HARIAN.FAJAR.CO.ID, TANA TORAJA – Kemarau ekstrem yang melanda Tana Toraja dan Toraja Utara, Sulawesi Selatan, mulai mengancam aktivitas pertanian warga.
Minimnya pasokan air membuat sejumlah lahan persawahan kesulitan mendapatkan air untuk proses tanam maupun pertumbuhan tanaman padi.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan petani mengalami gagal tanam hingga gagal panen jika kekeringan terus berlangsung.
Situasi ini dirasakan petani di sejumlah wilayah Toraja pada Selasa (11/8/2026).
Wilman (42), warga Tana Toraja, mengatakan kekeringan membuat petani kesulitan kembali menanam padi setelah menyelesaikan masa tanam sebelumnya.
Menurut dia, sebagian sawah bahkan sudah ditanami, tetapi tanaman padi terancam tidak menghasilkan panen maksimal akibat keterbatasan air.
“Jadi di sini ada beberapa kasus, mulai dari sawah yang sudah selesai menanam dan ingin menanam kembali, namun belum bisa karena air tidak ada. Kasus kedua, ada padi yang sementara tumbuh di sawah, tetapi terancam gagal panen karena kesulitan air,” kata Wilman.
Ia berharap pemerintah daerah maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan segera memberikan bantuan untuk mengatasi keterbatasan air yang dialami petani.
Wilman menilai, jika kondisi tersebut terus berlanjut tanpa intervensi pemerintah, masyarakat akan semakin kesulitan mempertahankan aktivitas pertanian.
Kondisi serupa juga dirasakan Rian (49), petani asal Toraja Utara. Ia menyebut minimnya pasokan air mulai mengancam hasil panen sawah miliknya.
“Ini baru akhir-akhir ini mengalami kekeringan. Semoga cepat turun hujan. Walaupun di beberapa tempat, aliran air termasuk sungai mengalami penurunan debit, setidaknya ada usaha untuk dialiri,” ujar Rian.
Rian juga berharap pemerintah memberikan bantuan pompa air. Menurutnya, sejumlah pompa milik warga mengalami kerusakan sehingga tidak dapat digunakan secara optimal.
“Kami berharap ada bantuan pompa air, karena beberapa pompa air milik warga juga sudah rusak,” tuturnya.
Sebagian besar persawahan di wilayah Toraja merupakan sawah tadah hujan. Kondisi tersebut membuat aktivitas pertanian sangat bergantung pada ketersediaan air hujan.
Selain mengandalkan curah hujan, sebagian petani memanfaatkan mata air dan jaringan irigasi untuk memenuhi kebutuhan air di lahan pertanian.
Keterbatasan sumber air menjadi persoalan serius ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang. Penurunan debit sejumlah aliran sungai dan sumber air turut mempersempit pilihan petani untuk mengairi sawah.
Secara lebih luas, fenomena El Niño dengan kategori kuat hingga sangat kuat disebut dapat memperpanjang periode kemarau dan berdampak terhadap berbagai sektor di Indonesia.
Dampaknya antara lain berupa penurunan curah hujan, berkurangnya ketersediaan air, meningkatnya risiko gagal panen, serta bertambahnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kondisi panas dan kering juga dapat meningkatkan risiko kekeringan pada lahan pertanian dan memperbesar kebutuhan masyarakat terhadap sumber air.
Bagi petani Toraja, ketersediaan air menjadi faktor penting untuk memastikan proses tanam dan pertumbuhan padi tetap berlangsung hingga masa panen. (edy)





