Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali melesat di tengah kenaikan harga minyak dan kekhawatiran pasokan.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Senin (10/8/2026) melonjak 3,48% ke US$ 134 per ton. Kenaikan harga ini berbanding terbalik dengan pelemahan 0,19% pada Jumat pekan lalu.
Harga batu bara menguat ditopang minyak dan terganggunya pasokan.
Harga minyak melonjak sekitar 5% pada Senin karena keraguan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran akan mencapai kesepakatan untuk membuka kembali lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Harga WTI ditutup US$82,13/barel, sementara Brent US$87,72/barel.
Minyak dan batu bara adalah komoditas yang saling substitusi sehingga harganya memengaruhi.
Harga batu bara kokas China kembali mendapat angin segar di tengah pasokan tambang yang ketat dan stok yang menurun. Aktivitas lelang yang membaik serta terbatasnya pengiriman dari tambang turut mengangkat sentimen pasar.
Sejumlah indikator juga menunjukkan perbaikan sentimen pasar, terutama dari lelang daring, stok yang rendah, serta pengiriman batu bara dari tambang yang relatif ketat.
Namun, kenaikan harga belum sepenuhnya solid. Margin industri hilir yang masih lemah menjadi penghambat bagi permintaan dan berpotensi membatasi ruang penguatan harga.
Di sisi pasokan, sejumlah tambang China masih menghadapi gangguan produksi. Sxcoal sebelumnya mencatat harga coking coal China mulai menguat karena pasokan ketat akibat penghentian sementara sejumlah tambang, sementara sebagian konsumen hilir mulai melakukan pengisian kembali stok.
Dari India dilaporkan, hujan deras di wilayah penghasil batu bara India, termasuk Telangana dan Maharashtra, mengganggu aktivitas pertambangan dan transportasi kereta api. Kondisi ini menyebabkan pasokan batu bara ke Karnataka turun drastis.
Jumlah kereta pengangkut batu bara yang masuk ke Karnataka anjlok dari sekitar 11 kereta per hari dalam kondisi normal menjadi hanya 5-6 kereta per hari. Akibatnya, pengiriman batu bara ke pembangkit listrik melambat signifikan.
Di sisi lain, permintaan listrik Karnataka masih tinggi, mendekati 300 juta unit per hari. Produksi listrik tenaga air juga belum sepenuhnya pulih sehingga ketergantungan negara bagian tersebut terhadap pembangkit batu bara masih tinggi.
Jika hujan deras dan gangguan jalur kereta berlanjut, stok batu bara di pembangkit berpotensi menurun, sehingga kebutuhan pengisian kembali meningkat. Kondisi ini berpotensi mendorong permintaan dan harga batu bara termal di pasar spot regional.
Namun, untuk saat ini stok batu bara di pembangkit Karnataka masih mencukupi, sehingga risiko kekurangan bahan bakar dalam waktu dekat masih relatif terbatas.
(mae/mae)




