Indonesia meningkatkan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas dengan mengerahkan armada udara dan operasi modifikasi cuaca untuk memicu hujan.
Langkah tersebut dilakukan di tengah musim kemarau yang diperkirakan lebih panjang dan parah akibat pengaruh El Nino, yang meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran, dan penurunan kualitas udara.
Data Kementerian Kehutanan mencatat sebanyak 107.465 hektare lahan terbakar sepanjang Januari hingga Juni 2026, atau meningkat sekitar 110 persen dibandingkan periode yang sama pada 2023 ketika El Nino terakhir melanda Indonesia.
Dikutip dari Reuters, Kepala Menteri Keamanan Djamari Chaniago mengatakan pemerintah berada dalam kondisi siaga karena cuaca saat ini dapat memperbesar potensi kebakaran. Ia juga menyebut terdapat indikasi El Nino telah mencapai tingkat intensitas tertingginya di Indonesia.
Enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan karhutla yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Dampak kabut asap juga mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Di Pontianak, Kalimantan Barat, kegiatan belajar mengajar bagi seluruh siswa dialihkan secara daring setelah kualitas udara mengalami penurunan akibat kabut asap.
Kondisi serupa turut dirasakan di negara bagian Sarawak, Malaysia, yang berbatasan langsung dengan Kalimantan. Pada Selasa (11/8/2026), sebanyak 11 wilayah di Sarawak mencatat kualitas udara pada kategori tidak sehat





