Harga Emas Naik ke Level Tertinggi 9 Pekan, Investor Nantikan Data Inflasi AS

idxchannel.com
1 jam lalu
Cover Berita

Harga emas dunia menguat ke level tertinggi dalam 9 pekan pada Senin (10/8/2026), didorong momentum bullish dan fear of missing out (FOMO).

Harga Emas Naik ke Level Tertinggi 9 Pekan, Investor Nantikan Data Inflasi AS. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga emas dunia menguat ke level tertinggi dalam 9 pekan pada Senin (10/8/2026), didorong momentum bullish dan kekhawatiran investor tertinggal dari kenaikan harga atau fear of missing out (FOMO).

Pelaku pasar kini menantikan data inflasi Amerika Serikat (AS) untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Baca Juga:
Sektor Properti: Laba Kuartal II-2026 Tertekan, Penjualan Sesuai Target

Harga emas spot naik 1,11 persen menjadi USD4.390.23 per troy ons. Harga emas sempat menyentuh level tertinggi sejak 5 Juni pada perdagangan Senin.

Kenaikan tersebut melanjutkan penguatan 2,4 persen pada Jumat (7/8) pekan lalu, setelah data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan penurunan tidak terduga pada jumlah tenaga kerja nonpertanian atau nonfarm payrolls (NFP) pada Juli.

Baca Juga:
IHSG Hari Ini Masih Berpeluang Menguat, Simak Analisa 4 Saham Berikut

"Momentum teknikal emas saat ini cukup kuat secara keseluruhan," ujar Bob Haberkorn, senior market strategist di StoneX, dikutip Reuters.

Menurutnya, perdagangan berlangsung hati-hati karena investor mencermati pembelian emas oleh China serta rilis data inflasi konsumen (consumer price index/CPI) dan inflasi produsen (producer price index/PPI) AS pada pekan ini.

Baca Juga:
BEI Bakal Tampilkan Status Afiliasi Pemegang Saham di Atas 1 Persen

Kondisi tersebut juga dipengaruhi kekhawatiran investor tertinggal dari potensi kenaikan harga emas kembali menembus USD4.500.

Bank sentral China meningkatkan pembelian emas pada Juli. Berdasarkan data resmi yang dirilis pekan lalu, penambahan cadangan emas tersebut menjadi yang terbesar sejak Oktober 2023.

Investor kini menantikan data CPI AS yang akan dirilis pada Rabu (12/8) dan PPI pada Kamis (13/8). Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan CPI Juli meningkat 3,4 persen secara tahunan, melambat dari 3,5 persen pada Juni.

"Data CPI akan menjadi penting. Inflasi mulai sedikit mereda, sementara pasar memperkirakan data yang tidak menunjukkan tekanan inflasi terlalu tinggi. Kondisi ini akan membuat harga emas cenderung bergerak sideways hingga menguat dalam jangka pendek," kata analis pasar di American Gold Exchange, Jim Wyckoff.

Di pasar suku bunga, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed mencapai 52 persen pada September dan 81 persen pada Desember, berdasarkan CME FedWatch Tool.

Emas umumnya kurang menarik dalam lingkungan suku bunga tinggi karena aset ini tidak memberikan imbal hasil.

Sementara itu, Iran menyatakan hampir mencapai kesepakatan final dengan Oman terkait penetapan jalur pelayaran baru melalui Selat Hormuz.

Namun, Iran kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat harus memenuhi sejumlah persyaratan lain sebelum jalur strategis tersebut dibuka kembali. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ariana Grande Puncaki Billboard 200 Lewat “Petal”, Samai Rekor Tujuh Album Nomor 1
• 4 jam lalupantau.com
thumb
Iran: Negara Timur Tengah Akhirnya Sadar, Jaminan Keamanan Amerika Serikat Tak Bisa Diandalkan
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
DEWA Cetak Laba Rp354 Miliar Semester I, Ditopang Kenaikan Nilai Investasi
• 1 jam laluidxchannel.com
thumb
Cherrypop 2026 Rayakan Lima Tahun dengan Repelita Musik di Candi Prambanan
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Ada Upacara Penutupan Pendidikan di Rindam Jaya Pagi ini, Pengendara Diimbau Hindari Jalan Raya Condet
• 7 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.