghiasi salah satu ruangan di Museum Gedung Juang, Kabupaten Bekasi, Selasa (4/8/2026). Kelelawar menjadi salah satu gambaran yang lekat dengan Gedung Juang karena tempat itu sempat dikenal masyarakat sebagai bangunan Batman.
Gedung yang sebelumnya kurang dimanfaatkan kini menjadi ruang edukasi sejarah bagi masyarakat.
"Sekarang sudah bersih, walaupun masih ada sedikit bau pipis kelelawar," ujar Tina.
Replika kelelawar yang ditempatkan di lantai tiga menjadi cara museum untuk mengabadikan cerita tersebut.
Kawanan replika kelelawar dibuat seolah-olah memenuhi bagian atas ruangan.
Sebagian lainnya ditempatkan dalam sebuah etalase kaca.
Baca juga: Jejak Gedung Juang: Bangunan Kolonial yang Jadi Saksi Sejarah Panjang Bekasi
Dengan demikian, kisah tentang kelelawar yang dahulu menghuni Gedung Juang tidak berhenti sebagai cerita dari masyarakat, tetapi dihadirkan kembali sebagai bagian dari pengalaman pengunjung.
Sebagai informasi, perubahan Gedung Juang tidak hanya terlihat dari kondisi bangunannya.