Grid.id - Seorang pria di Kuningan bunuh ibu kandungnya sendiri. Apa penyebab peristiwa tersebut?
Tragedi pembunuhan kembali terjadi. Kali ini, seorang pria di Kuningan, Jawa Barat tega membunuh ibu kandungnya sendiri.
Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (8/8/2026) lalu. Melansir Kompas dan Tribun Jabar, kasus ini bermula dari ditemukannya jasad seorang wanita lansia di dasar sumur di Desa Wanasaraya, Kecamatan Kalimanggis, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Saat itu, R yang berusia 77 tahun ditemukan tewas usai dicari sejak pagi oleh anggota keluarganya.
"Sekitar pukul 05.00 WIB, saksi mencari keberadaan korban di rumah karena khawatir terjadi sesuatu. Namun, ketika dicari, korban tidak ditemukan," kata Kapolsek Cidahu, AKP Amdan Saleh.
Saat dicari, keluarga kaget karena ada bercak darah di dapur. Setelah ditelusuri, ternyata bercak itu mengarah ke sumur yang letaknya tepat berada di belakang rumah.
Di dalam sumur itu, R tergeletak dalam kondisi terjungkal. Posisi kepala R berada di bawah air sementara kakinya mengapung.
Menantu dan anak korban pun berteriak histeris. Mereka mengevakuasi R dan membawanya ke puskesmas terdekat namun korban sudah meninggal dunia.
Dalam waktu kurang dari 24 jam, pelaku yang membunuh R akhirnya ditemukan. Ialah T (37) yang ternyata menghabisi ibu kandungnya sendiri.
T ternyata emosi karena dibangunkan sang ibu untuk salat subuh. Setelah itu, T pun mengambil palu dan memukul sang ibu yang sudah berusia lanjut.
Korban pun tak berdaya. T kemudian menggotong ibunya dan memasukkan ke dalam sumur sampai akhirnya meninggal dunia.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan, korban mengalami luka di bagian kepala, akibat pukulan benda tumpul tersebut, korban juga dinyatakan sudah meninggal dunia saat ditemukan anggota keluarganya di sumur," kata Kapolres Kuningan AKBP Bellen Anggara Pratama.
Setelah melakukan aksinya itu, T melarikan diri ke rumah istrinya yang berada di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Menurut pemeriksaan dan hasil keterangan Kurnia yang merupakan menantu korban, T mengalami depresi berat karena sering dicemooh masyarakat sekitar.
T mengalami hal tersebut lantaran ia sudah lama menikah namun belum memiliki anak. Pihak keluarga pun sudah berusaha untuk mengobati gangguan mental pelaku ke Jawa Tengah.
"Pelaku ini mengalami turun mental, kadang nurut tapi suka berontak. Depresi ini muncul diduga akibat sering mendapat penilaian miring karena sudah lama menikah tapi belum memiliki anak," ujar Kurnia saat ditemui di lokasi kejadian, Senin (10/8/2026).
Meskipun begitu, hingga kini kondisi gangguan mental T ini masih diselidiki polisi. Dalam hasil pemeriksaan, polisi mengamankan sejumlah barang bukti seperti palu, baju korban dan juga keterangan saksi lain.
"Barang bukti yang ditemukan yaitu alat yang digunakan untuk memukul korban, baju korban, lalu ada saksi-saksi yang melihat. Dari visum juga kita ada, dari ahli juga," tambah Bellen.
T terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara atas pembunuhan tersebut. (*)
Artikel Asli




