El Nino Berpotensi Picu Krisis Air, Akademisi UGM Ajak Masyarakat Panen Air Hujan

kompas.tv
7 jam lalu
Cover Berita
BMKG prediksi akhir April 2026 hujan menurun, El Nino mulai menguat, jadi sinyal awal musim kemarau di Indonesia. (Sumber: BMKG.go.id)

YOGYAKARTA, KOMPAS.TV - Ancaman El Niño kuat yang beriringan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif mulai membayangi Indonesia. Fenomena iklim tersebut berpotensi mengurangi curah hujan dan memperpanjang musim kemarau, sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan persoalan ketersediaan air.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai El Niño pada 2026 berpotensi berkembang menjadi kategori kuat. Bahkan, peluang fenomena tersebut meningkat menjadi kategori amat kuat diperkirakan mencapai 75 persen pada periode Agustus hingga Oktober.

Akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), Emilya Nurjani, mengatakan El Niño dan IOD positif merupakan fenomena iklim berskala regional hingga global yang dapat memengaruhi distribusi curah hujan di Indonesia.

Menurutnya, El Niño berkaitan dengan perubahan suhu muka laut di wilayah Pasifik tropis, sedangkan IOD positif berkaitan dengan perbedaan suhu muka laut antara bagian barat dan timur Samudra Hindia.

Baca Juga: Fokus Penanganan Karhutla di 6 Provinsi, Menko Polkam: El Nino Terkuat Picu Kemarau Panjang

“Kedua fenomena ini memberi dampak berkurangnya curah hujan di wilayah Indonesia. Ketika kedua fenomena tersebut berkembang secara bersamaan, maka efeknya dapat saling memperkuat dalam mengurangi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia,” kata Emilya, dikutip dari laman resmi UGM, Selasa (11/8/2026).

Menghadapi potensi kekeringan yang dapat berlangsung hingga awal 2027, Emilya mendorong perubahan pendekatan dalam menghadapi risiko kekeringan.

Pemerintah dan masyarakat perlu mengutamakan langkah antisipasi berbasis informasi iklim, bukan hanya merespons setelah kekeringan terjadi.

Menurutnya, informasi iklim dapat dimanfaatkan untuk menyesuaikan kalender dan pola tanam, memilih komoditas atau varietas yang lebih tahan terhadap kekeringan, mengatur distribusi air irigasi, hingga menyiapkan cadangan air bagi masyarakat dan sektor pertanian.

“Pada saat kondisi kekeringan yang sangat panjang, maka yang perlu dilakukan adalah mengubah pendekatan dari respons setelah terjadi kekeringan menjadi antisipasi berbasis informasi iklim,” tuturnya.

Di tingkat daerah, pemerintah juga perlu memperkuat infrastruktur penyimpanan air seperti waduk, kolam retensi, serta sistem pemanenan air hujan. Langkah tersebut dapat membantu meningkatkan cadangan air ketika periode hujan masih tersedia.

Upaya penyimpanan air juga perlu dibarengi dengan perlindungan daerah tangkapan air dalam jangka panjang. Selain itu, pemetaan risiko berbasis wilayah diperlukan agar kebijakan dan intervensi dapat disesuaikan dengan karakteristik serta tingkat kerentanan masing-masing daerah.

Baca Juga: El Nino 2026 Masuk Kategori Kuat, Ada 8 Dampaknya untuk Indonesia

Emilya menegaskan, menghadapi potensi El Niño tidak cukup dilakukan ketika kekeringan telah terjadi. Informasi iklim perlu dimanfaatkan sejak awal untuk menyiapkan cadangan air dan mengurangi dampak yang mungkin muncul.

Penulis : Switzy Sabandar Editor : Tito-Dirhantoro

Sumber : Kompas TV

Tag
  • El nino
  • El nino picu krisis air
  • Krisis air
  • UGM
Selengkapnya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penjelasan KPK soal Sisa Uang Amplop Bupati Kuansing untuk Menhut
• 11 jam laluliputan6.com
thumb
Kapolda Jabar Minta Pelaku Begal dan Curanmor di Bandung Disikat Habis
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Mukanya Bikin Pangling, Ternyata Segini Usia Titi DJ Sekarang
• 13 jam laluviva.co.id
thumb
Ratusan Senjata Ditemukan di Sekolah Jaksel, Abdul Mu’ti: Sekolah Harus Jadi Rumah Kedua Anak-anak
• 11 jam laludisway.id
thumb
Tenggat Terlewat, Pemda yang Tak Serius Benahi Open Dumping Terancam Sanksi
• 23 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.